PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
OBAT PENENANG


__ADS_3

Malam pun tiba. Namun Stella masih mendiamkan Juan. Wanita ini hanya fokus pada Berliana. Beruntung Juan terbiasa dengan kondisi seperti ini. Terbiasa menghadapi sikap pendiam Stella, jika ia sedang berada dalam masalah.


Juan tahu, Stella tak bermaksud mendiamkannya. Itu memang sifatnya. Wanita ini selalu diam jika terjadi sesuatu pada jiwanya. Nanti, setelah semua bisa ia atasi, maka bisanya Stella akan mengajaknya berbicara.


"Makan ya, Mam," ajak Juan lembut. Stella menggeleng.


"Nanti kalau nggak makan Asinya mana mau keluar, Mam. Kasih baby cantik kita ini. Nanti jadi rewel karena laper," ucap Juan menasehati sembari memamerkan Berliana yang kini terlelap dalam dekapannya.


Stella menatap Juan sekilas, lalu matanya menatap Berliana. Melihat mereka berdua, akhirnya Stella pun mengangguk tanda menyetujui nasehat sang suami.


Juan merasa lega, sebab sang istri menyetujui nasehatnya. Ia pun segera meminta asisten rumah tangga di rumahnya, untuk menyiapkan makanan bagi sang istri. Serta meminta pengasuh Berliana untuk membawa baby mungil itu ke kamarnya sendiri.


Kini tinggallah Stella yang duduk diam di samping Juan, sang suami. Menutup mulutnya rapat-rapat seperti biasa. Ingin rasanya Juan menggigit bibir mungil itu agar mau berbicara. Marah pun tak apa. Asal mau mengeluarkan apa yang membelenggu hatinya.


Beberapa saat kemudian, seseorang pun mengetuk pintu kamar mereka. Membawakan senampan makanan untuk wanita ayu ini.


"Makasih, Mbak," ucap Juan pada asisten yang bekerja di rumahnya dan si mbak pun tersenyum, kemudian ia pun undur diri.


"Makan ya, Mam. Mau disuapin apa makan sendiri?" tanya Juan.


Stella menatap Juan sekilas, lalu ia pun mengambil piring yang berisi nasi itu dan mulai menyiapkan ke dalam mulutnya.


Namun, baru beberapa suap, Stella menghentikan kunyahannya dan menatap Juan. Sepertinya ia mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa berhenti, Mam? Nggak enak ya?" tanya Juan sambil mengelap bibir sang istri.


Stella menggeleng lalu mengelus dada Juan. Sepertinya ia ingin bertanya. "Kenapa? Mami mau tanya Papi udah makan apa belum?" tebak Juan. Stella mengangguk, membenarkan ucapan sang suami.


"Papi belum makan, Mam. Kan sedari tadi Papi di sini. Mepetin Mami terus sama dedek bayi." Juan tersenyum tampan, sembari memainkan rambutnya sendiri.


Stella menunduk dan mengingat kembali apa saja yang dilakukan Juan hari ini. Sedangkan Juan tersenyum, istrinya ini memang menggemaskan jika kambuh lemotnya.


Lalu, tanpa di minta Stella pun menyodorkan sesendok nasi ke mulut Juan. Demi membuat Stella senang, pria ini pun membuka mulutnya dan ikut menikmati makanan itu.


"Enak ya, Mam," ucap Juan bermaksud menggoda Stella. Wanita ayu ini hanya mengangguk mengiyakan. Tak memedulikan ledekan sang suami. Baginya saat ini hanya makan dan menyelesaikan apa yang suaminya perintahkan.


Beberapa menit berlalu, acara makan mereka pun selesai. Stella meminta izin untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Sedangkan Juan menunggunya di sofa. Tanpa berpikir macam-macam pria ini pun menunggu dengan sabar.


"Apa Mami menginginkan sesuatu?" tanya Juan sambil mengelus rambut sang istri.


Stella menggeleng.


"Apa Mami lelah?" tanya Juan lagi. Stella mengangguk lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita ini malah menangis. Mengeluarkan segala sesak yang ia rasakan.


