PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
AWAL MULA


__ADS_3

"Aku tahu Ste salah Jun, tapi percayalah dia hanya nggak ingin membuatmu kecewa. Dia cinta sama kamu, Jun!" ucap Rehan mengingatkan.


"Sudah kubilang, aku punya cara sendiri untuk bikin istriku menyadari kesalahannya!" jawab Juan santai.


"Lebih baik kamu mikirin masa depanmu sendiri." Juan menghela napas dalam-dalam. Sedangkan Rehan tak menjawab.


"Apa rencanamu setelah ini? Mau kerja apa?" tanya Juan. Bukan bermaksud membully, hanya mengingatkan juga.


"Hah, gampang itu. Paling aku pulang kampung aelah . Dodol cilok lak wis, nyapo pusing-pusing," Rehan terkekeh.


Juan hanya tersenyum.


"Hah, wis dudo gak duwe gawean (sudah duda, nggak punya kerjaan) nasib-nasib," gerutu Rehan, kembali pria ini tersenyum.


"Nggak usah ngeluh, aku juga nggak bakalan kasih kamu kerjaan. Enak aja, jalan pintas. Ikut seleksi sana, siapa tahu bisa ketrima jadi sales," canda Juan.


"Aku juga nggak pengen kerja sama kamu, Jun. Ribet lagi nanti, mikirin ini mikirin itu. Diajak pergi ke sana pergi ke sini. Ogah, mending pulang kampung. Bikin warung sembako, ternak ayam negri, ternak ayam petelur. Udah, Jun jadi duit. Kapan lagi aku jadi bos, ya kan! deket anak, bisa jagain anak sendiri, kasihan dititipin melulu," jawab Rehan.


Juan hanya tersenyum. Sebenarnya ia mendukung ide Rehan. Itu termasuk ide yang keren, dia mau berdikari sendiri. Mau berdiri di kakinya sendiri. Diam-diam Juan juga salut dengan bapak satu anak ini.


"Baguslah, kapan lagi merdeka. Ya kan!" tambah Juan.


Meski telah memiliki rencana, tetap saja masih ada kekhawatiran di sudut hatinya. Mengingat apartemen dan juga mobil miliknya masih belum lunas.


"Napa muram?" tanya Juan.

__ADS_1


"Mikirin utang! Puas!" jawab Rehan ketus.


"Biasa aja kali, Bro. Ntar aku lunasin utang kamu. Nyicil tapi kalau udah ada duit," balas Juan.


"Ogah, mending kulelang aja tu apartemen ama mobil. Bebas hidup aku nggak ada utang," tolak Rehan serius.


Juan tahu jika pria ini selalu memikirkan baik buruknya keuangannya. Rehan buka pria gegabah soal apapun dan Juan malah suka orang seperti ini.


"Mau di anter ke mana nih?" tanya Juan.


"Boleh nggak aku ketemu Ste dulu!" pinta Rehan.


"Nggak! Dia nggak bakalan aku kasih ketemu siapapun sebelum waktunya tiba," jawab Juan spontan.


"Dibilang jangan ikut campur, ngeyel!" Juan pun tak mau kalah.


"Oke! Soal Stella terserah kamu deh, tapi kasih tahu aku, dari mana kamu tahu semua ini. Padahal yang tahu masalah Stella dan Zein kan cuma aku. Sedangkan aku nggak pernah ngomong apa-apa ke kamu!" ucap Rehan kesal.


"Kamu bilang tahu semua kan tentang Stella. Kamu kenal nggak ibu kandung dia?" pancing Juan.


Dengan penuh percaya diri Rehan pun menjawab. "Ya tahu lah, ayah dia Jovan ibunya Anti anaknya Vita. Mau nanya apa lagi lu!" Rehan terlihat kesal.


Juan tertawa, karena jawaban yang Rehan berikan tak ada apa-apa nya dibanding dengan apa yang ia tahu tentang Stella.


"Ngapa ketawa? Nggak percaya, tanya aja sama Stella. Aku nggak bohong Jun! itu nama keluarganya. Aku kenal Stella lebih lama dari kamu. Jangan meremehkanku kamu? " Rehan membuang pandangannya kesal.

__ADS_1


Juan menghentikan tawanya. Lalu ia pun membuka satu nama. "Bagaimana dengan Sera? Apa kamu kenal dia?" tanya Juan.


"Nggak, emang dia siapa?" tanya Rehan.


"Berarti kamu nggak tahu apa-apa, Re. Jadi jangan sok tahu!" tangkas Juan.


Kini mobil yang mereka tumpangi telah masuk area bandara. Diam-diam, Juan mengantarkan pria ini ke Bandara agar Rehan bisa sampai ke tanah Jawa dengan selamat. Sebelum Zein melakukan sesuatu padanya.


"Tunggu! Tunggu! Ngapain kita ke sini. Kamu belum cerita bagaimana kamu bisa tahu semua tentang Stella. Padahal aku nggak pernah sekalipun menceritakan semuanya ke kamu atau?" Rehan memegang seatbelt nya. Supaya Juan tak memaksanya untuk keluar dari mobil ini.


"Aku ragu, Re cerita sama kamu. Sebab aku sudah berjanji pada ibu mertuaku. Untuk menjaga rahasia ini sampai beliau sendiri yang mengatakan semuanya pada Stella," ucap Juan bingung.


"Demi Tuhan aku akan jaga rahasia ini, Jun. Dengan nyawaku. Percayalah! Aku hanya ingin tahu dari mana kamu tahu tentang Stella!" desak Rehan, rasanya tak sabar ingin mengetahui dari mana Juan tahu tentang masalah rumit ini.


"Baiklah! Semoga aku nggak salah pilih orang, Re. Sebenarnya aku sudah berjanji pada wanita itu!" ucap Juan. Pria ini terlihat menatap kosong ke arah kaca depan mobilnya. Ada kegelisahan yang tampak jelas di sana.


"Pagi itu, aku sedang dalam perjalanan dari Jakarte ke Bogor. Tiba-tiba aku melihat seseorang tergeletak di pinggir jalan. Aku pikir dia mayat, Re. Tubuhnya penuh luka. Bersimbah darah. Pokoknya kondisinya sangat menyedihkan. Apakah kamu tahu siapa dia?" Mata Juan terlihat berkaca-kaca. Rasanya tak sanggup mengingat bagaiman menenyedihkannya kondisi Stella saat itu.


"Apakah dia Ste?" tanya Rehan.


"Ya, dia Ste," jawab Juan, terdengar lirih namun jelas.


Tak ingin menutupi apapun, akhirnya Juan pun menceritakan awal mulanya menemukan Stella. Sampai suatu malam ia bertemu dengan Vita di tangga klinik di milik Salsa. Juan yang curiga langsung menangkap Vita dan mengintrogasi gadis itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2