PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 18 (Lutfi n Safira)


__ADS_3

Lutfi enggan kembali masuk ke dalam rumah sakit itu lagi. Ia ingin pulang. Pulang ke tempat di mana dia dan sang istri bisa bebas melakukan apapun. Bebas membicarakan apapun. Terlebih bisa menghindar dari wanita yang seharusnya tidak boleh masuk ke dalam rumah tangga mereka.


"Sini, Mas, Fira aja yang bawa mobilnya!" pinta Safira sambil mengambil kunci mobil itu dari tangan sang suami.


"Mobilnya manual loh, emang bisa?" tanya Lutfi.


"Bisa!" Safira tersenyum manis. Lalu, mereka berdua pun segera masuk ke dalam mobil milik Zein tersebut.


"Hebat amat bisa manual!" canda Lutfi.


Safira tersenyum malu.


"Eh, tapi baju dan barang-barang Mas?" tanya Safira saat sedang memakai seatbelt mereka.


"Udah diurus sama Rahmat.


Yuk ..." ajak Lutfi tak sabar.


"Iya." Safira kembali tersenyum. Kali ini senyuman wanita cantik ini terlihat berbeda, sebab ia sempat melihat Mawar bersitegang dengan pegawai Lutfi.


"Kenapa senyum terus?" tanya Lutfi heran.


"Nggak, kok masnya malah kabur, kan ditemenin cewek cantik, seksi, gemoy, bohay," canda Safira mulai menginjak pedal gasnya.

__ADS_1


"Aku bukan bujang, Ra. Aku udah punya anak. Apa lagi anakku cewek. Aku juga udah ada istri. Jujur aku tadi kaget tadi pas kamu diam aja, malah milih pergi. Lain kali jangan gitu. Itu namanya membiarkan setan masuk ke dalam istana kita!" ucap Lutfi, dengan nada santai. Tapi Safira tahu jika sang suami serius.


Safira tersenyum. "Maafin Fira ya, Mas. Habis tadi Fira itu ...." Safira membuang pandangannya ke samping. Menyembunyikan senyumnya.


"Fira itu, apa? Kamu kenapa?" tanya Lutfi lugu.


"Nggak.... Fira nggak kenapa-napa! Fira cuma kesel aja," jawabnya jujur.


Spontan, Lutfi pun tersenyum. Sebab sang istri terlihat natural saat cemburu. Pertanda virus cinta memang telah merasuk sempurna di hati mereka masing-masing.


"Sekarang, mau siapapun... mau itu temen aku. Mau itu temen kamu, kita nggak boleh ngalah sama kondisi. Kita kan memang suami istri, ya udah bilang aja terus terang. Untung tadi Kirana udah free, jadi aku minta dia buat nemenin kamu." Lutfi meraih tangan sang istri, lalu menciumnya dengan cinta.


"Iya, tadi Kiran juga cerita sih, maaf aku juga salah. Harusnya Fira nggak kasih siapapun buat ngedeketin kamu. Kamu dan Naya adalah milikku. Selamanya. Sampai kapanpun!" Safira membalas perlakuan manja sang suami dengan mengelus pelan pipi sang suami yang terlihat tirus itu.


"Aku juga marah sih sama dia. Habis, bisa-bisanya dia ngladenin si May. Udah tahu tu cewek agresif banget. Aku, kalo udah mau ama dia nggak mungkin kali nikah ama ibunya Naya. Bukan apa, Ra. Aku takut nggak bisa jadi imam yang baik buat dia. Aku takut nggak bisa bimbing dia. Kan ujung-ujungnya aku dosa. Ya kan!" ucap Lutfi kali ini dia serius.


"Pengen tahu ciri cewek yang baik nggak?" pancing Lutfi.


"Ya, gimana?" Safira mengerutkan kening.


"Cewek yang baik adalah cewek yang bisa jaga diri dengan baik. Tidak bertutur lembut pada lawan jenis yang bukan mahromnya.Tapi manis saat udah jadi pasangan halalnya. Seperti kamu!" jawab Lutfi sedikit merayu.


Safira tersenyum malu, sebab, ia ingat benar bagaimana judes nya dia dulu sama Lutfi. "Kan memang harus begitu! Ntar kalo kita nggak galak-galak yang ada cowok tu nglunjak. Malas aja Fira!" ucap Wanita cantik ini.

__ADS_1


Lutfi tersenyum. Rasanya indah sekali bisa bercengkrama bebas begini dengan sang istri. Entahlah, Lutfi bahagia saja.


"Oiya,Yang. Sorry, aku belum kasih tahu. Kita pulangnya rumah bekas abang ya. Soalnya rumah yang lama lagi direnov. Kata papa suruh sewain aja. Dari pada kosong. Lumayan buat tambah-tambah uang belanja kamu," ucap Lutfi.


"Kok uang belanja aku, kan Mas udah kasih semua gaji Mas ke aku. Itu udah lebih dari cukup, Mas! udah gitu, Fira juga," jawab Safira dengn senyum manisnya.


"Ya usah pakai aja sesuka kamu! Nanti aku nyari lagi!" jawab Lutfi ringan.


"Mas kok kasih semua penghasilan ke aku, emang nggak takut aku habisin apa?" pancing Safira.


"Nggaklah, habisin aja. Kan aku nyari juga buat kamu sama Naya. Buat kebahagiaan kalian. Buat menuhi kebutuhan kalian!" jawab Lutfi, Lagi-lagi santai. Ringan seakan tanpa beban.


"Nggaklah, Mas. Masak habisin." Safira diam sesaat. Begitupun dengan Lutfi. Mereka sama-sama diam. Tapi sejatinya, mereka memiliki keinginan yang ingin mereka sampaikan pada masing-masing pasangan.


"Emmmmm, Mas ...."


"Ya ..." Lutfi menatap sang istri. Sedangkan Safira masih fokus pada jalanan yang ada di depannya.


"Mas balik lagi ke Amerika, nggak?" tanya Safira, sebenarnya dia takut mau bertanya soal ini. Sebab ia tak mau dinilai melarang dan ikut campur soal kerjaan sang suami.


"Kayaknya balik, kenapa?" Lutfi memperbaiki posisi duduknya lalu, melirik sang istri aneh. Sebab setelah mendengar jawaban darinya, raut wajah berubah masam.


"Kok diam, kenapa?" tanya Lutfi lagi.

__ADS_1


Safira tak mau menjawab, ia hanya menggeleng malas. Namun, kerlingan matanya tak bisa berbohong, bahwa sejatinya ia memang tidak rela jika sang suami pergi jauh darinya. Safira tidak menginginkan itu. Safira sungguh tak ingin. Tak ingin jika pernikahan yang ia jalani hanyalah sebagai formalitas belaka. Safira ingin, pernikahan ini adalah sesungguhnya pernikahan. Ia bisa melayani sang suami setiap hari, lalu melihatnya setiap saat. Intinya, Safira hanya mau, Lutfi selalu berada di sampingnya. Baik itu dalam keadaan senang maupun susah.


Bersambung...


__ADS_2