
Tak ingin terlambat mengetahui keadaan sang ibunda, detik itu juga Zein segera mencari tiket untuk berangkat ke Jakarta.
Kali ini, bukan hanya Zein dan Zizi yang berangkat. Ada Lutfi dan juga Safira yang ikut serta dalam penerbangan tersebut.
Di dalam pesawat, terlihat Safira mendiamkan Zein. Wanita cantik ini marah pada kakak kandungnya karena tidak memberi tahu bahwa ibu kandung mereka masih hidup dan sedang menjalani hukuman.
"Sudah, Bun, jangan diemin abang. Kan tadi abang udah bilang sorry." Lutfi mencoba menenangkan sang istri.
"Abang keterlaluan, Mas. Kenapa dia bisa selalai itu. Abang pasti sengaja." Safira kembali memberikan tatapan serius pada abang kandungnya.
"Kan abang tadi juga udah bilang, abang pikir kamu udah tahu. Abang sendiri juga nggak nyangka, kalau kamu belum tahu apa-apa tentang ibu kandungmu, Bun." Lutfi menarik tubuh sang istri dan mendekapnya.
"Kamu saja tahu, kenapa nggak kasih tahu aku?" kali ini Lutfi pun ikut jadi sasaran.
"Sungguh, Bun. Aku pikir kamu sudah tahu juga. Kan selama ini hubungan kita hanya sekedar Naya. Perihal hati saja, belum lama ini kita berani terbuka, iya kan?" Lutfi pun tak ingin terlalu di salah sebab ia tahu bahwa sang istri memiliki pribadi yang mudah salah paham.
"Aku merasa seperti orang bodoh, Mas!" balas Safira kesal.
__ADS_1
"Maafkan kami, Sayang. Maafkan kami ya, kita berdoa sama-sama semoga mama baik-baik saja," ucap Lutfi.
Tak ada perbincangan lagi di antara mereka. Sesekali hanya terdengar suara Safira mengomel pada sang suami. Sedangkan Zen dan Zizi hanya diam. Sebab di dalam pikiran mereka sibuk dengan kekhawatiran untuk wanita yang sama-sama mereka kasihi.
***
Di lain pihak, dokter yang menangani Widya, hanya bisa pasrah. Sebab hasil akhir pemeriksaan yang dilakukannya, ternyata ditemukan cancer di lambung wanita tersebut.
Cancer tersebut sudah menyebar ke seluruh lambung. Itu sebabnya kotoran yang di keluarga wanita ini sering berwarna hitam.
Tak bisa di jelaskan bagaimana hancurnnya perasaan Safira saat ini. Di saat ia tahu bahwa wanita yang melahirkannya itu masih hidup, di saat itu juga ia harus menelan pil pahit bahwa dokter yang menangani sang ibunda sudah menyerah.
"Sabar ya, semoga ibu segera sadar dan bisa sembuh, mari kita cari dokter yang bagus yang bisa bantu ibu cepat sembuh!" ucap Zizi optimis.
Zein menghapus air mata penyesalannya. Rasanya sakit sekali mengetahui fakta ini. Bagaimana tidak? Zein terlalu terlena dengan kehidupannya sediri sampai lupa dengan keadaan dan kesehatan wanita yang melahirkannya itu.
"Sejak kapan kamu dekat dengan ibuku?" tanya Zein tiba-tiba dengan Zi.
__ADS_1
"Sejak enam bulan yang lalu, pertama ketemu, ibu sedang mengeluh sakit perut, muntah-muntah.... akhirnya ibu di bawa ke pusat kesehatan tahanan. Saat itu aku sedang ikut tim relawan untuk memeriksa kesehatan para sipir dan tahanan. Di situ kami pertama kali bertemu. Waktu itu aku senang sekali ketemu beliau, sebab jujur, ketika aku pertama kali bekerja aku udah mencarinya ke mana-mana. Aku ingin membayar hutangku padanya," jawab Zi bersemangat.
"Hutang? hutang apa itu?" tanya Zein penasaran.
"Sebenarnya ibumulah yang membayar uang sekolahku ketika aku tak bisa mengambil ijazahku," jawab Zizi.
"Kok bisa?" Zein terlihat penasaran.
Tak ingin menutupi apapun dari Zein, Zizi pun menceritakan awal mula ia bisa mengenal Widya. Lalu bagaimana ia dan wanita Zizi cerita. Sangking dekatnya dengan wanita yang telah ia anggap ibu itu.
"Segitu dekatnya kamu dengan ibuku?" tanya zein tak percaya.
"Ya, aku tak memiliki ibu, Zein. Aku tak punya ayah, aku nggak punya keluarga. Eh pas ketemu ibu, aku merasa kami sefrekuensi. Seminggu sekali aku ke sini, trus kalo ada acara penyuluhan kesehatan atau bakti sosial, aku juga ikut. Tujuan utamaku, aku ingin ketemu ibu, ingin berkeluh kesah denganya. Entahlah... aku merasa nyaman saja jika mencurahkan keresahanku padanya. Beliau adalah pendengar yang sangat baik bagiku. Sungguh, aku masih belum siap kehilangan beliau, Zein. Apa lagi masa hukuman dia tinggal sebulan lagi. Aku berharap, beliau bisa bertahan sampai hari itu tiba," ucap Zizi dalam isak tangisnya.
Kerapuhan hati terjadi di sini. baik itu Zein, Safira maupun Zizi sendiri.
Namun, mau bagaimana lagi? ini adalah jalan takdir yang harus dijalani oleh seorang Widya. Dulu ia sering lupa bahwa ia memiliki anak yang membutuhkan kasih sayangnya. Namun apa, dia malah sibuk dengan bisnis dan kesenangannya saja. Tinggallah sekarang ia menuai apa yang ia lakukan di masa dulu.
__ADS_1
Menyesal pun tiada guna. Widya hanya bisa mendengar isak tangis putrinya yang belum pernah ia lihat sejak ia bercerai dengan sang mantan suami. Bukan hanya isak tangis sang putri. Isak tangis sang putra juga ia dengar. Sayangnya, ia tak sanggup lagi membuka mata. Tak sanggup berucap, walau sekedar menyapa mereka. Widya hilang kesadaran dalam gelapnya malam. Yang ia tahu, saat ini ia berdiri di dalam gelap. Sendirian. Ya hanya sedirian.
Berasambung...