
Senyum merekah indah di antara keluarga Rehan dan keluarga gadis yang hendak dijodohkan dengannya.
Namun tidak dengan Rehan dan juga seorang gadis yang ia cari selama ini. Dia adalah Renata. Gadis ini beberapa kali tertangkap oleh mata Rehan sedang menatapnya. Begitupun dengan duda satu anak itu. Tanpa mereka sadari, bahasa tubuh mereka mengisaratkan bahwa mereka sama-sama terluka oleh perjodohan ini. Meskipun pada kenyataannya mereka belum pernah terbuka dengan perasaan masing-masing.
Hati Rehan serasa teriris ketika Isabela, gadis yang hendak dijodohkan dengannya langsung menyetujui perjodohan itu. Sedangkan Rehan juga tak bisa menolak. Karena ibunya bersahabat dengan ibu dari Isabela. Rehan tak mungkin membuat ibunya malu dengan menolak anak gadis dari sahabat baiknya.
Senyum dan tawa menghiasi ruang tamu keluarga Isabela. Terlebih ketika mereka telah menetapkan tanggal lamaran untuk Isabela dan Rehan. Meski terpaksa Rehan juga tersenyum. Sedangkan Renata terlihat menitikkan air mata. Sepertinya gadis ini tak rela jika pemilik hatinya menjadi milik wanita lain. Namun begitu, ia pun tak punya kuasa untuk mencegah pernikahan ini. Terlebih Rehan sendiri juga menyetujui perjodohan ini.
Acara pertemuan keluarga pun berakhir. Kini tinggallah Rehan dengan segudang penyesalan yang menggerogoti hatinya. Sebagai seorang laki-laki ia merasa gagal. Mengapa tidak mencari tahu di mana gadis yang ia cintai? Rehan sungguh menyesal, mengapa ia hanya pasrah dan percaya pada waktu. Jika pada kenyataannya waktu malah memberinya jawaban yang sangat menyakitkan.
Andai saat itu Renata tidak pergi. Andai saat itu Rehan datang lebih cepat. Andai saat itu mereka berani mengakui perasaan masing-masing, mungkin perjodohan ini tidak akan terjadi. Mungkin mereka akan bersama, paling tidak mereka tidak akan putus komunikasi dan berakhir tragis seperti ini.
Selepas pertemuan keluarga itu. Rehan menutup diri di kamar. Merenungi apa yang terjadi padanya saat ini. Rasa sesak tiba-tiba menyerang sanubarinya. Semua kata andai pun menyerangnya. Sehingga menimbulkan rasa penyesalan yang teramat sangat dalam ia rasakan.
Bukan hanya Rehan. Renata pun sama, gadis manis yang kini bekerja sebagai kasir toko roti milik keluarga pamannya tersebut hanya bisa menangis pilu. Membayangkan setiap hari ia akan melihat sang pujaan hati. Namun, kenyataannya ia tak bisa memiliki.
"Apakah aku sanggup jika begitu Tuhan?" tanya Renata pada sang Pemilik hidup.
Gadis ini kembali menangis. Rasanya tak sanggup membayangkan hari-hari yang akan ia lewati setelah ini. Ia akan melihat senyum Rehan, tapi tidak untuknya. Ia akan melihat Rehan namun tak bisa ia sentuh.
"Mengapa Engkau anugerahi perasaan cinta jika rasa itu kini malah menyakitiku Tuhan. Mengapa mencintai sesakit ini. Mangapa, Tuhan? Mengapa?" tanya Renata dalam diamnya. Sungguh, jika boleh memilih, maka Renata akan memilih tidak melihat Rehan selamanya dibanding melihat pria itu bersanding dengan gadis lain. Terlebih gadis itu adalah kerabatnya. Adik sepupunya. Tentu saja kenyataan ini seperti sebilah pisau yang menghujam tajam di dalam jantungnya.
__ADS_1
***
Kesedihan yang dirasakan oleh Renata dan juga Rehan dirasakan pula oleh Safira. Mantan kekasih Juan.
