PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Arti Persahabatan


__ADS_3

Safira duduk termenung di ranjang milik Lutfi. Sedangkan Lutfi termenung di bawah sisi ranjang. Sambil menekuk kakinya.


Keduanya sama-sama bingung dengan apa yang terjadi pada mereka saat ini.


"Apa kita kabur aja, Ra!" ajak Lutfi tiba-tiba.


"Kabur ke mana? Bagaimana dengan putrimu!" jawab Safira ketus.


"Ya Tuhan! Kenapa aku nggak mikir sampai sana?" gerutu Lutfi kesal.


"Kan aku sudah bilang kalo kamu bodoh. Bodoh ya bodoh aja!" Safira kembali menangis pilu.


"Kamu selalu bilang aku bodoh. Lalu kamu apa? Kamu lebih bodoh dariku?" balas Lutfi tak mau kalah.


"Di mana letak kebodohanku hah? Salah, kalau aku mau jengguk temanku yang sakit, ha. Warga sini aja yang anarkis kebanyakan aturan! Aneh! " balas Safira dengan nada tinggi seperti biasa.


"Berteman? Siapa temanmu?" tanya Lutfi bingung.


"Kan, aku kan dah bilang berkali-kali kalo kamu tu bodoh. Tentu saja temanku itu ya Naya. Bodoh memang kamu!" jawab Safira, darah wanita ini kembali mendidik sempurna. Ingin rasanya memaki setiap orang yang dia lihat. Termasuk Lutfi.


Lutfi yang tak terima dengan umpatan arogan Safira tentu saja langsung bangkit dan mendekati wanita itu. Dengan penuh emosi ia pun langsung meraih kepala Safira dan memaksa mencium wanita itu, agar wanita itu diam dan tak berani mengumpatinya lagi.


Sayangnya, orang-orang yang mendengar pertengkaran sengit mereka pun penasaran. Akhirnya rasa penasaran itu membawa mereka untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan para orang-orang yang penasaran tersebut, tentu saja kembali tercengang. Sebab, dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat Lutfi dan Safira berciuman.


"Seperti ini tidak mau mengaku kalo mereka pasangan pezina. Sungguh ironis sekali!" ucap salah satu dari mereka. Geram.


"Untung sudah mau dikawiankan. Kalo nggak udah kami telanjangi kalian!" ucap salah satu dari mereka. Mulai tak bisa manahan diri menahan kekesalan yang ada di hatinya saat ini.


"Tidak, tidak, ini bukan seperti yang kalian pikirkan!" jawab Safira masih mencoba membela diri.


"Tidak apanya yang tidak? Ini adalah bukti bahwa kalian memang pasangan mesum!" jawab pria berbaju kotak-kotak itu sembari menunjukkan foto hasil jepretannya barusan.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Hapus nggak. Akan ku tuntut kalian!" teriak Safira marah.


Namun tidak dengan Lutfi, pria ini bersikap tenang. Setenang amarah yang ia simpan di dalam batinnya.


"Terserah kalian mau apa? Kalau mau menikahkan kami, nikahkan saja. Aku tak akan kabur. Aku siap!" jawab Lutfi tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Tentu saja, Safira semakin marah. Dipukulnya pria itu kuat-kuat dengan bantal yang ia pegang. Bagi Safira keputusan yang dibuat Lutfi sangat merugikannya.


"Semakin kamu marah! Aku pastikan, aku bakalan semakin semangat membuat darahmu naik. Lihat saja, kalo kamu nggak mau diam dan tenang. Saat ini juga, aku akan lakukan apa yang para warga tuduhkan. Biar kalian semua puas mengumpatiku!" ancam Lutfi kesal.


Safira pun membalas tatapan itu dengan tatapan ingin mencakar wajah serius pria yang kini berada tepat di depan matanya. Andai dia berani.


***


Di sisi lain, Stella dan Vita terkejut dengan kabar yang mereka terima. Safira mengirimkannya sebuah pesan teks yang mengatakan meminta bantuan Vita untuk mencarikannya pengacara.


Safira juga menceritakan kasus yang kini dihadapinya dengan jelas dan gamblang. Sehingga memudahkan Vita untuk mencari bantuan.


"Gimana, nih Kak? Ke mana kita cari pengacara untuk membela kasus Fira?" tanya Vita gugup.


