PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Move On


__ADS_3

"Boleh Abang tahu, sebesar apa cintamu pada dia?" tanya Juan setelah mereka menemukan kursi santai di dekat kolam berenang.


"Kalo sebesar apa, Vita nggak tahu, Bang. Yang jelas cintaku ke dia, dewasa," jawab Vita serius.


Juan mengangguk mengerti. Ia paham dengan jawaban yang diberikan oleh adik ipar. Juan tahu, apa itu cinta dewasa. Cinta dewasa adalah cinta yang tidak memaksakan kehendak. Cinta yang tulus dan penuh keikhlasan. Cinta yang pasrah kepada Tuhan, karena Dia-lah yang membolak-balikan alur cerita. Dan Cinta Vita ke Zein adalah cinta seperti itu. Cinta yang tidak ingin menyakiti siapapun.


"Apa kamu marah dengan kakakmu?" Juan berharap kali ini Vita jujur.


"Marah sih enggak, Bang. Cuma kesel aja, kenapa kakak nggak bisa mengerti kami. Kami begitu menghormatinya. Kami begitu menghargai perasaanya. Namun, nyatanya, prasangka buruk yang kamu terima. Tapi Abang nggak usah khawatir, Vita ikhlas kok," jawab gadis ayu berambut panjang ini.


"Lalu, apakah kamu akan terus membuatkan dia berada di hatimu atau bagaimana?" tanya Juan lagi.


"Tidak, Bang. Aku tak akan membiarkan dia memiliki hatiku terus. Aku terus menasehatinya agar jangan meminta sesuatu yang tak ditakdirkan untuknya. Dan hatiku paham, bahwa aku harus move on dari rasa ini. Ada Luis yang sedang menungguku dengan cintanya, Bang. Aku ngga boleh egois!" jawab Vita. Kali ini butiran bening mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Sepertinya ia memang merasakan sakit yang teramat sangat jika membicarakan perihal hati yang telah dimiliki oleh Zein ini.


"Jujur, Vit. Abang sedikit nggak setuju dengan keegoisanmu menyakiti hatimu. Namun, jika mengingat betapa hancurbya keluargamu, mengingat menderitanya kakakmu. Abang jadi nggak bisa ngomong apa-apa. Abang tahu, Zein sudah lebih baik. Dia jauh lebih baik dari pertama kali abang kenal dia. Tapi apapun itu, keputusanmu kali ini, abang rasa memang keputusan terbaik. Abang doakan kamu bisa menata hatimu kembali. Bisa move on dengan kesibukan yang nantinya akan kamu jalani. Yang sabar ya, serahkan semua sama Tuhan," ucap Juan sembari menepuk pundak sang adik ipar. Berusaha menyalurkan energi positif. Mencoba memberi tahu bahwa Vita tidak sendiri.


"Makasih banyak, Bang. Abang begitu mengerti Vita. Vita jadi semakin yakin, penjara cinta milik kakak ini adalah penjara terbaik," canda Vita sembari terkekeh.


"Kamu ini, mana ada begitu. Eh, tapi ngomong-ngomong perihal Penjara, kakakmu sering bilang gini 'mami bahagia masuk ke penjara milik, papi'. Oh, apakah istilah itu kamu yang ngomporin dia?" Juan menatap Vita, seperti penasaran dengan istilah aneh itu.


Vita tidak menjawab. Tapi dia tertawa terbahak-bahak. Bahagia. Ekpresi Juan menurutnya sangat mengemaskan. Pantesan sang kakak tergila-gila dengan pria tampan ini. Si pria pemaksa. Pria arogan. Pria pengungkit. Namun memiliki hati emas.

__ADS_1


"Husst, diam. Ditanya kok malah ketawa!" Juan malah kesal.


"Abang menggemaskan, kayak Liana. Eh Bang, tanya, dari mana Abang dapat ide kasih nama si cengeng itu Berliana? Emang abang pengen apa waktu kasih dia nama itu?" tanya Vita penasaran.


"Dia adalah bidadari kecil yang memberiku kehidupan baru setelah keterpurukan yang panjang, Vit. Kamu pasti udah tahu kan cerita tentangku dan Fira." Juan menatap sekilas pada sang adik.


"Hemm!" saut Vita.


"Bagiku, Berliana adalah cahayaku. Dia yang memberiku kebahagiaan utuh, yaitu ibunya. Tanpa Berliana, aku yakin, aku nggak mungkin punya bidadari sebaik an secantik Stella, Vit," tambah Juan. Jujur, sejujur-jujurnya.


