PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Masih Berhati-hati


__ADS_3

Safira merasa beruntung dengan tangisan Naya yang membebaskannya dari jeratan pria yang kini dengan sengaja mengikatnya dengan cinta. Karena ia merasa belum siap. Dalam arti dia masih ingin menyakinkan dirinya sendiri bahwa ia memang pantas untuk Lutfi dan Naya.


Melihat Naya menatapnya, Safira pun segera melangkah mendatangi gadis cilik itu. Berbaring di sampingnya. Lalu menenangkankannya. Sedangkan Lutfi yang saat itu sedang dimabuk asmara, tentu saja tak ingin kehilangan momen ini. Ia pun ikut berbaring di samping Safira. Bukan mendekat pada Naya.


Sungguh, Safira sedikit risih. Karena tanpa izin Lutfi memeluk mesra perutnya dan menyandarkan dagunya di lengan sang istri. Sehingga Safira susah bergerak, terkunci oleh lilitan tangan dan kaki pria iseng ini.


"Lutfi, aku mohon jangan nakal begini!" pinta Safira lembut.


Lutfi enggan mendengarkan larangan itu. Ia malah tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di punggung sang istri. Menghirup aroma tubuh Safira yang sangat ia suka.


"Lutfi ih, kamu sekarang ngalah-ngalahin Naya. Lihat Naya, ngetek lalu tidur lagi. Kalian emang menggemaskan, bener-bener lucu!" ucap Safira sembari menunjukkan tingkah lucu baby Naya.


"Dia juga jatuh cinta sama kamu, Bun. Sama sepertiku. Aku juga jatuh cinta padamu. Karena sifat baikmu. Kamu sangat baik, aku tahu itu. Meskipun kadang-kadang labil. Eh, lihat, Naya ngences. Lucu sekali dia, seperti lama nggak tidur aja ni anak. Masak udah bangun kena ketek Bunda, tidur lagi," ucap Lutfi sembari mencolek pipi gembul sang putri. Lutfi sendiri heran, kenapa Naya sekarang jadi gembul begini. Padahal, sebelum bertemu Safira, bisa dikatakan dia sangat Kurus.


Di lain pihak, Safira hanya melirik, melongo, heran dengan sebutan 'Bunda' yang Lutfi ucapkan untuknya. Safira tidak menyangka, bahwa ia akan mendapatkan hadiah super istimewa itu, sekarang.


"Kenapa melongo begitu? Minta dicium lagi ya, ha?" tanya Lutfi seraya memberikan kecupan di pipi mulus wanita cantik ini.


"Nggak! Aku hanya terkejut saja!" jawab Safira jujur.


"Terkejut? Terkejut kenapa?" tanya Lutfi, malah ikutan heran.


"Tadi kamu panggil aku apa?" Safira masih belum percaya dengan pendengarannya.


"Bunda! Kenapa emang? Kamu bundanya Naya kan? Nggak mau di panggil Bunda. Ya udah kalo gitu, aku panggil emak seksi aja, mau?" jawab Lutfi dengan candaan konyol seperti biasa.

__ADS_1


"Bukan, bukan itu. Bukan aku tak mau, aku hanya merasa eksaited saja. Ini seperti sebuah hadiah yang luar biasa untukku. Aku hanya tidak menyangka akan mendapatkan panggilan itu secepat ini Fi, itu saja!" jawab Safira jujur. Tak terasa, butiran bening keluar dari sudut-sudut mata cantiknya. Pertanda apa yang ia ungkapkan adalah sebuah kebenaran.


"Jangan menangis, Ra! Kamu adalah ibunya Naya. Wajar kalo dia panggil kamu Bunda. Wajar kalo aku juga memanggilmu demikian. Aku mau, kamu dan aku, kita belajar saking menerima. Belajar saling memahami. Aku ingin membuatmu bahagia. Sungguh aku ingin menua bersamamu. Kamu bisa cerita apa yang membuatmu ragu, nanti. Aku siap menungu saat itu tiba," jawab Lutfi, kali ini pria ini memberanikan diri mengecup paksa bibir wanita cantik ini. Sedangkan Safira tidak menolak namun juga tidak membalas. Namun, dalam hatinya berharap ini adalah keputusan terbaik.