"Coba tanya abangmu! Kamu kan tahu Kakak di sini juga nggak tahu apa-apa!" jawab Stella jujur.


"Yang jadi masalah, orang tua Safira beserta abangnya nggak percaya kalo Fira nggak melakukan apa yang warga tuduhkan. Mereka malah mau Fira menikah dengan sopir pribadi bapaknya. Ini kan aneh Kak!" ucap Vita lagi.


Stella diam. Sebab ia pun nggak punya ide apa lagi solusi untuk masalah ini.


"Bagaimana ya? Sebenarnya orang tua Fira kan orang kaya. Mereka pasti banyak kenalan kalo cuma pengacara. Tapi, mereka malah menuduh Fira melakukan tindakan itu dan meminta Fira bertanggungjawab atas perbuatan yang warga tuduhkan. Begitu kan? Ini rumit Vit!" jawab Stella.


"Bang Zein juga, masak nggak bela adiknya sih!" gerutu Vita kesal.


"Mungkin mereka menilai si sopir ini baik kali, Vit. Makanya menjebak Fira dengan cara ini," jawab Stella spontan.

__ADS_1


Mendengar ucapan sang kakak yang menurutnya masuk akal itu, tentu saja sukses membuat Vita berpikiran sama.


"Bisa jadi, Kak! Tapi, Vita sama pria itu berantem terus tahu, Kak. Pokoknya, mereka itu kayak tom n jerry!" jawab Vita, masih tak habis pikir.


"Waduh! Kalo begitu, apa kebaikan yang terlihat dari hubungan salah paham ini? Ah sudahlah, sebaiknya kamu dateng saja ke lokasi. Coba tenangkan Fira. Dia lagi butuh kamu tu!" ucap Stella memberi saran.


"Apa sebaiknya begitu ya, Kak. Ya udah deh, Vita ke sana. Tapi boleh nggak pinjam mobilnya?" Vita beranjak dari duduknya untuk mengambil tas miliknya.


"Iya, pakek aja. Kamu tadi udah izin Luis, kalo nggak jadi berangkat?" Stella segera mencarikan kunci mobil miliknya.


"Sudah, si babang udah tahu. Katanya Nggak pa-pa. Di suruh berangkat besok aja. Dia juga ada rapat hari ini. Jadi nggak bisa jemput juga," jawab Vita apa adanya.


"Luis ni pekerja keras. Jadi semalam, pas habis nganter kamu dia langsung terbang ke Bali. Astaga! Nggak capek apa tu badan?" Stella geleng-geleng kepala heran.


"Entahlah tu orang. Vita udah bilangin kerjanya jangan ngoyo-ngoyo, dia jawabnya, biar anak kita bisa sekolah tinggi. Astaga! Nikah aja belum, udah mikirin anak. Babang babang!" Vita terkekeh.


"Itu baru namanya laki-laki. Calon imam. Calon bapak yang baik. Bersyukur lah kamu bisa dapet suami kek Luis tu!" balas Stella ringan.


"Semoga apa yang kita pikirkan adalah benar, Kak. Dah ah, Vita jalan dulu ya. Makasih buat mobilnya. Nanti kalo dia emang beneran butuh pengacara, Kakak tolong hubungi abang ya. Tolong bilang kalo Vita butuh pengacara. Vita agak sedikit nggak enak kalo ngomong langsung ama abang!" pinta Vita sembari terkekeh.


"Iya, oke. Udah sana jalan. Hati-hati ya!" ucap Stella. Vita tersenyum.


Setelah berpamitan dengan Stella, Vita pun masuk ke kamar sang ibunda. Mencium dan meminta doa wanita itu. Supaya mendoakan keselamatannya.


Vita selalu melakukan itu ketika dia mau keluar rumah. Pun dengan Stella. Karena meskipun Anti tidak mau berbicara, tapi mereka berdua yakin, jika hati wanita itu merespon setiap kata yang mereka berdua ucapkan.


Bersambung...


Makasih buat like komen n Votenya ya...


Yuk siap-siap kondangan. Pakek baju terbaik kalian🥰🥰🥰

__ADS_1


Jangan Lupa kunjungi karya saya yang berjudul Ketulusan Hati Istri Kedua, nantikan Giveaway dari saya🥰🥰🥰Stay tune 😘😘😘


__ADS_2