
Suasana di mobil kembali sunyi. Safira memanyunkan bibirnya. Kesal. Merajuk. Dalam hati, ingin sekali membuat pria yang ada di sampingnya ini minta maaf padanya. Atas kelakuannya yang membuat dirinya kesal.
Namun, belum sempat Safira melancarkan aksinya, ponsel Lutfi berdering. Ia tahu bahwa itu dari pengasuh putrinya.
Lutfi segera mengangkat ponsel tersebut. Takut ada yang penting.
"Ya, Bude. Saya bentar ya! Sebentar lagi saya pulang," ucap Lutfi pada pengasuh putrinya.
Sang pengasuh terdengar berbicara. Namun, Safira tak mendengar dengan jelas suara orang tersebut.
"Coba kasih parasetamol, Bude. Kalo nggak tunggu saya sampai rumah deh. Paling sepuluh menit. Saya antar putri majikan saya dulu ya. Sebenar ya, Bude!" ucap Lutfi lagi.
Tak berapa lama, Lutfi menutup panggilan telepon. Lalu, ia pun kembali memfokuskan pandangannya pada ke depan. Tapi tidak dengan Safira. Mungkin ia terlalu perduli terhadap Naya. Safira pun tak mau menahan diri. Dengan merendahkan ego, wanita ini pun bertanya. "Naya kenapa? Sakit kah?" tanya Safira. Kini lebih lembut, sebab ia tak ingin bertengkar.
"Iya, Bu. Dia panas. Mungkin mau tumbuh gigi!" jawab Lutfi. Tatapan matanya berubah sendu. Seperti sedang menahan kesedihan yang mendalam.
"Ya Allah, kasihan sekali. Boleh aku melihatnya?" Safira menangkupkan kedua tangannya. Memohon agar dia diizinkan bertemu dengan gadis cilik itu.
"Ini sudah malam, Bu. Tak baik buat perempuan berada di luar rumah malam-malam," tolak Lutfi halus.
"Aku mohon!" ucap Safira lagi.
Tak ingin berdebat, Lutfi pun langsung balik arah. Tancap gas menuju kontrakannya. Jika boleh jujur, ia juga sangat khawatir. Mau bagaimanapun saat ini, Naya sangat membutuhkan perannya sebagai ibu. Naya membutuhkan dekapannya. Lutfi memang harus bisa menjadi ayah dan juga ibu bagi sang putri. Terlebih di saat dia sedang sakit seperti ini.
Safira tak berani berucap sepatah katapun. Entahlah, tiba-tiba saja ia merasa takut melihat kegelisahan Lutfi. Ingin rasanya ia memenangkan pri itu. Namun, Safira tak berani berucap. Takut membuat sang pria semakin resah.
***
__ADS_1
Kebahagiaan pasti datang pada waktunya. Itu adalah prinsip hidup yang Zein dapatkan dari seorang penjual kopi yang ia temui di tempat di mana dia sedang bersantai menghabiskan malam pertamanya di kota indah ini.
"Bapak udah lama jualan beginian, Pak?" tanya Zein pada pria yang sudah terlihat renta itu.
"Sudah lima belas tahun, Den. Sejak kena PHK (putus hubungan kerja)," jawabnya dengan senyum ikhlasnya.
"Lama juga ya, Pak. Tapi Bapak tetap sehat kok. Luar biasa!" ucap Zein sembari menepuk pundak pria tua itu.
"Hidup ini, kuncinya cuma satu, Den. Bersyukur dan bersyukur. Jalani, tak usah mengeluh. Bahagia itu pasti datang pada waktunya. Ndak perlu ngoyo," jawab Pria tua itu lagi.
Zein tersenyum. Sebab ia sebenarnya juga sependapat dengan pria tua tersebut.
"Bapak punya anak?" tanya Zein lagi.
"Anak saya tujuh, Den. Yang tiga S2 semua lulusan dokter. Yang 4 guru," jawabnya jujur.
Pria tua itu tersenyum. Lalu, ia pun kembali berucap, "Kebahagiaan terbesar saya adalah melihat mereka hidup bahagia. Rukun. Mau membantu sesama. Tidak sombong. Meski mereka dokter dan guru, kalo main ke tempat bapaknya nggak pernah bawa mobil. Hahahhahah .... Bagi saya, itu adalah kebahagiaan yang tiada tara, Den!" tambah pria ini lagi. Sembari terkekeh, Mengingat bagaimana putra dan putrinya selalu menghargai apa yang dia katakan.