***


Rasa penasaran tentang apa yang terjadi terhadap sang calon suami, akhirnya menuntun Vita untuk datang ke kantor pria tersebut.


Vita hanya ingin tahu, mengapa Luis berubah padanya, apa yang membuat pria tampan itu bersikap demikian.


Kalau hanya karena alasan terlambat, itu sangat tidak masuk akal dia bisa se meledak itu. Vita yakin pasti ada yang sedang dirisaukan oleh pria itu.


Agar tidak menambah prasangka buruk di dalam hatinya. Vita tetap memutuskan untuk mencari tahu sendiri, apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan mereka.


Dengan cekatan resepsionis itu pun segera menghubungi sekertaris sang atasan. Namun, sebelum panggilan itu tersambung, Vita melihat Luis sedang bersanda gurau dengan seorang wanita. Dan mereka terlihat sangat akrab.


"Mbak, Mbak saya ketemunya nanti aja. Saya telpon beliau secara pribadi. Oke!" ucap Vita seraya meminta kartu identitasnya. Sang resepsionis pun segera memberikan apa yang Vita inginkan. Lalu, setelah itu ia pun segera berlari mendatangi Luis.


"Uis!" panggil Vita.


Luis yang mendengar suara benar kekasih tentu saja langsung menengok kebelakang. Mencari arah suara.


Vita tersenyum, lalu Luis pun sama. Pria itu juga tersenyum manis kepadanya.


"Hay, kapan datang. Kok nggak bilang-bilang. Dijemput sama siapa?" tanya Luis sembari mengulurkan satu tangan menyambut sang kekasih datang.

__ADS_1


"Belum lama, habis naroh barang ke apartemen terus ke sini. Kamu udah makan?" balas Vita dengan senyum termanis seolah tidak terjadi apa-apa pada hatinya.


"Aku udah makan sama dia. Oiya, kenalin ini Klara, sekertaris baru aku. Klara kenalin ini Novita calon istriku," ucap Luis memperkenalkan mereka.


Vita dan Klara pun saling bersalaman.


"Ke atas yuk!" ajak Luis pada Vita.


"Boleh deh, tapi nggak lama. Hari ini aku mau ketemuan sama pemilik ruko. Buat aku buka usaha," ucap Vita jujur.


"Oh, jadi ambil ruko yang di Kemang?" tanya Luis. Tentu saja ia ingin tahu dengan apa yang hendak calon istrinya kerjakan dan itu wajar menurut Vita.


"Jadi, aku udah cocok sama harganya!" jawab Vita.


Luis mengangguk pelan. Lalu ia pun meminta sekertarisnya untuk jalan duluan. Sedangkan dia masih ingin jalan santai sembari mendengarkan sang calon istri bercerita dengan usaha yang hendak ia bangun.


"Kamu nggak masalah kan kalo aku buka usaha sendiri?" tanya Vita memperjelas izin yang akan Luis berikan.


"Nggak pa-pa. Asalkan kamu nggak melalaikan tugasmu sebagai istri dan ibu dari anak-anak kita!" jawab Luis sembari tersenyum.


Itu adalah jawaban surper umum yang diberikan semua pria jika istrinya hendak berkarir dan Vita paham itu.


Sampai di sini Vita belum menemukan kejanggalan perihal sifat yang Luis keluarkan tempo hari. Namun, ia harus tetap berhati-hati menghadapi pria ini. Jangan sampai sikap tempramennya keluar lagi. Sungguh, Vita trauma dengan sikap kasar seorang pria. Mengingat masa lalunya, sang ayah juga begitu sadis terhadap ibu dan juga kakaknya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2