
Senyum merekah indah di bibir Vita dan Luis ketika mereka bergantian menyematkan cincin ke jari masing-masing secara bergantian.
Luis memberikan kecupan penuh cinta di kening sang calon istri. Pun dengan Vita, gadis cantik berambut panjang ini juga mencium tangan sang calon suami, pertanda ia siap untuk menjadi pendamping dunia akhirat Sang pria.
Tepuk tangan meriah menghiasi ruangan super mewah yang Zein siapkan untuk pertunangan sang big bos. Namun, seiring dengan kebahagiaan kedua sejoli itu, Zein sudah tak bekerja lagi pada Luis. Karena malam terakhir kedatangannya ke Jakarta, memang berniat resign dari kantor Luis.
Sebenarnya Vita tak mau mencari pria itu. Tetapi ketidakhadirannya memberikan tanda tanya di benak sang gadis. Sebab, sedari tadi, yang ia lihat hanyalah Safira di temani oleh seorang pria yang Vita tahu itu adalah sopir dari Laskar. Ayah Safira.
Jamuan makan malam pun dimulai. Vita meminta izin pada Luis untuk berbincang sebentar dengan Safira. Luis yang baik hati, tentu saja tak melarang jika Vita ingin menemui sahabatnya.
"Jangan lama-lama ya, Han. Aku mau kenalin kamu ke kolega-kolegaku," ucap Luis meminta.
"Oke, Honey. Sebentar aja," jawab Vita sembari tersenyum manja.
Luis yang gemas tentu saja langsung mendaratkan kecupan sekilas di pipi sang kekasih. Namun, sebelumnya ia mematikan bahwa tak ada yang memerhatikan mereka.
"Kan, nakal kan," canda Vita.
"Dikit doang, Honey. Kalo nggak kita ijab aja sekarang. Aku nggak mau jauh dari kamu lagi," ajak Luis, sedikit becanda. Namun terdengar konyol.
"Boleh! Kamu bilang aja sama omamu, boleh nggak. Kalo boleh besok sebelum berangkat prewed kita menikah!" balas Vita tak kalah konyol.
"Bolehlah, nanti aku bilang ke oma. Pasti oma langsung bilang yes," balas Luis. Mereka berdua pun terkekeh. Karena kekonyolan mereka yang tak masuk akal.
"Bentar ya, Han. Sepuluh menit. Oke!" pinta Vita lagi, agar Luis tak hanya memberinya izin lewat mulut. Tapi juga mau melepaskan tangannya yang sedari tadi melilit pinggangnya.
__ADS_1
"Oke, sepuluh menit. Habis itu aku jemput ya," balas Luis tak mau tertipu.
"Astaga! Iya, Ya Tuhan. Aku nggak akan kabur. Bukankah kamu sudah mengingatmu dengan cincin ini," canda Vita sembari menunjukkan cincin bermata biru itu.
"Aku mencintaimu, Honey. Sangat!" bisik Luis serius.
"Aku juga, aku juga sayang sama kamu," jawab Vita tak kalah serius. Lalu, untuk membuat hati sang calon suami tenang, Vita pun memberikan kecupan sekilas di ujung bibir Luis. Agar Luis percaya, bahwa dia tak main-main tetang hubungan ini.
Percaya terhadap apa ya g kekasihnya janjikan, Luis pun melepaskan tangannya dari pinggang sang kekasih. Sebelum Vita melangkah pergi, tak lupa mereka pun saling menatap dan melempar senyum. Seakan tak ingin lepas.
Andai saat ini ada penghulu yang datang. Mereka berdua pun siap dinikahkan sekarang juga.
"Udah sana, sepuluh menit," ucap Luis memberi izin.
"Oke," jawab Vita sembari tersenyum dan melangkah pergi.
"Cie, calon pengantin. Seneng ya! Semoga lancar sampai hari H ya, Wak!" canda Safira pada sahabat terbaiknya.
"Aamiin! Makasih Wak. Oiya tante sama om mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Vita sembari duduk di samping Safira.
