
Di sudut ruang yang lain. Ada Rehan yang merasa kehilangan. Sahabat satu-satunya meninggalkan dirinya dan segala kenangan yang pernah mereka lalui bersama.
Renata meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata pun. Gadis ini hanya berpesan pada tetangganya bahwa ia mau pulang kampung. Sayangnya di mana kampung Renata, tak ada yang tahu.
Berkali-kali Rehan menghubungi nomer ponsel gadis ini, tapi tidak bisa. Tidak terhubung. Terakhir ia mendapat kabar bahwa ponsel milik Renata dijual, mungkin untuk modalnya selama di kampung. Tentu saja ini membuat Rehan shock. Selama ini, ia kurang memahami kebutuhan gadis ini. Setiap kali datang ia hanya membawakan makanan dan minuman kesukaannya. Tidak berpikir masih memegang uang atau tidak. Sebenarnya Rehan ingin membicarakan itu, namun tahun menyinggung hati sang wanita.
Berkali-kali Rehan juga menawari Renata pekerjaan, namun gadis ini menolak jika pekerjaan itu masih berhubungan dengan Zein. Pria yang membuat hidupnya sengsara. Hingga dia harus kehilangan rumah dan juga adiknya.
Rasa bersalah Rehan tak sampai di situ. Mengapa baru sekarang ia memahami kesulitan Renata. Menagap baru sekarang ia paham, jika sahabatnya ini juga membutuhkan uang untuk membayar kost dan kebutuhan sehari-hari. Entahlah, Rehan hanya bisa diam menahan sesal.
****
__ADS_1
Zein duduk termenung di hotel tempatnya menginap. Memikirkan apa yang wanita itu ucapkan padanya. Pria ini tak bisa menyalahkan wanita itu jika sang wanita membencinya. Itu adalah hal dia, bukan? Karena pada kenyataannya, apa yang wanita itu ucapkan adalah benar. Zein adalah pria bajingan yang bodoh. Setelah menikmati apa yang Stella punya, lalu dengan tanpa belas kasihan ia membuang wanita itu tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Andai ia mencari tahu semuanya dengan kepala dingin, mungkin semua tidak akan terjadi.
Sesal... hanya kata itulah yang kini menghantui Zein. Pria dengan segala kesempurnaan namun kolot dalam pemikiran. Zein, dialah pria itu. Pria yang tak menyadari jika ada seorang ibu yang menyimpan dendam padanya. Seorang ibu yang siap menghancurkannya hingga dia tak aka mampu lagi menatap dirinya sendiri.
***
Sera... wanita paruh baya yang pernah mengalami masalah kelam sebelum ini hingga dia melahirkan Stella dan di rampas oleh Jovan selaku ayah kandung Stella.
Suatu malam, Jovan yang jahat meminta Sera untuk ke hotel di mana dia berada. Untuk mengantarkan berkas-berkas yang pria itu inginkan. Sera yang lugu tentu saja tak menaruh curiga pada bos mudanya. Padahal itu adalah jebakan untuknya. Jovan yang jahat membubuhkan obat perangsang pada minuman yang ia berikan pada Sera. Dan terjadilah malam laknat itu.
Pada malam itu, tak hanya sekali Jovan melakukan itu. Berkali-kali sampai ia merasa puas dan bosan.
__ADS_1
Kelakuan bejat Jovan membuahkan hasil. Sera hamil. Gadis malang ini pun menuntut pertanggungjawaban Jovan. Namun, pria tak punya hati ini malah mengurungnya di sebuah Villa hingga dia melahirkan Stella.
Dasar pria bajingan super licik. Setelah mendapatkan Stella, pria jahat ini pun membawa sang putri pergi. Tanpa melihatnya lagi. Tanpa menoleh padanya lagi. Tanpa peduli padanya lagi. Sera juga dibuang sama seperti Jovan membuang Stella.
Beberapa bulan kemudian, terdengar kabar bahwa Jovan menikah dengan Anti. Wanita yang kini ada di rumah sakit jiwa. Yang harus ia rawat demi janjinya pada sang suami.
Selama ini Sera diam. Karena Jovan selalu mengancam akan membunuh Stella kalau dia sampai berani membuka suara, kalau dia sampai berani membuka rahasia siapa dirinya sebenarnya.
Demi berada dekat dengan Stella, Sera pun menerima lamaran Windi, yang tak lain adalah kakak kandung Anti. Pria baik hati yang mau menerima kekurangannya. Pria yang bisa menghargainya sebagai seorang wanita. Pria yang memperlakukannya seperti seorang ratu.
Rumah tangga Sera dan Windi baik-baik saja selama ini. Mereka saling mencintai meskipun tak dikaruni seorang anakpun. Sera sangat berbakti pada Windi pun sebaliknya.
__ADS_1
Bersambung....