PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Dalam Penyesalan


__ADS_3

Dengan tenang Juan membawa mobilnya. Membelah keramaian kota Batam. Melaju dengan kecepatan sedang. Sungguh, saat ini hanya Juanlah yang tahu bagaimana rumitnya perasaan yang ia rasakan. Bagaimana tidak? Baginya, bertemu keluarga itu artinya adalah terbukanya luka lama. Terkoreknya segala derita yang pernah ia rasakan. Kehilangan calon bayinya. Terpisah dari orang yang ia cintai. Meskipun pada kenyataannya bukan terpisah. Melainkan dipisahkan. Lebih menyakitkan bukan?


Juan menjerit dalam diam. Marah. Kesal. Semua tercampur aduk dalam embusan napas. Sesak, seperti itulah definisi yang tepat tentang apa yang ia rasakan saat ini.


Namun, ketenangan Juan tidak serta merta membuat gadis yang ada di sebelahnya merasakan hal yang sama.


Gadis ini begitu gelisah. Pastinya ia takut terjadi sesuatu pada sang sahabat.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Fira, ya Bang!" ucap Vita.


"Hemm!" jawab Juan, malas.


Sebab, dulu, peristiwa ini pernah terjadi. Suasana seperti ini pernah ia hadapi. Nyatanya ia ditipu. Nyatanya ia di bohongi. Kemudian, sekarang, setelah semua ia anggap pergi, hilang, mati dan ketika ia sudah mampu melupakan, tiba-tiba saja datang dengan membawa kembali segenggam luka. Lalu, Juan harus bagaimana. Semua sudah mati rasa baginya.


Vita melirik kakak iparnya, seketika ia pun bisa memahami arti dari peristiwa ini baginya. Pasti, pria di sebelahnya ini ingat tentang masa lalunya. Bagaiman dia ditolak lalu berakhir dengan kehilangan segalanya.


"Maafkan Vita, Bang," ucap Vita lembut.


"Untuk?" Juan menatap sekilas pada sang adik ipar.


"Karena Vita lupa, kalo Abang dan Fira punya pengalaman yang menyakitkan untuk abang," jawab Vita jujur.

__ADS_1


Juan menyunggingkan senyum sekilas. Lalu ia pun menjawab, "Tidak ada yang lebih penting dariku selain kakakmu dan juga anak-anak kami. Kamu tenang saja, asal dia tidak goyah, Abang bisa menghadapi segalanya," jawab Juan yakin.


Vita tersenyum, sebab ia merasa beruntung. Pria yang dulu menangkapnya dan menginterogasinya bak pencuri itu, ternyata berhati sangat lembut dan mulia.


"Kenapa tersenyum, ada yang aneh?" tanya Juan santai.


"Kalian sweet sekali sih, Bang. Vita jadi iri!" jawab Vita dengan sikap manjanya seperti biasa.


"Sweet apa? Itu udah komitmen kami dari pertama kami mengakui bahwa di hati kami telah tumbuh rasa. Aku dan kakakmu, kami menjalani ini dengan keyakinan hati kami. Bahwa kami tak akan menyakiti satu sama lain," jawab Juan. Sesuai dengan komitmen yang ia sepakati dengan sang istri.


"Do'ain aku dan Luis bisa begitu ya, Bang. Saling mencintai dan menghargai satu dan sama lain," pinta Vita serius.


"Tanya apa tu!" jawab Vita, sembari menyamankan posisi duduknya.


"Kamu yakin bakal jadi istri Luis? Kamu yakin suka sama dia? Jangan pura-pura loh Vit, Abang hanya nggak mau kamu menyesal!" ucap Juan mengingatkan.


Vita adalah gadis yang pandai menyembunyikan perasaannya. Dengan candaannya, ia pun menjawab pertanyaan itu dengan senyum termanis nya.


"Ae lah Abang, tanyanya gitu amat. Kalo Vita nggak cinta, mana mungkin sih Bang Vita mau nikah ama dia. Aneh Abang ini," jawabnya.


Juan tersenyum, sebab ia tahu, jika adik iparnya ini berbohong.

__ADS_1


"Baiklah. Semoga apa yang kamu katakan adalah benar. Abang hanya nggak mau kamu menyesal, itu aja. Pokoknya nanti kalo udah jadi istri, nggak boleh mengeluh. Harus bisa jadi apa aja buat suami. Biar suami tetep betah." Juan kembali melirik Vita. Terlihat jelas dari wajah gadis itu, bahwa dia ragu dengan jawaban yang ia berikan kepada sang kakak ipar.


Vita enggan melanjutkan perbincangan ini. Sebab ia tak ingin terpancing dengan Juan. Vita tahu jika pria itu sangat pandai mengotak atik perasaan orang lain. Tidak mungkin menutup kemungkinan, bahwa bisa saja dia membuka semua apa yang ia rasakan saat ini. Vita hanya tidak ingin melukai hati pria yang telah bersedia meminangnya.


***


Di rumah sakit, semua anggota keluarga Safira sedang menunggu di depan ruang operasi. Sedangkan Lutfi, mereka memintanya pulang untuk mengambil barang-barang pribadi milik Safira. Karena tak menutup kemungkinan bahwa gadis itu akan lama dirawat di rumah sakit ini.


"Bagaimana kronologinya, Pa?" tanya Zein pada Laskar.


"Papa sendiri juga tidak tahu. Tiba-tiba saja, Lutfi menjemput Papa dan mengajak Papa ke sini. Mamamu juga nggak ada bilang apa-apa," jawab Laskar. Kali ini pria ini terlihat gemetar. Seperti sangat takut kehilangan Safira.


Maklum, Laskar pernah membuat kesalahan pada anak gadisnya itu. Memisahkannya dari pria yang dia cintai. Apapun alasan Laskar saat itu, tetap saja itu adalah sebuah kesalahan. Seandainya ia tidak membohongi dia sejoli itu, mungkin saat ini mereka sudah menikah dan memiliki anak.


Nyatanya, apa yang ia lakukan telah menghancurkan hati sang putri. Laskar tidak tahu harus berbuat apa. Namun, ia berjanji, setelah ini, siapapun pria yang putrinya cintai, ia tak akan memandang status. Laskar akan memberikan restu. Asal pria itu baik dan berasal dari keluarga baik-baik, pasti Laskar akan langsung menyetujuinya.


"Papa duduk aja, sudah jangan khawatir. Percayalah Pa, adek gadis yang kuat," ucap Zein mencoba menguatkan. Sedangkan Laila hanya menyenderkan tubuhnya di sisi kursi ruang tunggu di mana mereka duduk saat ini. Wanita paruh baya itu menangis dalam diam. Seperti menyesal, kenapa mengizinkan sang putri membawa mobilnya sendiri? Harusnya ia meminta sopir saja yang antar.


Bersambung...


Terima kasih yang masih setia... πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2