PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
GULING KESAYANGAN


__ADS_3

Sesingkat apapun masalah, namun tak jarang, orang bisa melupakannya dengan mudah. Apalagi yang terjadi pada Stella. Juan sangat paham dan mengerti jika trauma yang diderita sang istri bukan perkara mudah. Entah benar atau tidak apa yang diceritakan sang istri, pria ini tetap yakin bahwa wanitanya bukan tipe wanita pembohong. Bukan tipe wanita penipu. Meskipun ia belum pernah mencari sekalipun kebenaran tentang cerita itu. Bagi Juan, melihat trauma yang ada dalam diri Stella itu sudah cukup membuktikan kebenaran itu.


Singkat cerita, meskipun Juan belum tahu siapa sejatinya sang istri. Namun, ia yakin suatu hari nanti ia pasti akan tahu. Stella pasti akan menceritakan detail siapa dirinya tanpa Juan memaksa. Sepertinya itu akan lebih baik dari pada ia harus memaksa mengetahui tapi pada akhirnya Stell tertekan dan kembali masuk ke dalam trauma.


***


Zein dan Rehan kembali ditakjubkan dengan rasa cinta yang dimiliki Juan untuk sang istri. Kali ini dia membuktikan nya dengan membawakan pulang makanan kesukaan sang istri.


"Bungkus buat siapa, Bro?" tanya Zein penasaran.


"Buat permaisuri, siapa lagi? Dia paling suka ikan asam manis ini. Ditambah bawang bombay plus nanas," jawab Juan dengan senyum bahagianya. Tak lupa ia pun menyerahkan satu kartu kreditnya untuk membayar makanan tersebut.


"Terima kasih!" ucap Pramusaji itu, kemudian ia pun pergi membawa card milik Juan dan membawanya ke kasir.


Ketiga pria itu diam sesaat. Namun berbeda dengan Zein. Pikiran pria ini malah terus terfokus pada makanan kesukaan istri sahabatnya. Kenapa ada wanita yang kesukaannya sama denganmu, Ste. Apakah kalian berteman, atau kalian kaum wanita suka makanan seperti itu? tanya Zein dalam hati. Bukan hanya ikan kakap manis ini yang jadi fokus Zein namun juga ada sekotak es krim rasa yang berlebel rasa vanila. Membuat Zein semakin gelisah.


Selesai melakukan pembayaran, Juan pun mengajak kedua sahabatnya untuk kembali ke mobil. Tak butuh waktu lama akhirnya mobil yang membawa mereka pun akhirnya sampai di kediaman Juan.


Dengan penuh rasa hormat, Juan segera meminta tamunya masuk dan mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Duduk dulu, aku panggil ayang beb dulu," canda Juan pada kedua sahabatnya.


Zein dan Rehan hanya tersenyum. Namun dalam hati, Rehan mengumpat kesal. Bagaimana tidak? Juan sama sekali tak mengerti perasaannya. Yang sebenarnya juga memendam rasa ingin segera memiliki pasangan. Pasangan yang mengerti dirinya. Pasangan yang bisa menerima baik buruknya. Terutama seorang yang mau menerima putrinya dan menganggapnya seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


***


Di dalam kamar, ada Stella yang sedang meringkuk, bermalas-malasan sembari memeluk guling dan memainkan gawai yang belikan Juan tadi pagi.


Melihat istrinya bersantai, Juan pun tersenyum. "Selamat siang maminya baby n babynya papi yang manis," sapa Juan.


Mendengar suara sang suami, Stella langsung membalikkan badan dan tersenyum manis ke arah pria idolanya itu.


"Kok cuma baringan, kenapa?" tanya Juan sembari mendekati sang istri dan langsung ikut berbaring di sampingnya. Seperti biasa.


"Nggak tahu ni, kepala rasa pening. Biasanya nggak muntah, ini hari muntah ampek beberapa kali. Dedek nendang nya makin kenceng. Bikin mami mual, ya dek ya," cerita Stella sembari tersenyum menyambut sang suami. Beberapa kali ia juga mengelus dan menatap perut buncutnya sendiri.