Wanita ini tak kuasa menahan kesedihan ketika ia tahu, bahwa pria yang ia cintai selama ini telah memiliki keluarga. Telah dimiliki oleh wanita lain. Bahkan rumah tangga Juan telah menghasilkan seorang putri.
Kabar menyakitkan itu ia dengar dari salah satu temannya yang tak sengaja bertemu di sebuah restoran tempat Safira bekerja saat ini.
"Sori, Ra. Kirain Juan nikahnya sama kamu!" ucap wanita itu. Safira hanya tersenyum. Meskipun dalam hati ia menahan tangis. Menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Kami tidak berjodoh, Di!" jawab Safira. Masih dengan senyuman khasnya.
"Baiklah. Aku tahu kamu wanita yang kuat, Ra. Percayalah suatu hari nanti pasti kamu dapat seseorang yang bisa menerima baik buruknya kamu," ucap gadis yang biasa di panggil Nindi itu.
"Sekarang kamu stay di mana, Ra?
Mainlah ke tempatku," ajak gadis bertubuh sedikit berisi itu.
"Iya kapan-kapan ya, Di. Kalau aku pas libur." Safira menundukkan kepalanya. Berusaha menyembunyikan kesedihan yang kini merengkuhnya.
"Oke deh, nanti kalau kamu libur telpon aku aja. Aku jemput!" ajak Nindi. Mereka saling melempar senyum.
__ADS_1
"Baiklah! Oia Di, boleh nggak aku minta sesuatu sama kamu?" tanya Safira serius.
"Tentu saja, Ra. Kamu ini kayak sama siapa aja!" jawab Nindi sambil menyeruput jus yang ia pesan di tempat Safira bekerja.
"Tolong jangan kasih tahu siapapun ya, kalau kamu ketemu sama aku, terlebih pada keluargaku. Aku nggak mau berurusan sama mereka. Kamu paham kan Di maksud aku!" pinta Safira serius. Sedangkan Nindi menatap Safira heran. Meskipun tak dipungkiri bahwa ia sangat paham bagaimana sifat keluarga Safira yang memiliki tingkat keangkuhan yang tinggi.
"Tapi kenapa, Ra? Kamu nggak ingin ketemu papa mama kamu?" balas Nindi pura-pura tak paham.
"Kamu kan tahu bagaimana mereka, Di. Aku nggak mau orang lain kena masalah karena aku. Cukup Juan saja yang merasakannya waktu itu," ucap Safira sedih. Terlihat butiran bening mulai menampakan dirinya di sudut pelupuk mata wanita ayu ini.
"Iya, sih. Aku ngerti. Aku janji bakalan jaga rahasia ini," jawab Nindi berjanji.
"Makasih ya, Di. Semoga Tuhan balas semua kebaikan kamu." Safira tersenyum . Begitupun dengan Nindi.
"Apa kamu menyesal meninggalkan Juan, Ra?" tanya Nindi sedikit kepo.
"Aku nggak tahu, Di. Apakah aku menyesal apa tidak. Tapi aku bahagia jika dia bahagia. Kamu kan tahu gimana sayangnya aku ke dia. Jika aku terus bertahan di sampingnya, aku takut keluargaku akan menyakitinya," jawab Safira. Tak sanggup lagi membendung kesedihan yang selama ini ia sembunyikan, akhinya Safira pun menumpahkan tangisannya di dalam pelukan sang sahabat. Sedangkan Nindi dengan suka rela memberikan tubuhnya untuk Safira peluk. Agar wanita itu sedikit tenang. Karena bisa mengeluarkan kesedihan yang ia tahan selama ini.
***
Di sisi lain Stella sedang sibuk bersiap-siap. Memasukam beberapa potong baju ke koper miliknya. Wanita ini terlihat antusias. Sebab besok ia akan bertemu dengan ibunda tercinta. Wanita yang ia rindukan selama ini. Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlaku bagi Juan. Pria ini terlihat was-was, khawatir Stella tak mampu menahan goncangan di jiwanya jika sampai tahu kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih atas like komen dan votenya ya...