
Juan meminta maaf pada kedua sahabatnya, sebab Stella belum bisa menemui mereka.
"Aduh maaf, Bro. Bumil lagi kurang enak badan. Muntah terus hari ini, jadi lemes." Juan duduk di samping Zein.
"Nggak pa-pa, Bro. Namanya juga Bumil. Keadaannya nggak bisa diprediksi. Kayak mantan istrinya dia no, pas lagi hamil. Izin terus, bikin pusing bosnya aja," canda Zein sembari menendang pelan kaki asisten sekaligus sahabtanya ini.
"Ya kan demi cinta, Bos!" balas Rehan terkekeh. Bukan hanya Rehan, Juan dan juga Zein pun terkekeh.
Mereka berbincang panjang lembar, hingga tak terasa hari pun mulai beranjak sore. Waktunya Rehan membawa kembali Zein ke hotel. Sebab, malam ini mereka harus kembali ke Jakarta.
"Hati-hati ya, Bro. Sory nggak bisa anter ke bandara. Nanti Gani yang bakalan nganter kalian ke bandara," ucap Juan sembari memeluk kedua sahabatnya bergantian.
"Nggak pa-pa, Bro. Kita ngerti kok. Nanti kalau baby udah lahir, jangan lupa kabarin. Kita usahain ke sini," tambah Zein.
"Oke, nanti pasti aku kabarin," jawab Juan.
__ADS_1
Rehan yang sudah ada di luar rumah menunggu sang big bos sembari bercengkrama dengan Gani yang tak lain adalah asisten Juan. Mereka terlihat akrab, meskipun jarang bertemu.
"Kalau ada temen cewek kenalin dong?" canda Gani.
" Ada cewek, emang situ siap dipecat," balas Rehan sedikit kesal. Sebab Rehan sangat tahu bagaimana Juan. Pria ini tak akan mentoleransi pegawainya yang berani main perempuan. Kalaupun ia ingin nikah, pasti bakalan ia bantu. Dicariin jodoh kalau perlu, tapi tidak kalau cuma main-main.
"Iya bener, bisa digantung aku kalau ketahuan pacaran nggak jelas," tambah Gani terkekeh.
Rehan yang iseng, tak sengaja menangkap bayangan sosok perempuan di gendela kamar Juan. Tak begitu jelas karena terhalang gorden, tapi bayangan yang ia tangkap beberapa detik itu serasa tak asing. Seperti seseorang yang ia kenal. tapi siapa?
"Oke, Bro. Kita balik ya, makasih buat jamuannya. Salam buat nyonyamu, sehat-sehat terus buat kalian ya," ucap Zein, kemudian ia pun masuk ke dalam mobil.
"Siap, Bro. Kamu juga hati-hati ya. Salam juga buat nyonyamu. Kapan-kapan ajak lah ke Batam. Biar istri kita bisa ngumpul bareng juga," ajak Juan. Zein hanya tersenyum sedangkan Rehan memilih diam. Tak mungkin baginya untuk bicara kejujuran. Karena mau bagaimanapun itu adalah aib bosnya yang wajib ia tutupi.
Mobil yang dikendarai oleh Gani akhirnya meninggalkan kediaman Juan. Namun ada satu hati yang masih tertinggal. Yaitu hati Rehan. Hati pria ini penasaran akut. Mencoba mengingat wanita yang ia lihat itu mirip siapa. Sayangnya, konsentrasi Rehan buyar mana kalau Zein mengajaknya berbicara.
__ADS_1
"Gimana Re, cocok nggak desain yang di desain oleh tim Juan?" tanya Zein.
"Eh maaf, Bos. Yang mana?" tanya Rehan gugup.
"Kamu kenapa?" tanya Zein.
"Ah enggak, Bos. Nggak kenapa-napa. Cuma lagi kangen Niana aja," jawab Rehan mencoba menutupi apa yang ia pikirkan. Namun Zein buka pria bodoh. Ia mengenal pria yang bekerja padanya ini bukan sehat untuk dua tahun. Ia bisa tahu mana Rehan ya g berbohong dan mana Rehan yang jujur.
Zein tak melanjutkan pembahasannya. Ia memilih memberi kesempatan pada Rehan untuk bermain dengan pikirannya. Zein tak sekolah itu dengan sang asisten. Baginya Rehan juga butuh waktu untuk memikirkan masalah pribadinya. Tak melulu berpikir tentang pekerjaan lain.
Suasana di mobil kembali hening. tak ada percakapan di antara mereka. Hanya ada suara deru mobil dan klakson yang tertangkap di telinga mereka. Kini suasana hening ini kembali menuntun Rehan untuk mengingat siapakah gerangan bayangan wanita yang tertangkap oleh matanya. Bayangan wanita yang merasa ia kenal, tapi tak ingat siapakah gerangan wanita yang ia kenal dan mirip dengan bayangan itu. Rehan benar-benar lupa.
Bersambung...
Siapa yang mau bantu Rehan mengingat. Kalau dah ingat kira-kira Rehan bakalan kasih tahu Zein nggak yaπ
__ADS_1