PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
DIGANTUNG


__ADS_3

Belanda...


Anti dan Berliana sepertinya lelah menunggu Stella dalam masa perawatan. Lalu Vita pun meminta seseorang yang ia kenal untuk membawa mereka pulang. Beruntung Anti tidak ngotot. Ia begitu menurut pada Vita. Sebab, Anti sudah berjanji tidak akan merepotkan, baik merepotkan Ste, atau merepotkan Vita.


Kini tinggallah Vita sendirian berada di depan pintu perawatan sang kakak. Berharap wanita itu baik-baik saja.


Vita semakin gugup ketika pesan yang ia kirim ke Rehan belum jua mendapatkan jawaban. Sepertinya Rehan sangat sibuk dengan urusan pribadinya.


Hari semakin siang, akhirnya tim dokter yang menangani Stella pun keluar dari ruangan tersebut. Dengan penuh ketelitian, dokter tersebut menjelaskan pada Vita bahwa sementara ini Stella masih shock. Masih belum bisa ditanya perihal kronologi kecelakaannya. Tetapi menurut tim dokter, masalah fisik tidak ada yang parah. Hanya lecet-lecet saja.


Mendengar penjelasan sang dokter, Vita pun lega. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Vita diperbolehkan menemui Stella. Dengan perasaan mengharu biru, gadis cantik ini pun masuk ke ruangan sang kakak.


"Kakak, kamu membuatku khawatir!" ucap Vita pada wanita yang kini sedang berbaring di ranjang pasien itu.


"Kakak nggak kenapa-napa. Mana ibu sama Liana?" tanya Stella.


"Mereka Vita suruh pulang. Kasihan, sepertinya mereka lelah!" jawab Vita jujur.


Mendengar penjelasan sang adik, Stella pun paham. Wanita ini kembali diam. Namun, matanya tidak bisa berbohong. Pada kenyataannya ia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kakak kenapa? Kok melamun?" tanya Vita sembari membantu sang kakak menghapus air matanya.


"Kakak benci pada diri kakak sendiri, Vit." Stella kembali menangis sedih.


"Benci kenapa toh?" Vita duduk di samping Stella.


"Aku tidak bisa melupakan abangmu. Pada kenyataannya aku masih memikirkannya. Aku merindukannya Vita. Aku harus bagaimana?" ucap Stella jujur. Seperti sedang mengungkapkan isi hati yang ia rasakan selama berada di Belanda ini.


"Vita telponin ya!" tawar Vita. Berharap, Stella lega ketika mendengar suara pria itu. Agar Stella senang bisa berkirim kabar dengan pria itu.

__ADS_1


"Nggak, Vit. Jangan menganggunya. Biarkan dia bahagia dengan cintanya!" jawab Stella pelan. Namun, dari jawaban tersebut Vita tahu bahwa sang kakak memang Benar-benar mencintai pria itu. Pria yang menikahinya.


"Tapi, bagaimana jika abang sekarang mencarimu, Kak. Bagaimana jika dia juga merindukanmu? Bagaimana jika dia memilihmu. Bukan memilih Safira?" pancing Vita.


"Mana mungkin, Vit. Kalo dia memilihku, nggak mungkin ia memintaku untuk pergi. Mana mungkin ia menolak panggilan telpon ku," jawab Stella yakin.


"Ya kan kita belum memastikan, Kak. Ayolah jangan lemah begini. Pastikan dulu, baru bisa menarik kesimpulan!" ajak Vita serius.


Stella diam. Wanita ini masih menyimpan rasa takut di hatinya. Takut jika Juan kembali menolaknya. Takut jika Juan marah lagi padanya. Sungguh, ketakutan itu bukan main-main. Stella sangat-sangat takut. Wanita ini trauma.


***


"Boleh aku tahu siapa kalian?" tanya Zein pada Safira.


Fira menatap bingung pada Zein. Tentu saja hatinya bertanya-tanya. Mungkinkah pria ini belum tahu apa-apa?


