PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
MENUNGGU


__ADS_3

Di sisi lain, Zein sedang merayakan kemenangan. Ia merasa sangat senang dan bangga akan usahanya. Sebab ia berpikir bahwa Patricia berhasil membawa Juan masuk ke dalam perangkap mereka.


Tentang keyakinan Zein, dibuktikan dengan video yang dikirim oleh orang kepercayaannya. Video itu memperlihatkan Juan dalam keadaan mabuk dan masuk ke dalam mobil. Serta membawa Patricia ikut masuk ke dalam mobil tersebut.


"Gimana, Bos? Apa langkah selanjutnya?" tanya Ardi, sekertaris baru Zein.


"Kumpulkan semua bukti kebobrokan Juan. Edit semuanya. Nanti kita gunakan video itu untuk menjatuhkan pria sialan itu dalam rapat investor. Agar dia tak berkutik. Serta buat para investor memilih mundur tanpa kita susah-sudah untuk membujuk mereka!" pinta Zein memberi perintah pada Ardi.


"Baik, Bos. Kami akan segera mengerjakannya," ucap Ardi. Kemudian pria penjilat ini pun keluar dari ruang kerja Zein.


Sekarang tinggallah Zein dengan segala kemenangannya dalam ilusi. Dia tersenyum sendiri. Merasa bahwa apa langkah awalnya untuk membawa Stella kembali ke dalam pelukannya telah berhasil.


Zein merasa bahwa Juan terlalu mudah untuk ia hadapi. Terlebih ketika ia telah berhasil menendang Rehan dari kehidupannya.


Rintik hujan membasahi kota besar di mana Zein berada. Duduk melamun membayangkan Stella bermanja-manja di pangkuannya. Zein tersenyum sendiri. Bukan hanya duduk di pangkuannya, ia juga membayangkan bisa menjamah tubuh wanita ayu itu dengan cintanya. Namun sayang, Zein tersentak dalam lamunannya ketika terdengar suara petir menggelegar.


"Ahhh, sialan. Cuma mimpi!" gerutu Zein. Untuk mengurangi rasa penatnya, ia pun membuka aplikasi di ponselnya. Memilih galeri untuk mengobati sedikit rasa rindu yang ia rasakan untuk wanita yang kini telah menjadi istri sahabatnya.


Zein mengelus foto Stella. Menumpahkan rindu yang ia rasakan lewat foto itu. Seandainya saat ini ia tahu nomer ponsel Stella. Pasti ia akan menghubungi wanita itu. Sebab, pada kenyataannya rindu itu berat. Lebih berat dari apapun.

__ADS_1


Zein mencium foto itu. Beberapa kali ia melakukannya. Berharap, Stella bisa merasakan kerinduan yang ia rasakan.


***


Berbeda dengan Zein yang hanya bisa memeluk dan mencium Stella di alam angan. Kini pria tampan yang menjadi pelabuhan cinta Stella yang nyata, sedang berbahagia. Beberapa kali ia mendapatkan kecupan penuh cinta dari wanita ayu ini.


Rasanya berterus terang adalah kunci dari setiap jawaban yang membuatnya resah beberapa hari ini.


Juan enggan melepaskan pelukannya. Pokoknya hari ini Stella adalah miliknya. Ia ingin wanita ini menemaninya hari liburnya. Juan ingin, Stella mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan.


Stella mengerti, jika pria yang kini bermanja-manja dengannya tidak ingin ditinggal. Juan terlihat nyaman berbaring di pangkuan sang istri. Sedangkan Stella, dengan kasih sayang dan cintanya mengelus rambut pria tampan ini.


"Besok Papi mau ke Jakarta, Mam. Ikut nggak?" tanya Juan sembari menegadahkan wajahnya.


"Iya, Mam. Lupa Papi. Heemmm, Zein ini memang merepotkan sekali," ucap Juan. Memiringkan tubuhnya dan memeluk perut Stella.