"Terkadang, seseorang dikasih pasangan baik, tidak terlihat ya, Bang. Nglihatnya rumput tetangga aja hijau. Padahal rumputnya sendiri nikmat dan mengenyangkan," balas Vita sembari bercanda seperti biasa.


"Itulah namanya jodoh, Vit. Kan kamu tahu sendiri siapa yang punya kuasa untuk membolak-balikan hati kita. Makanya kita pasrah aja. Tawakkal. Udah itu doang kunci hidup," Juan ikutan tersenyum.


"Ada yang nyari ketek abang tu," canda Vita sembari terkekeh.


"Kamu benar, okelah Vit, abang tugas negara dulu. Takut dipecat sama ibu negara, Abang. Nggak dapat jatah, repot nanti," canda Juan. Vita hanya tersenyum. Juan memang menggemaskan jika sisi kesomplakkannya muncul.


Vita tidak melarang. Mendapatkan sedikit wejangan dari sang kakak ipar, nyatanya sanggup membuat hatinya sedikit tenang.


Vita semakin mantap mengubur cinta yang ia miliki untuk Zein dan membuka lembaran baru bersama Luis. Besok malam adalah acara pertunangannya dengan Luis. Vita berharap, dia tidak bertemu Zein. Agar mudah baginya untuk melangkah.

__ADS_1


***


Di sisi lain, Ketika dalam perjalanan ke bandara, Zein terus tertawa melihat wajah kesal Lutfi. Calon asistennya ini terlihat masih ingin berdebat dengan adik satu-satunya.


"Udahlah Fi, saranku, kamu ngalah aja sama Fira. Baik-baik dia. Siapa tahu kalian berjodoh dan bisa merawat dan menjaga putrimu bersama," ucap Zein memberi saran.


"Masalahnya tidak sesimpel itu, Bang. Kami sama-sama nggak ada rasa. Mau jadi apa rumah tangga kami tanpa cinta. Yang ada hambar, Bang, hambar!" tolak Lutfi tegas.


Lagi-lagi Zein tertawa. Namun di titik tertentu ia menggantikan tawanya. Membayangkan rumah tangga Vita nantinya. Bagaimana nasib rumah tangga itu nantinya. Bukankah, hati Vita miliknya. lalu?


Ah, entahlah. Tuhan tolong jaga dia. Buat dia bahagia Tuhan. Buat dia mencintai suaminya. Aku ikhlas, Tuhan. Asalkan dia bahagia, ucap batin Zein. Mengeluarkan harapan terbaik. Meminta sesuatu yang terbaik untuk Vita. Untuk gadis yang ia cintai. Untuk gadis yang saat ini juga memiliki hatinya.


"Apa kamu percaya keajaiban Tuhan, Fi?" tanya Zein tiba-tiba.


"Percaya! Tuhan itu pemilik segalanya, Bang. Makanya aku nggak marah ketika semua hartaku dikeruk kakak ipar. Hanya saja, yang membuat aku kesal adalah bersamaan dengan itu, Tuhan mengambil istriku. Sehingga putriku jadi piatu," jawab Lutfi jujur.


"Boleh aku tahu kronologinya, Fi?" Zein punya jiwa kepo juga rupanya.


"Awalnya, abang dari istriku ingin buka usaha. Dia pinjam modal sama saya. Saya kan nggak punya modal segede itu untuk meminjaminya. Lalu istriku mengusulkan untuk meminjamkan sertifikat toko. Ternyata dia nggak mau bayar setelah dapat uang itu. Lalu jadilah toko kami disita. Mungkin istriku merasa bersalah padaku. Lalu tak disangka dia kena serangan jantung, Bang. Saking kencengnya berpikir mungkin. Dia malu padaku katanya," jawab Lutfi jujur.


Zein mengangguk mengerti. "Aku turut berduka-cita, Fi. Semoga Almarhumah husnul khotimah. Marilah Fi, setelah ini kita bangkit. Siapa tahu, kamu dan aku bisa move on dari cewek-cewek menyesatkan ini," canda Zein sembari terkekeh. Meskipun pada kenyataannya, hatinya serasa amat sangat sakit. Amat sangat perih. Namun ia berusaha tegar agar orang-orang disekitarnya tidak merasa kasihan padanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2