
Juan jadi bingung sendiri. Di sisi lain ia sedang resah atas permintaan sekaligus kenyataan yang disampaikan oleh ibu mertuanya. Di sisi lain ada Rehan yang ingin ia mintai pendapat. Dan ternyata, pria itu sendiri juga sedang di landa keresahan. Namun, pria ini selalu berpegang teguh pada pemikiran hatinya. Bahwa apapun yang kita lakukan, maka akan kembali utuh seperti itu. Pun dengan kebaikan.
"Papi ngapain? Ngelamun terus perasaan?" tanya Stella tiba-tiba. Mengejutkan pria tampan ini. Terlebih dengan penampilannya yang begitu seksi dan menggoda.
Juan tersenyum melihat istri cantiknya hanya mengenakan selembar handuk ketika mendekatinya. Pikiran mesumnya seketika bangkit. Jika sudah begini, tentu saja Juan tak ingin menundanya lagi. Hidangan lezat ada di depan mata. Sayang jika tidak dinikmati, benar kan?
"Eh, tadi melamun sekarang tersenyum. Aneh bener Papi ni," ucap Stella. Tanpa berpikir macam-macam tentunya. Sepertinya dia juga tidak ingat, bahwa penampilannya kali ini sangat menggoda sang suami. Stella kembali membalikkan tubuhnya. Berniat melangkah ke ruang ganti untuk mengganti pakaian.
Namun, Juan malah memanggil. "Mam, sini!" pinta Juan dengan senyuman licik.
Stella yang polos tentu saja tak memahami arti senyuman licik Juan. Dengan lugunya ia pun kembali mendekati sang suami.
"Ya, Pi. Ada apa?" tanya Stella lembut.
"Mami sengaja ya?" balas Juan.
"Sengaja apa?" Stella terlihat bingung. Masih berpikir bahwa apa yang dia lakukan bukanlah suatu kesalahan. Apa lagi mengandung niat untuk menggoda pria tampan di depannya ini.
Juan yang terlanjur merasa tergoda, terang saja tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Diraihnya pelan tangan sang istri dan membawanya ke dalam panguannya.
"Eh, mau ngapain, Pi?" tanya Stella spontan.
"Siapa suruh tadi bangunin Papi cuma pekek handuk doang. Ya jangan salahin Papi kalau pengen ," jawab Juan terus terang.
Menyadari pikiran mesum sang suami. Stella pun tertawa. Apalagi melihat wajah sang suami yang begitu menggemaskan.
"Ini udah siang, Papi. Emang nggak takut telat ngantor?" tanya Stella berusaha mengalihkan perhatian Juan.
"Kan kantor punya, Papi. Tenang saja bisa diatur," jawab Juan. Dengan santainya pria ini pun membawa Stella ke dalam pangukannya.
__ADS_1
Beberapa kali Stella mencoba melawan hasratnya sendiri akan kenalan Juan. Namun sayang, Juan sudah terlanjur terpesona. Terlanjur ingin. Pria ini terus membakar hasrat tersebut. Tanpa meminta persetujuan Stella ia pun langsung membawa wanita ayu ini ke atas ranjang dan memulai mengajak sang istri untuk kembali saling miliki.
Jika sudah begini, Stella tak mungkin menolak. Suaminya begitu baik dalam segala hal. Baik dalam tutur kata maupun urusan ranjang. Juan selalu mampu meluluhkan hati Stella. Begitupun sebaliknya.
Mereka mengakhiri percintaan panas itu dengan ciuman yang menggairahkan.
"Terima kasih, Sayang," bisik Juan selepas menikmati sang istri. Sedangkan Stella hanya tersenyum dan membalas ucapan itu dengan memainkan anak rambut Juan. Sesekali wanita ini juga mencium kening pria yang selalu ada untuknya ini.
"Sama-sama suamiku," jawab Stella tak kalah lembut.
"Perasaan Mami lama nggak dapet-dapet?" tanya Juan ketika ingat sesuatu yang penting baginya itu.
"Udah, Papi. Yang Papi pergi seminggu tu, Mami dapet kok," jawab Stella jujur.
"Oke baiklah!" Juan kembali mengecup bibir sang istri.
"Emang kenapa, Pi? Takut ya kalau Mami hamil?" pancing Stella.
"Baiklah, serah Papi aja. Tapi ngomong-ngomong kita kapan mau dateng ibu?" tanya Stella mengingatkan.
"Kan sabtu ini to, Sayang. Masak lupa!" jawab Juan.
"Oia, habis adek imunisasi ya. Lupa Mami, maaf Pi," jawab Stella manja.
Inilah sisi yang paling Juan suka dari Stella. Tak pernah gengsi meminta maaf jika salah. Selalu jujur jika menginginkan sesuatu.
"Papi nggak ngantor?" tanya Stella.
"Malas, Mam," jawab Juan.
__ADS_1
"Loh, kok. Kenapa?" tanya Stella lagi.
"Di rumah ada kerjaan yang lebih seru," jawab Juan dengan senyum meledek seperti biasa.
"Apa tu?" tanya Stella lugu. Wajah imut tanpa make up itu terlihat sangat menggemaskan. Sehingga membuat Juan betah berlama-lama memeluknya.
"Pi, kita mau kek gini sampai kapan?" tanya Stella.
"Kalau bisa seharian full Mam," jawab Juan dengan tawa lirihnya.
"Dih, mana bisa begitu. Berliana nyariin tangki-nya nanti," balas Stella tak kalah konyol.
"Kan di kulkas masih ada, Mi. Hari ini Mami khusus buat, Papi. Nggak boleh ke mana-mana." Juan kembali menarik selimut dan menutupi tubuh telanjang mereka. Memeluk erat sang istri agar wanita ayu itu tidak kabur dengan alasan apapun.
"Astaga, Papi. Coba aja kalau gitu. Awas kalau Papi yang merengek pengen ketemu Berliana," ancam Stella.
"Itu urusan nanti, yang jelas sekarang Mami milik Papi. Nggak ada alasan, apa lagi punya pikiran untuk kabur." Sepertinya Juan memang pemaksa jika berhubungan dengan cinta. Apapun yang ia inginkan perihal Stella, perihal cinta mereka. Semua harus menuruti keinginannya dan Stella yang paham tentang hal itu, tentu saja dengan kerelaan hatinya ia pun ikhlas.
***
Suara alarm membangunkan pria tampan bernama Zein. Dengan cepat pria ini pun bangun. Duduk dan melihat sekeliling.
Ingatanya seketika terkumpul, bahwa saat ini ia tidak sedang berada di Jakarta. Tetapi di tepat lain. Terlebih ketika dia melihat seseorang ya g masih terlelap sambil meringkuk di sofa.
Ditatapnya seseorang tersebut. Zein berasa mimpi. Sebab ia melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan wanita yang sampai saat ini ia cintai.
Dengan senyum bahagia, pria ini pun mendekati seseorang tersebut. Benar, seseorang ini sangat mirip dengan Stella. Sangat-sangat mirip.
Namun, ketika ia hendak menyentuh pipi mulus itu, seketika Zein ingat jika seseorang yang sedang ia tatap bukanlah Stella. Melainkan adiknya.
__ADS_1
Dengan cepat Zein pun menarik tangannya kembali. Menatap nanar pada gadis itu. Zein menyesal, ternyata hatinya belum bisa merelakan Stella untuk yang lain. Bahkan Vita pun ia anggap Stella. Beberapa detik kemudian, Vita terlihat mengeliat. Dengan cepat Zein pun menghapus air mata kerinduannya untuk Stella. Agar gadis ini tidak menyadari kebodohannya.
Bersambung...