
Dalam waktu yang bersamaan, tak sengaja Lutfi melewati tempat di mana Safira mengalami kecelakaan. Mata Lutfi tak sengaja membaca plat nomer yang ia ketahui itu adalah plat nomer mobil milik Safira. Pikiran pria ini langsung tak nyaman. Hatinya bergemuruh tak karuan. Pria ini gemetar. Di tambah, ia melihat beberapa polisi sedang berusaha mengeluarkan sang korban dari dalam mobil.
"Ya Allah, mungkinkah itu bu Fira?" tanya Lutfi ketika ia kembali berusaha menyakinkan pandangannya.
Lutfi cepat-cepat meminggirkan mobilnya. Memarkirkan kendaraannya tersebut dan segera berlari memastikan apakah benar, bahwa seseorang yang mengalami musibah itu adalah putri majikannya.
"Safira!" teriak Lutfi ketika para petugas itu berhasil mengeluarkan wanita itu dari dalam mobil.
Lutfi shock seketika. Sebab ia melihat begitu banyak darah yang keluar dari kening wanita itu.
"Bapak kenal korban?" tanya salah polisi yang sedang bertugas.
"Saya sopir pribadi keluarga nona ini, Pak!" jawab Lutfi tegas.
"Oke, kamu ikut masuk ke ambulance," perintah bapak polisi itu.
"Baik, Pak!" jawab Lutfi, tak menolak.
Pria tampan ini pun langsung masuk ke dalam mobil ambulance yang membawa Safira. Tanpa sadar, Lutfi langsung memegang tangan Safira dan meniupnya beberapa kali. Seperti berusaha menyadarkan wanita itu.
Perhatiannya hanya terpusat pada Safira, hingga dia lupa mengabari Laila maupun Laskar tentang musibah yang menimpa anak gadis mereka.
Lutfi sibuk menyadarkan wanita yang pernah membantunya itu. Ia berharap tak terjadi apapun pada wanita ini. Ya itulah harapan yang kini tertancap di hati Lutfi.
***
Di sisi lain, Vita terkejut dengan kabar yang ia terima dari kepolisian. Vita memang sengaja menelepon nomer milik Safira, karena sahabatnya itu tak kunjung datang.
__ADS_1
Mereka memang telah membuat janji temu. Safira berjanji akan menjemputnya dan mengantarkannya ke butik langganan keluarga Safira. Yang menurut wanita itu, butik di sana sangat bagus.
Stella yang melihat adiknya kebingungan tentu saja heran. Ia pun segera mendekati sang adik dan bertanya. "Ada apa Vit?" tanya Stella.
"Itu Kak, itu!" jawab Vita gugup.
"Itu apa?" dari arah belakang Vita, Juan ikut penasaran.
"Safira kena musibah, Bang. Dia kecelakaan!" jawab Vita sembari menyibak rambutnya. Tentu saja gadis ini ketakutan, sebab dialah yang mengajak Safira pergi.
"Astaghfirullah hal azim ... terus gimana keadaannya sekarang?" tanya Stella ikutan gugup. Karena Vita sudah pamit, jika dia akan pergi bersama Safira ke butik. Lalu tanpa ada angin tanpa ada hujan, mendengar kabar demikian. Tentu saja Stella shock. Terbesit sebaris ketakutan juga di relung hati wanita ayu ini. Bagaimana tidak? Stella takut, jika keluarga Safira akan menyalahkan adiknya. Akan musibah yang menimpa putri mereka.
"Abang mau antar Vita ke rumah sakit nggak?" tanya Vita gugup. Sebab tak mungkin baginya untuk membawa mobil dalam keadaan seperti ini.
"Boleh! Ayok lah. Mami nggak pa-pa kan kalo Papi antar Vita ke rumah sakit?" tanya Juan pada sang istri. Mau bagaimanapun Safira adalah mantan kekasihnya. Juan harus menjaga hati wanita yang kini menjadi masa depannya.
"Makasih, Sayang. Papi janji akan tetap jaga batasan heemm!" jawab Juan sembari memberikan kecupan di kening wanita yang sangat dicintainya ini.
"Mapi percaya sama, Papi." Stella memberikan senyum tertulusnya untuk pria yang sangat dicintainya ini.
Juan kembali memeluk dan mencium kening sang istri. Entahlah, Juan serasa memiliki trauma berurusan dengan keluarga Safira. Terlebih Safira nya sendiri. Juan kapok ditinggal oleh belahan jiwanya, gara-gara bermasalah dengan wanita dari masa lalunya itu.
Bukan dendam atau tidak suka, tapi entahlah. Juan seperti berada dalam situasi yang kurang nyaman jika bertemu dengan Safira.
"Sebentar ya, Vit. Abang ganti baju dulu," ucap Juan meminta izin. Sedangkan Stella, mengikuti langkah sang suami untuk melayaninya tentunya.
Di dalam kamar, Juan terlihat tak nyaman. Stella tahu apa yang dipikirkan sang suami.
__ADS_1
"Papi kenapa?" tanya Stella sembari membantu sang suami melepaskan kancing-kancing kemejanya.
"Nggak, Papi oke!" jawab Juan malas.
"Mami nggak pa-pa, Pi. Serius! Kan Mami udah bilang kalo Mami percaya sama Papi," ucap Stella, mencoba menenangkan sang suami.
"Papi tahu, entahlah .... Papi hanya kurang nyaman saja kalo bertemu mereka. Bukan Papi dendam, Mam. Tapi, melihat mereka, seperti membuka luka lama," jawab Juan jujur.
Stella tersenyum, lalu ia pun memberika kecupan penuh cinta di bibir pria yang selalu memperlakukan dirinya gak ratu ini.
"Kan Papi sendiri yang bilang, lupakan masa lalu. Lalu buka lembaran baru. Tatap masa depanmu, jangan mau terpedaya oleh dendam yang hanya akan membuatmu terjerumus ke dalam jurang penderitaan. Iya kan? Papi kan suka nasehatin Mami begitu." Stella merangkul kan tangannya ke leher sang suami. Lalu, kembali ia mengecup bibir itu gemas.
Sedangkan Juan masih bertahan dengan muka cemberutnya.
"Pi, Mami mau tanya. Papi jawab jujur ya!" pinta Stella.
"Apa tu!" balas Juan.
"Papi cemburu nggak sih sama Zein?" celetuk Stella.
"Nggak! Kan Papi percaya sama Mami. Kan Papi yakin kalo hati Mami sekarang punya Papi," jawab Juan jujur.
"Sama! Seperti itulah rasa yang ada di hati Mami. Mami nggak masalah Papi ketemu lagi sama Fira. Karena Mami percaya sama Papi. Percaya, kalo di hati Papi cuma ada Mami dan anak-anak kita," jawab Stella yakin.
Juan tersenyum. Kali ini hatinya merasa lebih tenang. Bagaimana tidak? Stella begitu memahami inginnya. Stella bukan hanya bisa menjadi istrinya, tetapi juga bisa menjadi sahabat, teman curhat, teman berbagi keluh kesah. Dan yang paling penting, Stella juga bisa menjaga hati hanya untuknya.
Bersambung...
__ADS_1