"Kenapa diam? Aku bertanya, siapakah kalian sebenarnya. Dan mengapa aku ada di sini?" Zein kembali mengulang pertanyaannya. Agar wanita yang ada di depannya sudi menjelaskan padanya. Apa yang sebenarnya terjadi.


Zein menggeleng.


"Orang tua kita memang jahat dan tidak bermoral. Itu sebabnya kita bernasib soal seperti ini!" ucap Safira sengit.


Zein menatap aneh pada wanita yang dinilainya sedikit judes itu.


"Kenapa kamu nggak percaya kalo orang tua kita egois?" tanya Safira enteng.


"Orang tua kita? maksudnya?" Zein masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya iyalah, Bang. Siapa lagi!" Lagi-lagi wanita ini memberikan kesan jutek pada Zein. Sedangkan Zein masih belum mau mengimbangi kejutekan Safira. Pria ini masih berusaha mengabaikan sikap tak bersahabat wanita itu.


"Kamu memanggilku abang. Memangnya kita sodaraan?" pancing Zein.

__ADS_1


"Ya, kita sodaraan. Bahkan kembar. Kan aku udah bilang, orang tua kita egois. Makanya kita bernasib sial seperti ini," jawab Safira, lagi-lagi sikap tidak bersahabat kembali ia tunjukkan.


"Kembar? kamu dan aku?" tanya Juan tak percaya.


Agaknya Safira enggan meladeni drama yang ditunjukkan oleh Zein. Wanita ini pun memilih berpamitan, ketika melihat Laskar mendekati mereka. Sepertinya ia memang sakit hati pada pria itu. Sakit hati karena perlakuan Laskar padanya berbeda, dibanding dengan bcara Laskar memperlakukannya.


Sebenarnya itu hanyalah pemikiran kolot Safira. Sebenarnya itu adalah bentuk ketegasan Laskar untuknya. Agar tidak menganggu kehidupan rumah tangga orang lain. Tetapi, Safira yang sudah tertutup mata hatinya, hanya berpikir dari segi ketidakadilan untuknya. Bukan dari segi baik buruknya apa efek dari keras kepalanya ini.


Zein tidak melarang Safira pergi. Namun, rasa penasarannya tidak berkurang sedikitpun. Penjelasan yang diberikan wanita itu serasa simpang siur baginya. Ini malah membuat Zein semakin ingin marah.


Zein terpaksa menahan amarah yang kini mulai merasuki jiwanya. Mau bagaimanapun saat ini dia tidak berdaya. Zein tahu bagaimana kasus yang menjeratnya saat ini. Pria ini butuh penyelamat. Mau tak mau dia harus bisa memanfaatkan keadaan.


"Maafkan adikmu, Zein. Dia sedang patah hati. Harap dimaklumi!" ucap Laskar.


"Maaf, Om, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zein pelan. Agar Laskar tidak tersinggung yang akhirnya membuat pria itu marah.


"Katakan!" jawab Laskar tegas, tanpa basa-basi.


"Apakah kita memiliki hubungan?" tanya Zein pelan.


Laskar menatap Zein. Tatapan penuh teka teki tentunya. Namun, Zein adalah Zein. Tak akan menyerah sebelum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


"Maaf, Om, jika saya lancang. Tetapi, jujur saya butuh jawaban itu. Jika Om berkenan, tolong jelaskan pada saya bagaimana hubungan kita. Kenapa wanita tadi ...." Zein tidak melanjutkan kata-katanya tetapi pria ini yakin jika kunci dari teka teki yang tak ia mengerti adalah pria ini.


Namun sayang, Laskar sepertinya menghindar. Menghindar dari setiap tanya yang ditujukan Zein untuknya. Membuat Zein merasa digantung.


***


Juan tiba di rumah Sera dengan selamat. Namun sepi. Wanita yang ia cari tidak ada di sana. Baik Sera, Stella, Vita maupun Anti. Rumah sepi, tidak berpenghuni. Menghadirkan firasat kurang baik di hati pria tampan ini.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2