
Juan lebih berhati-hati menghadapi Stella. Pada kenyataannya Stella masih membenci Zein. Tidak menginginkan keluarganya berhubungan dengan pria tersebut. Apa lagi berhubungan secara emosional. Secara hati. Stella tidak menginginkan itu. Dan Juan paham, mengapa istrinya jadi selekeh itu. Pada dasarnya Stella masih memiliki rasa sakit di hatinya. Yang saat ini masih tersisa di sudut hati wanita tersebut.
Setelah hampir tiga puluh menit mereka berkendara. Akhirnya Juan dan Stella pun sampai di rumah sakit di mana Zein di rawat.
"Yuk Mam turun!" ajak Juan. Stella masih diam. Entah mengapa wanita cantik ini merasakan sesuatu yang kurang nyaman. Entah itu karena pembahasan dengan suami atau ada masalah lain. Entahlah, Stella hanya merasa kurang nyaman saja.
"Ya," jawab Stella malas.
Juan masih berusaha bersikap sabar. Mencoba mengerti suasana hati sang istri.
Kini mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit menuju kamar di mana Zein dirawat. Juan begitu hati-hati memperlakukan Stella. Dia begitu siaga menjaga Stella.
Sesampainya di depan ruangan tersebut, Stella di kejutkan dengan kehadiran dua sahabatnya. Yang di katakan Vita benar. Ternyata di sana sudah ada Rehan dan Renata. Renata sengaja datang karena ia ingin bertemu dengan Stella.
"Haayyy!" seru Renata ketika melihat Stella berjalan ke arahnya.
Begitupun dengan Stella, wanita cantik itu pun mempercepat langkahnya. Untuk menyambut sang sahabat yang telah lama tidak bertemu.
"Emmm, kangen!" ucap Renata.
"Aku juga!" jawab Stella.
Sedangkan Juan dan Rehan hanya menggaruk alis mereka yang tak gatal. Tak ada alasan bagi mereka berdua untuk menghalangi dua sahabat itu untuk kangen-kangenan. Mereka berdua pun memilih untuk membahas kesehatan Zein.
"Ada kabar terbaru nggak?" tanya Juan.
__ADS_1
"Siang tadi sempat drop lagi, Jun. Vita sempat nangis histeris. Terpaksa aku sama Renata ke sini," jawab Rehan jujur.
Juan menatap Rehan. Rasa curiga yang sempat ia rasakan. Kini menyeruak lagi dalam ingatan Juan. Pria ini bertambah yakin jika Vita memiliki rasa pada Zein. Rasa seorang wanita dewasa kepada lawan jenis tentunya.
"Kamu kenapa Jun?" tanya Rehan curiga.
"Ah nggak! Aku cuma lagi mikir. Mungkinkah, Vita punya rasa pada Zein?" ucap Juan menyuarakan isi hatinya.
Rehan ikutan menatap Juan. Sekarang ia paham, mengapa Juan terlihat gusar.
"Jangan ngaco ah, Jun! Mana mungkin. Kan kita tahu masa lalu kakaknya dengan pria itu. Mana mungkin dia seberani itu," jawab Rehan berusaha menepis kenyataan yang ada. Walaupun pada kenyataannya ia sendiri juga curiga. Curiga kalau Vita memiliki rasa pada sahabatnya itu.
"Aku berharap sih janganlah. Tapi kalo pun iya, aku nggak tahu gimana susahnya nanti Vita dapet restu dari keluarganya. Terutama Stella sendiri." Juan kembali menghela napas dalam-dalam. Memikirkan perasaan sang adik ipar, rupanya tak kalah membuatnya gusar.
Suasana hening sejenak. Juan masih bergelut dengan pikirannya. Begitupun dengan Rehan. Sedangkan Stella dan Renata masih mengobrol tentang hari yang mereka jalani, ketika mereka berpisah.
"Ste!" sapa wanita cantik itu. Sedangkan Stella pun langsung berdiri dan berjalan pelan menghampiri dua wanita itu. Meskipun tak dipungkiri bahwa saat ini dia gugup.
