PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
SALING TERBUKA


__ADS_3

Gadis berpostur tubuh mungil itu terlihat menatap nanar pada Juan. Seakan meminta bantuan pria itu untuk melindungi kakaknya. Sebelum ia bisa mendapatkan tempat untuk Stella bersembunyi.


"Apa apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu? Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Juan sembari melangkah mendekati Vita. Lalu bersandar di meja kerja Salsa.


"Aku tidak tahu, ini salah atau tidak. Tapi feeling-ku mengatakan bahwa aku percaya padamu. Maukah kamu membawa kakaku pergi dari kota ini. Tolong sembunyikan dia dari keluargaku untuk sementara. Terserah mau di bawa ke mana? Yang penting kakak aman dan ayah tidak boleh menemukannya!" pinta Vita pada Juan. Masih menatap nanar pasa mata pria tampan itu.


Juan dan Salsa saling menatap sekilas. Lalu mereka pun menatap Vita. Ingin langsung menjawab, namun ragu.


"Oke, kita akan coba bantu. Nanti aku tanya dulu kakakmu. Mau ikut aku apa nggak? Soalnya aku nggak mungkin paksa juga. Dia punya hak, hak untuk memilih. Kamu ngerti juga kan!" jawab Juan.


"Oke, terima kasih banyak. Mohon maaf, aku harus segera pergi. Aku takut ayah meminta anak buahnya untuk mengikutiku dan kalian tahu kan ini pasti sangat berbahaya buat kakak. Buat kalian juga," ucap Vita seraya beranjak dan memakai penutup kepala. Serta masker dan helmnya.


Juan dan Salsa tak bisa mencegah. Meskipun sebenarnya masih ada pertanyaan yang hendak mereka tanyanya. Pasal di mana mereka tinggal dan sebagainya. Namun kembali lagi mereka juga tak mau terlalu ikut campur dalam urusan keluarga gadis ini. Bagi Juan dan Salsa itu bukan ranah mereka.


***


Rehan masih menjadi pendengar sekaligus mempelajari apa yang Juan sampaikan. Dan sini ia bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya Juan belum mengetahui segalanya tentang Stella, di masa itu.


"Jadi kamu belum tahu cerita lengkapnya kan? Lalu sejak kapan kamu tahu kalau Stella bukan anak kandung Jovan dan Anti. Malah kamu sebut siapa tadi? Ibu kandung Ste? " tanya Rehan penasaran.


"Ya, saat itu aku belum tahu semuanya. Tetapi, sebulan atau berberapa minggu kemudian, aku lupa tepatnya. Ada seseorang datang padaku dan mengatakan bahwa dia adalah ibu kandung Ste." Juan menatap lepas pada kaca yang ada di depannya. Menghela napas dalam-dalam, berusaha terbuka dengan masalah yang kini membelitnya.


Rehan mengerutkan kening. Bertanya dalam hati, siapa wanita itu?


"Kenapa wajahmu begitu? Kamu nggak percaya?" tanya Juan.


"Percaya, cuma kurang yakin aja. Kan belum ada bukti!" balas Rehan.

__ADS_1


"Maaf jika aku nggak bisa kasih bukti apa-apa ke kamu. Karena aku sudah janji. Tapi, aku yakin dia tidak berbohong." Juan melirik Rehan. Pu sebaliknya.


"Oke tak masalah, mungkin kalau kita padu padankan apa yang kita ketahui, bisa membuka tabir rahasia ini. Mari kita saling terbuka!" ajak Rehan.


Juan melirik sekilas, berpikir bahwa apa yang dikatakan Rehan ada benarnya. Kenapa mereka tak mencoba saling terbuka? Toh saling menguntungkan.


"Baiklah, apa ruginya jika kita saling terbuka. Wanita itu bernama Sera. Dia mengaku ibu kandung Ste. Di masa lalu ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan padamu. Namun tujuannya datang padaku, sama dengan permintaan Vita waktu itu. Yaitu menitipkan Stella kepadaku. Sampai semua aman, untuk Ste. Dia juga berjanji akan menjemput dan membawa Ste bersamanya. Setelah ia bisa menyelesaikan misinya." Juan menatap kosong ke depan. Sebab ada sedikit rasa takut tiba-tiba menyerang jiwanya. Juan takut jika wanita bernama Sera itu datang lagi ke sini dan meminta Stella darinya.


"Lalu, apakah dia tahu jika Ste hamil?" tanya Rehan lagi, tentu saja ia penasaran dan tidak mau setengah-setengah membuka semua rahasia ini.