Tak tinggal diam, Juan langsung ikut mengelus perut itu. Perut di mana baby yang ia inginkan berada. "Iya, adek bikin mami mual hemmm, aduh anak Papi makin pinter ya, ngajakin main Mami ya, hemmm. Udah pinter nakalin Mami ya sekarang ha? ," ucap Juan gemas. Tak lupa ia juga mempersembahkan senyum bahagianya.


"Eh, Pap!" ucap Stella mengejutkan.


"Adek nendang lagi, Pap. Siniin deh tangannya!" ucap Stella dengan senyum semringahnya.


"Mana Mam, mana?" tanya Juan antusias. Stella pun langsung meraih tangan Juan dan menaruhnya di tempat di mana si baby melakukan tendengannya. Benar saja, setelah tangan sang papi ada di tempat itu, seakan mengerti, sang baby menggemaskan itu langsung melakukan tendangannya lagi. Dua sejoli itu langsung tertawa, mereka bahagia, antusias sebab sang baby seperti mengerti perbincangan mereka.


"Ih, iya lo Mam, dia nendang. Coba lagi dek, lebih kenceng ya, ayok!" pinta Juan semangat.


Stella langsung mencubit perut si papi. "Aduh, kok cubit mam. Kan Papi ngajakin adek main," ucap Juan sembari menunggu gelis perutnya yang dicubut Stella.

__ADS_1


"Hemp.... kan Mami mual, awas papinya," pinta Stella sembari membekap mulutnya sendiri. Dengan cepat Juan pun meloncat dari ranjang Stella dan segera membukakan pintu kamar mandi untuknya. Benar saja, Stella memang tak bohong. Tendangan baby memang membuatnya mengeluarkan isi perutnya. Dengan cekatan Juan pun mengambilkan minum dan juga tisu untuk sag istri.


"Minum dulu, Mam. Astaga!" ucap Juan sembilan mengelap keringat dingin sang istri. Seketika Stella kembali lemas. Sepertinya tenanganya habis jika muntah begini. Baru kali ini juga Juan melihat Stella mengalami muntah. Selama ini tidak.


Juan memapah sang istri dan membawanya ke sofa. " Hati-hati Mam," pinta Juan. Stella tak menjawab, ia hanya fokus pada rasa lelah yang mengepung tubuhnya.


"Makan ya Mam, Papi bawain ikan asam manis kesukaan Mami sama es krim Vanila," ucap Juan sembari mengelus kening sang istri.


"Boleh, tapi ntar dulu ya. Mami lelah sekali rasanya. Pengen merem," ucap Stella. Juan mengerti, ia pun tak memaksa jika istrinya belum ingin. Pria ini begitu telaten mengurus pemilik hatinya. Dengan kasih sayangnya ia pun membantu Stella merebahkan tubuhnya. Mengambilkan dua bantal untuk mengganjal kepala dan satu lagi untuk mengganjal kaki. Tak lupa ia juga mengambilkan guling kesayangannya yang kini sudah menjadi milik sah Stella. Guling kesayangan Juan pada awalnya. Kini guling itu menjadi favorit Stella.


"Sini guling kesayangan, Mami," ucap Stella manja. Juan sebal sekali kalau Stella lebih memilih guling itu dibanding dirinya.


"Nah, nah ambil. Guling bau aja," ucap Juan, sambil memberikan guling itu.


"Enak aja, ini guling terwangi di dunia, Papi," jawab Stella, tentu saja dengan senyuman terbaiknya. Senyuman bahagia menyambut barang kesayangannya. Kemudian, ia pun mencium guling itu.


Juan duduk di samping sang istri dan mengukungnya mesra.


"Oia Mam, lupa. Di bawah ada teman Papi. Pengen kenalan ama Mami katanya," ucap Juan.


Stella terlihat ragu. Karena ia sedang merasakan kurang nyaman pada tubuhnya.


" Ya udah kapan-kapan aja kenalannya, Mami istirahat aja. Nanti Papi kembali, oke," ucap Juan, tak lupa ia pun mengelus pipi sang istri sebelum meninggalkannya. Memberikan kecupan sayang di kening Stelal. Pria tampan ini juga terlihat mengelus perut Stella sambil berpamitan. Kemudian, pria tampan ini pun keluar dari kamar Stella.

__ADS_1


Bersambung...


Kira-kira mereka bakalan ketemu ngga ya☺☺☺


__ADS_2