Mendengar cerita yang sedikit tidak masuk akal ini, membuat Zein kembali bertanya.
"Maaf, Pak! Kalo boleh saya tahu, kenapa Bapak memilih berjualan susah-susah begini. Harusnya dengan anak sukses-sukses seperti itu, Bapak udah bisa hidup enak dong!" ucap Zein penasaran.
"Hidup saya enak, Den. Siapa bilang hidup saya nggak enak. Sampai saat ini saya masih bisa makan dengan hasil keringat saya sendiri. Bukankah itu karunia Tuhan yang wajib saya syukuri." Pria itu terkekeh. Kemudian, ia pun kembali melanjutkan ucapannya. "Diusia saya yang hampir berkepala delapan ini, saya masih bisa membuat orang-orang di sekitar saya termotivasi. Agar jangan hidup bergantung dan berharap dari orang lain. Meskipun itu anak sendiri. Apa lagi, mereka sudah berumah tangga." Pria itu terlihat menghela napas dalam-dalam.
"Maksud, Bapak. Bukankah itu sudah kewajiban anak mencukupi kebutuhan orang tuanya setelah dewasa?" tanya Zein. Sedikit bingung.
"Memang, itu bagi yang mengerti. Tapi kita sebagai orang tua juga harus ingat, bahwa... satu memang anak kita, tetapi yang satu kan bukan. Saya tidak ingin menciptakan kegaduhan dalam rumah tangga mereka. Saya tidak mau ikut campur perihal uang. Saya tidak mau melihat mereka ribut gara-gara berselisih paham merawat saya. Saya bersyukur, sampai detik ini saya tidak pernah merepotkan mereka. Walau secuil!" jawab pria ini, tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bapak adalah bapak yang luar biasa. Saya salut sama Bapak. Doakan saya supaya bisa sehat terus seperti Bapak dan rendah hati seperti Bapak," ucap Zein sembari memberikan lembaran uang berwarna merah itu.
Lalu, pria tua itu segera mengeluarkan kantong kain yang berisi uang miliknya. Lalu memberikan kembalian pada Zein. Namun dengan halus Zein menolak.
"Jangan menolak, Pak. Ini adalah rezeki, Bapak!" jawab Zein.
Pria itu tersenyum lalu ia pun menjawab, "Baiklah kalo begitu, terima kasih. Saya berjanji akan menyalurkan rezeki ini pada mereka yang lebih membutuhkan," jawab pria paruh baya ini.
"Buat mereka yang membutuhkan? Maksud Bapak?" tanya Zein penasaran.
Pria itu tersenyum, Lalu menunjukkan pada Zein sebuah ruko bercat kuning dan pink. Lalu ia berkata, bahwa di sana ada anak-anak yang membutuhkan uluran tangan kita.
Zein memerhatikan ruko itu, lalu dia pun bertanya, "Tempat apa itu, Pak?" tanya Zein.
"Tempat di mana kita harus menyisihkan 2,5 persen rezeki kita untuk mereka," jawabnya sembari tertawa.
Zein mengerutkan kening. Lalu, ia pun berjalan mendekati ruko itu. Diam, kemudian ia pun membaca dalam hati plang yang tertulis di sana.
"Panti Asuhan Kasih Bunda" Seperti itulah kalimat yang terpasang di sana. Zein pun mengerti arti ucapan pria itu. Dengan cepat Zein pun kembali menyusul pria tua itu dan melanjutkan obrolan mereka.
"Bapak hebat, siapa pemilik tempat itu, Pak. Apakah Bapak mengenalnya?" tanya Zein.
"Pemiliknya saya kurang tahu, tapi di sana banyak sekali anak-anak yang membutuhkan uluran tangan kita. Itu saja!" jawab pria tua itu.
Lalu mereka kembali bercengkrama. Saling berbagi kisah. Zein begitu bahagia bisa mengenal pria tua yang menurutnya sangat bijaksana ini. Zein senang karena bapak tujuh anak ini ternyata sangat dermawan. Padahal jika dilihat dia hanyalah penjual kopi. Tapi hatinya benar-benar emas. Zein salut.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Dan dukung karya saya yang lainnya πππ