"Tidak, sebab ketika dia datang padaku, Ste belum tahu dirinya hamil!" jawab Juan jujur.


Rehan mangut-mangut. Kemungkinan Juan juga belum tahu jika Jovan di penjara dan Anti masuk rumah sakit jiwa.


"Oke. Mendengar ceritamu sepertinya kamu juga belum sepenuhnya tahu tentang, Ste," ucap Rehan yakin.


"Mungkin! Yang aku tahu hanya Ste pernah menikah, lalu bercerai dan Ste bukan anak kandung orang tuanya. Hanya anak kandung ayahnya, tetapi bukan dengan ibu yang membesarkannya," jawab Juan jujur.


"Apa itu?" tanya Juan.


"Jovan bangkrut dan sekarang ia mendekam di penjara." Rehan menatap Juan. Menunggu reaksi Juan.


"Kok bisa? Apakah keluarganya menuntut atas apa yang ia lakukan pada Ste?" Juan membalas tatapan Rehan.


"Bukan? Dia terjerat kasus obat terlarang. Cuma anehnya, selama aku kenal beliau. Dia tidak pernah makek, Bro. Aku curiga ada yang menjebaknya. Dan ada lagi satu yang aneh, begitu kasus perceraian Ste dan Zein, kondisi perusahaan keluarga Ste seperti jungkir balik. Entah siapa yang melakukan ini pada mereka. Aku nggak tahu dan nggak mau tahu sih sebenarnya. Karena bagiku bagus pria itu mendekam di penjara. Biarpun bukan karena kasus penganiayaan terhadap Stella. Setidaknya dia menerima hukuman atas apa yang ia lakukan pada anak gadisnya," tambah Rehan.


Juan tidak menjawab. Sebab ia tahu, siapa sebenarnya dalang dari peristiwa yang menimpa Jovan. Hanya saja ia tak menyangka bahwa apa yang Sera ucapkan waktu itu, beneran ia wujudkan. Untuk mengirim pria yang memisahkan dirinya dan sang putri ke dalam neraka. Inilah Neraka yang ia sebut waktu itu.

__ADS_1


"Satu lagi, Bro. Sekarang ibu sambung Ste.Bu Anti, tahu kan?"


"Ya, tahu. Kenapa?" tanya Juan.


"Dia sekarang depresi Bro dan di rawat di Rumah Sakit Jiwa!" ucap Rehan.


Juan sedikit terkejut. Sebab jujur ia tak tahu apa-apa soal ini.


"Dan yang aku pikirkan sekarang adalah, bagaimana reaksi Ste kalau dia tahu keluarganya telah hancur gara-gara tuduhan itu!" ucap Rehan sedikit was-was.


"Entahlah, Bro. Aku jadi gregetan sama Zein. Kenapa dia nggak mikir dulu. Apa nggak bisa bedain mana perawan mana enggak. Bodoh sekali!" umpat Juan kesal.


"Tahu, dapat pikiran kolot dari mana itu. Eh, Bro. Satu lagi?" Rehan terlihat bersemangat.


"Apaan?" tanya Juan.


"Sejak kapan kamu tahu jika Zein adalah mantan suami Ste?" Rehan kembali menatap Juan. Mendesak pria ini untuk jujur padanya.


"Belum lama, pas kamu ketemu dia di kantor!" jawab Juan jujur.


Rehan diam. Lalu mengingat lagi kejadian itu. Berarti, setiap kali Juan berpamitan, pria ini pasti melakukan sesuatu.


"Berarti?" tanya Rehan menduga-duga.


"Ya, apa yang kamu pikirkan adalah benar. Namun awalnya bukan itu maksudku. Awalnya aku ingin menguji Ste, apakah dia bisa setia padaku. Sedangkan di depannya ada pria yang juga tampan. Aku ingin lihat reaksi istriku melihat pria lain selain aku dan ternyata aku mendapatkan fakta lain. Entahlah, ini bisa disebut kebetulan atau ini memang cara Tuhan menunjukkan kebenarannya padaku," ucap Juan menjelaskan situasi yang ia jalani waktu itu.


Rehan hanya diam. Tidak menyalahkan apa yang Juan lakukan. Juan memang wajib jeli, sebab sejatinya ia hanya ingin tahu apakah Stella serius padanya ataukah hanya memanfaatkannya dan berkat kejadian itu, Juan jadi tahu bahwa sebenarnya mantan Stella adalah Zein, sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung....


like komen jan lupa. lope u pull buat kalian πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2