
"Lalu, kita meski gimana Luis? Bukankah undangan sudah tersebar. Aku juga nggak bisa melangkah jika ini yang terjadi. Ini terlalu menyakitkan bagiku. Sungguh! Aku pun tak mau membawamu ke dalam masalah." Vita menatap nanar pada pria yang telah ia pilih sebagai imamnya.
Alasan yang diutarakan oleh Luis, nyatanya sukses mengguncang jiwanya. Vita benar-benar takut.
"Aku meminta pada oma untuk mengerti dan menghargai apa yang menjadi pilihanku, Vit. Namun, beliau tetap memberikan syarat untuk itu," jawab Luis jujur.
Vita terdiam. Bingung. Haruskah ia teruskan perbincangan menyakitkan ini. Atau mereka hentikan saja. Tetapi, bolehkah demikian? Bukankah jika berhenti, maka hanya akan menumbuhkan dilema dalam hati.
"Boleh aku tahu syarat itu, Luis?" tanya Vita memberanikan diri, untuk mengetahui apa yang sebenarnya keluarga Luis inginkan dari pernikahan ini.
"Seperti yang pernah kita bicarakan tempo hari, Vit. Beliau ingin, kita tidak menunda momongan. Tapi jika dalam waktu satu tahun kita tidak memiliki momongan, maka aku harus siap menikah dengan wanita pilihannya. Aku tidak sanggup menduakanmu, Vit. Sungguh!" jawab Luis, sembari meremas jari-jari tangannya, khawatir.
Vita diam sesaat. Air matanya jatuh menetes tanpa sanggup ia tahan lagi. Bagaimana tidak? Awalnya Vita begitu percaya diri bahwa keluarga Luis bisa menerima keadaan keluarganya apa adanya. Lalu, sekarang, segalanya berubah sejalan berjalannya waktu.
__ADS_1
Semua serasa tiba-tiba baginya. Sungguh, saat ini, Vita merasa lehernya tercekik karena perihal ini. Kenyataan yang bisa ia tolak. Namun ia juga tak bisa memaksa seseorang untuk menerimanya.
"Maafkan aku Vit, saat di Bali kemarin, sebenarnya aku ...." ucap Luis, ragu.
"Iya aku paham maksudmu, Uis. Kamu segaja menyakitiku agar aku menjauh darimu kan. Agar aku mundur dari pernikahan ini. Tanpa merasakan sakit bekelanjutan, iya kan?" tebak Vita sedih.
"Ya, Vit. Sebelum kita foto prewed, aku dan oma bertengkar hebat perihal ini. Maafkan aku, karena tak langsung memberi tahu dirimu perihal ini. Namun percayalah, saat itu aku bingung. Saat itu aku marah padanya. Kenapa di akhir dia baru bilang kalo tak menginginkan pernikahan ini. Kenapa tidak dari awal? Rasanya aku pun sesak bernapas Vit. Aku nggak tahu harus bagaimana?" Luis berpaling dari Vita. Sebab ia tak ingin Vita melihat air matanya.
Vita diam sesaat. Mencoba meredam gejolak hati yang terjadi di dalam hatinya. Nyatanya, masalah yang mereka hadapi tidak sesimpel sebuah permainan. Luis adalah putra sekaligus penerus keluarga Anggara satu-satunya. Mana mungkin Dena akan melepaskan pria ini begitu saja untuk wanita yang dinilai kurang dari standar keluarga mereka. Dan Vita menyadari itu.
"Tidak Vit! Kita sudah berjuang sampai sini. Tolong izinkan aku memilikimu. Sambil kita berjalan, kita coba luluhkan hati oma. Aku berharap bisa mendapatkan restu darinya dalam waktu yang ia berikan pada kita," jawab Luis mantap.
"Baik jika itu keputusanmu, aku ikut Luis. Tapi bagaimana jika dalam waktu yang telah ditentukan kita tak mampu mendapatkan restu darinya? Bagaimana kalo dalam waktu satu tahun itu kita belum dikaruniai momongan? Apakah kita akan menyerah dalam waktu itu Luis?" tanya Vita memastikan.
__ADS_1
"Kita pikirkan itu nanti saja, Vit. Kita berjuang dulu untuk dapetin restu oma. Kita tetap menikah, kamu mau kan berjuang bersamaku?" tanya Luis sembari menatap mata wanita yang ia ajak berjuang untuk melangkah bersama menuju bahagia. Entah mengapa, Luis yakin, jika ia dan Vita bisa meluluhkan hati wanita tua itu.
"Iya Luis, mari kita berjuang. Aku akan mendampingimu sampai Tuhan tak mengizinkan kita bersama lagi. Aku mau berjuang bersamu," jawab Vita mantap. Tak ada pilihan lagi untuknya. Mundur, itu tidak mungkin. Undangan sudah tersebar. Tanggal pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Mana mungkin ia tega membuat malu keluarganya.
Kalau dari pihak Luis sendiri gampang. Mereka orang kaya. Bisa menjadi pengantin pengganti. Lalu bagaimana dengan dirinya. Vita yakin, jika ia gagal menikah, yang ada pasti cemoohan orang-orang dan Vita sangat muak dengan cemoohan. Vita hanya tak ingin menambah pandangan miring untuk keluarganya.
***
Di sini bukan hanya Vita dan Luis yang sedang berjuang untuk kelangsungan hubungan mereka. Stella dan Juan kembali shock ketika menerima surat permohonan tes DNA terhadap Berliana yang datang dari pihak keluarga Zein.
Mereka ingin melakukan itu dengan alasan agar bebas bertemu dengan Berliana dan mendaftarkan bocah kantik itu ke dalam ahli waris mereka.
Namun, ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Soal warisan, Juan sedikit tersinggung. Sebab, ia sendiri bisa menghidupi Berliana. Ia merasa sanggup memberikan kehidupan yang layak untuk anak gadisnya itu.
__ADS_1
Oleh sebab itu, Juan dan Stella tetap kekeh, tidak akan mengizinkan kedua orang tua Zein untuk menyentuh putri mereka.
Bersambung...