"Mami nggak usah nangis, semua sudah berakhir Mam. Percayalah, semua akan baik-baik saja," ucap Juan memberinya kekuatan.


Stella masih menangis dalam diam. Lalu tanpa meminta persetujuan Stella, Juan pun membopong tubuh sang istri dan membawanya ke ranjang.

__ADS_1


Juan mengelus wajah ayu yang terus menatapnya. Seperti menginginkan sesuatu darinya. Entah mendapat dorongan dari mana, Juan langsung mengecup kening wanita ayu ini. Lalu, bibir manis sang pemilik hati. Hati Juan berbunga, sebab Stella pasrah. Sepertinya wanita ini benar-benar memberinya lampu hijau untuk mewujudkan cinta mereka.


Stella tidak menolak. Meski ia merasakan kebimbangan yang teramat sangat dalam hatinya. Nyatanya ia membutuhkan obat penenang dari sang pemilik hati. Nyatanya Stella butuh kepastian akan hatinya. Siapa kah sebenarnya yang ia inginkan. Pria ini atau pria yang memberinya satu putri.


Dalam kebimbangan itu, nyatanya bayangan Juanlah yang selalu hadir dalam benaknya. Seharian ini Stella hanya menimbang. Apakah ini adalah keputusan yang benar. Atau dia hanya pura-pura menolak Zein demi harga dirinya. Dan jawabannya adalah sekarang.


Jika dia iklhas memberikan jiwa raganya untuk Juan maka hatinya memang milik Juan. Berarti jua, jika dia tidak pura-pura dalam cinta. Berarti dia memang mencintai Juan. Stella berhasil memilih dan mengerti apa yang diinginkan oleh hatinya.


Nyatanya kini ia sanggup menyerahkan jiwa raganya untuk Juan. Untuk pria yang kini memiliki hatinya. Stella bahagia bisa mengerti keinginan hatinya. Ia pun tak ingin kehilangan momen ini. Sebab inilah waktu pembuktian untuk perasaannya. Pembuktian untuk memantapkan pilihannya.


Stella menyambut bibir pria tampan itu. Membalas ciuman itu lembut. Lalu tanpa ada kata ingin bercinta, tubuh mereka sudah saling membalas keinginan itu.


Juan mematikan lampu kamar dan memulainya. Dengan lembut dan penuh perasaan. Dengan cinta dan kasih sayang yang ia miliki untuk Stella. Dengan ***** yang dibalut oleh cinta. Tanpa ada paksaan atau pun peperangan dalam diri. Yang ada di hati mereka saat ini hanyalah ikhlas dan ikhlas. Memantapkan diri untuk saling memiliki.


Stella tidak menolak. Itulah alasan Juan berani melanjutkan keinginan hatinya untuk mewujudkan cinta yang telah menjerat mereka. Toh ini buka sebuah dosa. Toh ini bukan sebuah kesalahan Mereka telah diizinkan melakukan ini, baik secara agama maupun hukum.


Pelan namun pasti, Juan mulai membuka satu persatu kancing baju yang menutup tubuh sang istri. Harum aroma tubuh Stella nyatanya mampu membangkitkan gairah Juan sebagai laki-laki. Meskipun agak kaku dan canggung mereka tetap tak menyerah. Tetap bersemangat melanjutkan apa yang menjadi keinginan hati.


"Mami yakin?" bisik Juan mesra, suaranya terdengar sedikit gugup. Sebab dia memang gugup.


"Aku mencintaimu Juan Richard. Demi Tuhan," balas Stella. Mendapat jawaban Indah itu, tak ada alasan lagi bagi Juan untuk tidak melanjutkan kemesraan ini. Dengan penuh cinta akhirnya mereka pun memulainya. Memulai percintaan pertama mereka. Saling meluapkan rasa yang mereka pendam selama ini. Cinta yang indah. Cinta yang utuh. Sebuah obat penenang yang paling ajaib yang ada di dunia ini. Yaitu cinta yang tubuh tanpa paksaan. Cinta yang tumbuh tanpa mereka sengaja dan mereka bahagia.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah suka, like komen kalian dan dapatkan give away nya semoga beruntung🥰🥰🥰🥰


__ADS_2