"Mama sama papa minta maaf nggak bisa dateng. Lagi ngawal abang," jawab Safira jujur.
"Ngawal abang? Maksudnya?" tanya Vita penasaran.
"Biasalah, mereka lagi ada kerjaan di luar kota. Papa sama mama minta putra mereka buat ambil alih sekarang. Katanya udah capek bolak balik perjalanan terus." Safira meneguk minuman berwarna oren yang disajikan oleh pramusaji di sana.
__ADS_1
"Oh, semoga urusan mereka lancar ya," jawab Vita. Berharap ini bukan hanya ucapan tetapi juga doa untuk Zein dan mama papanya.
"Aamiin ... semoga, Wak. Oiya, Wak. You cantik amat pakek baju ini. Gila, selera laki lu mantap!" canda Safira.
Astaga! Kenapa semua orang bilang aku cantik pakek baju ini. Janganlah bilang begitu. Tahukah kalian, baju ini adalah pilihan dia. Dia yang memilihkan baju ini untukku. Tidakkah kalian tahu, bahwa saat ini hatiku menangis Menangis karena dia, dia dan dia. Aku lelah, Tuhan! Jerit batin Vita. Andai ada orang yang bisa ia percaya untuk menampung isi hatinya. Vita ingin mengeluarkan uneg-uneg yang saat ini membelenggu hatinya. Andai bisa.
"Dih, dibilang cantik malah diem. Lu kenapa, Wak? Jangan malam pertama sekarang, Wak, belum boleh!" ucap Safira sembari bercanda seperti biasa.
"Hisst, gila lu, ya nggak lah. Kalo Luis berani macem-macem aku pites dia." Vita terkekeh. Pun dengan Safira. Sedangkan Lutfi hanya tersenyum mendengarkan obrolan tak bermutu mereka.
"Eh, kamu bilang, abang lagi ke luar kota ama tante ama om kan untuk urusan pekerjaan. Ya kan? Kok boleh ama bosnya. Padahal ini kan hari terpenting dalam hidup bosnya. Aneh kan?" ucap Vita asal. Sebab ia tak tahu jika Zein telah resign dari pekerjaannya.
"Kamu ketinggalan berita, Wak. Emang laki lu nggak cerita kalo abang udah resign?" Safira melirik sang sahabat.
Sedangkan Vita hanya menggeleng.
"Dih, kalian aneh deh! Abang udah nggak kerja lagi ama laki lu. Kena hasut emak bapakku, tahu nggak. Diiming-imingi warisan banyak. Makanya dia pilih cabut dari laki lu," ucap Safira, entah apa maksudnya berucap demikian. Yang jelas, Vita sedikit terkejut.
"Tu, si cowok jelek ini, dia bukan lagi sopir papa. Tapi sekarang naik pangkat jadi asisten abang. Makanya dia dandan keren gini buat gantiin abang. Paham kan lu?" tambah Safira.
Kini, Vita mengerti. Mengapa ia tak melihat Zein sedari tadi. Pria itu menepati ucapannya untuk resign. Untuk tidak jadi suruhan orang lagi. Diam-diam Zein menuruti perintahnya. Antara senang dan tidak. Antara yakin dan bimbang. Tapi, Vita tetap tersenyum sebab ia yakin jika ini adalah rencana Tuhan untuk menjauhkannya dari pria tersebut.
***
Di sudut ruang yang lain, terlihat Zein tengah sibuk mempelajari beberapa bekas yang disodorkan oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Pria ini terlihat serius dan memfokuskan netranya pada barisan kata yang ada di atas kertas tersebut. Namun, usahanya seakan sia-sia. Sebab yang nampak di atas kertas itu malah senyum seorang gadis yang hendak ia lupakan. Senyuman gadis itu begitu menggoda. Apa lagi dengan tanpa merasa berdosa, Lutfi sang asisten, malah mengirimkannya foto pertunangan gadis tersebut. Lutfi memang bangsat. Tidak tahu betapa dia kesusahan melupakan gadis itu.
Bersambung...