"Jika Papi nggak mampu ngadepin dia nanti Mami bantu. Biar Mami bicara dengannya nanti," ucap Stella. Masih setia mengelus kepala pria tampan ini.


"Itu opsi terakhir saja, Mam. Kalau misalnya Papi sudah dalam titik tak bisa berusaha lagi. Tapi Papi berharap, Zein bisa luluh dan memikirkan Berliana. Bahwa sebenarnya apa yang dia lakukan adalah menyakiti putrinya," jawab Juan. Kali ini bukan hanya Stella yang sedih, namun juga Juan. Pria ini tak habis pikir dengan pola pikir sahabatnya yang kelewat egois itu. Bukankah kalau Juan bangkrut yang kena imbasnya bukan hanya karyawan perusahaan. Namun juga dua orang sangat dia sayangi ini.

__ADS_1


"Dia adalah pria egois, Pi. Mana mampu dia berpikir seperti itu," balas Stella. Sejenak mereka berdua diam.


Juan menghela napas dalam-dalam. Membenarkan apa yang Stella ucapkan. Padahal jika di pikir-pikir, Zein kehilangan Stella karena apa? Karena keegoisannya. Namun, entah mengapa Zein tak berpikir sejauh itu.


"Mam, Papi punya satu rahasia lagi. Tetapi, Papi belum bisa memberi tahu Mami. Sebab, orang yang bersangkutan ingin bicara sendiri dengan Mami." Juan bangun dari pangkuan Stella. Dudul sembari memegang tangan wanita ayu ini. Menatap lembut mata itu. Sedangkan Stella pun sama. Wanita ini membalas tatapan lembut itu dengan tatapan percaya. Bahwa Juan tak pernah bohong padanya.


"Rahasia apa lagi, Pi?" tanya Stella.


"Ada Mam dan Papi harap, apapun yang Mami dengar nanti, jangan pernah menyalahkannya. Karena beliau sendiri juga tidak berdaya, kala itu," jawab Juan. Jika boleh jujur, sebenarnya Juan tak tahan. Ingin rasanya ia menjelaskan apa yang ia ketahui kepada Stella. Namun, Sera selalu mewanti-wanti agar dirinya tetap menjaga rahasia. Boleh memberikan nasehat, tetapi tidak jika memberitahu detail apa yang sebenarnya terjadi.


"Papi jangan bikin Mami penasaran. Ini menyangkut apa?" tanya Stella memelas.


Juan diam. Menatap wajah ayu yang mulai gelisah di depannya.


"Percayalah, Mam. Sebenarnya Papi juga ingin kasih tahu. Namun Papi telah berjanji. Papi tak mungkin ingkar. Mami tahu bagaimana Papi. Tetapi apapun itu, Papi tetap cinta sama Mami apa adanya," jawab Juan. Kini Juan jadi serba salah. Niatnya hanya menguatkan Stella. Ternyata malah berbanding terbalik. Dia yang tak mampu menahan hatinya ketika menatap mata sayu sang istri.


Namun, apalah daya. Juan sudah berjanji pada Sera. Untuk tetap menjaga rahasia besar ini. Sampai wanita itu datang ke sini dan mengungkap siapa sebenarnya dirinya.


"Baiklah suamiku, Mami akan menunggu. Mami nggak akan mendesaknya dan membuatmu menjadi manusia ingkar. Mami percaya pada Papi. Jika Papi bukan pria yang tidak bertanggungjawab," ucap Stella yakin.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Berdoalah orang itu akan segera datang di tengah-tengah kita. Agar semuanya jelas dan tak ada lagi dilema dalam hubungan cinta kita," balas Juan. Stella mengangguk. Kemudian tanpa melu Juan pun mendekatkan wajahnya, berniat mengambil sesuatu yang ia rindukan. Yaitu ciuman hangat milik bibir wanita ayu ini. Stella tidak menolak sebab ia juga merindukan bukti cinta itu. Dengan ketulusan hatinya, Stella pun membalas ciuman pria tampan ini.


Bersambung....


__ADS_2