"Ra! Kok kamu ada di sini? Ada keluarga yang sakit?" tanya Stella.
"Iya, abangku sakit! Kamu sendiri? " balas Safira.
"Oh aku, itu temen suami sakit," jawab Stella sambil menunjuk dua orang pria yang masih asik bercengkrama. Kali ini kegugupan tak bisa Stella hindari. Sebab di ujung sana, tepat di depan kamar rawat Zein, ada Juan. Ia hanya team menyangka, akan bertemu dengan Safira di tempat ini. Stella juga takut dan tak tahu bagaimana nanti menjelaskan pada Juan, jika dia dan Safira sudah saling kenal.
Namun, semua harus di hadapi, bukan? Kali ini Stella tak bisa menghindar. Pun dengan Juan. Stella berharap, pertemuan ini tidak akan menggoyahkan hati Juan. Tak akan mengikis cinta Juan untuknya.
__ADS_1
Bukan hanya Stella yang gugup. Safira sendiri juga gugup. Sebab, diujung sana ternyata ada Juan. Sang mantan kekasih. Safira tidak yakin kalau nantinya dia bisa menahan hati untuk tidak memeluk Juan. Pria yang masih merajai hatinya sampai saat ini.
"Di mana ruangan abangmu, Ra?" tanya Stella.
"Di A1, Ste." ucap Safira sambil celingukan mencari tulisan A1.
Stella dan Renata saling menatap. Karena mereka tahu, bahwa itu adalah ruangan Zein. Mungkinkah Zein adalah abang yang di maksud oleh Safira.
Dua wanita itu tak berani banyak bertanya. Mereka memilih diam dan hanya mengikuti langkah Safira. Serta langkah wanita paruh baya yang sedari tadi berdiri di samping wanita itu.
Langkah Safira dan Ibunya terhenti ketika tanpa sengaja mata mereka menangkap sesesok pria yang mereka kenal. Sedang bercengkrama dengan seorang pria, tepat di depan kamar rawat pria yang mereka cari.
"Fira oke?" tanya sang ibu.
Safira hanya diam tertegun. Menatap nanar pada pria yang kini terlihat tersenyum tampan itu.
Di sisi lain, Rehan terlihat curiga pada seorang wanita yang terus menatapnya.
"Eh, Jun. Itu siapa?" tanya Rehan pada Juan. Seketika Juan pun menoleh. Melihat seseorang yang Rehan maksud.
Kini mata Safira dan Juan bertemu. Kali ini bukan hanya kedua wanita itu yang terkejut. Juan sendiri tak kalah terkejut. Pria itu diam terpaku. Sebab, ia tak menyangka bahwa seseorang dari masa lalunya, yang ia tahu bahwa orang tersebut telah meninggal, kini hadir di depan matanya dengan keadaan sehat. Tidak kurang suatu apapun.
Juan berdiri gemetar, menatap nanar pada wanita itu. Begitupun dengan wanita itu. Nyatanya mereka masih sama-sama memiliki rasa yang sukar untuk diungkapkan. Kebingungan yang sulit untuk mereka jabarkan. Juan ingin bertanya, namun ia melihat Stella. Nyatanya ia juga tak sanggup menyakiti hati sang istri. Juan tahu, bagaimana cintanya Stella padanya. Terlebih ketika ia mengingat perbincangan mereka di mobil. Juan dalam dilema.
Rehan dan Renata saling memberi kode. Sedangkan Stella sendiri tak ingin merusak suasana. Wanita ini memilih diam, untuk menghormati Juan dan juga Safira yang kini sedang diserang tanya.
__ADS_1
Juan mengedipkan matanya ketika Rehan tanpa sengaja menepuk pundaknya. Pria ini pun langsung membalikkan tubuh, menghapus air matanya. Sepertinya Juan tak sanggup berada di dalam situasi seperti ini. Lehernya serasa tercekik. Pertahanannya runtuh seketika. Hati Juan serasa tersayat perih. Tak banyak bicara, ia pun memilih pergi meninggalkan tempat ini.
Bersambung...