PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Wanita Barbar


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi, Safira kembali tak sabar. Ia pun segera melangkah cepat untuk segera sampai di tempat di mana suaminya berada saat ini. Tentu saja, selain ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia juga ingin memarahi pria itu. Kenapa tidak menjawab pesan sekaligus kenapa menghubungi orang lain. Bukan dirinya. Safira kesal, ia sangat tidak terima itu.


"Tolong titip putriku, Bang! Fira ingin lihat reaksi pria itu melihat wajah Fira yang sedang kesal padanya ini!" pinta Safira dengan amarah yang kembali memuncak.


Zein tak menjawab apa yang diucapkan oleh sang adik. Ia hanya menurut. Mengambil bayi mungil tersebut dari gendongan wanita pemarah itu. Tetapi dalam hatinya tertawa, bagaimana tidak? Bukankah Lutfi sudah terbiasa melihat wajah marahnya itu, lalu apa istimewanya. Iya kan?


Zein mengikuti langkah Safira yang terlihat tidak sabar itu. Pria ini hanya bersikap santai sembari bermain dengan keponakan sambungnya. Tetapi ia juga tak sabar ingin melihat pertunjukkan seru dua sejoli aneh ini. Zein tak sabar ingin segera melihat Lutfi diserang oleh singa betina yang siap mamangsanya.


Benar saja, ketika sampai di ruangan di mana Lutfi berada, Safira langsung melipat kedua tangannya dan menatap tajam ke arah sang suami.


"Bun!" sapa Lutfi gugup. Bagaimana tidak? Ia sudah tahu jika Safira pasti sedang marah padanya saat ini. Karena ia tahu, ia tak memberi kabar.


"Apa, bun-bun? Aku bukan istrimu, Kan? Istrimu abang kan! Ya udah sana kamu panggil bun aja ke abang," ucap Safira kesal. Masih dengan tatapan ingin marah pada pria itu.


"Jangan gitu lah, Sayang. Ponselku disita sama pihak kepolisian. Sedangkan aku hanya ingat nomer ponsel abang. Maaf, ya! Maafkan aku," jawab Lutfi jujur. Sembari mengelus pundak wanita tukang merajuk itu.


Mendengar jawaban sang suami, emosi Safira bukannya mereda. Justru wanita ini malah terlihat semakin geram. Bagaimana bisa? Seorang suami yang diingat malah nomer ponsel orang lain. Bukan nomer ponsel sang istri.


"Kamu keterlaluan Lutfi, yang kami ingat malah nomer ponsel abang. Bukan nomer ponselku! Astaga, kamu bener-bener, Lutfi..." Safira semakin merajuk kesal.

__ADS_1


"Aduh salah lagi," gumam Lutfi, pria ini pun segera mendatangi istri pemarahnya itu, lalu menarik wanita itu agar duduk di sebelahnya.


"Gini lo, Bun. Bukan maksudku menduakanmu. Tapi saat ini, jujur aku sedang bingung dengan tuduhan polisi terhadapku. Sehingga membuyarkan apa yang ada di dalam pikiranku. Bukan aku nggak tahu nomer ponsel, Bunda. Tapi sungguh, ketika polisi itu memberi waktu untukku menghubungi keluarga, hanya nomer ponsel abang yang terlintas. Maafkan ya, sungguh aku tidak bohong," jawab Lutfi jujur. Nada suaranya juga ia perlembut, agar sang istri tidak marah-marah lagi.


Safira diam, hanya menatap tajam ke arah pria yang sehari semalam ini membuatnya khawatir. Membuat pikirannya melayang mikirkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi padanya.


"Sudah, sini ... jangan marah lagi ya. Aku aja nggak nyangka, Bun, kalo kejadiannya bakal serumit ini. Aku berniat baik. Aku yang nolongin dia. Yang bawa si korban ke rumah sakit. Masak aku yang dituduh nabrak. Mana anaknya belum sadar sampai sekarang. Gimana caranya aku ngebuktiin kalo aku nggak bersalah. Mana kejadiannya di jalan sepi. Nggak ada bukti, Astaghfirullah!" ucap Lutfi mulai frustasi dengan keadaan yang terjadi padanya saat ini.


"Sabar, Fi. Aku lagi cari seseorang yang bisa bantu kamu. Semoga keluarga korban bisa menerima dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada anggota keluarga mereka," jawab Zein mencoba mendinginkan suasana.


"Semoga aja, Bang. Seharusnya mereka tahu kalo aku nggak salah. Kan mobil abang yang aku bawa nggak ada bekas nabrak orang. Kenapa jadi aku dituduh nabrak orang. Ahhh, kesel banget rasanya!" jawab Lutfi tak habis pikir.


Belum selesai mereka berdebat, tiba-tiba datanglah seorang perempuan dengan berpakaian modis mendekati mereka. Menatap tajam ke arah Lutfi, Zein dan juga Safira.


"Maaf, Bu. Kami belum menetapkan beliau sebagai tersangka. Tetapi ada indikasi beliau ini adalah tersangkanya," jawab petugas tersebut.


"Oh, jadi pria ini!" jawab wanita itu sinis.


Mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan,, Lutfi pun tak Terima. Dengan berani, ia pun segera melawan ketidakadilan yang ia terima.

__ADS_1


"Anda jangan ngarang ya, Pak. Saya yang menolong wanita itu dan membawanya ke rumah sakit. Bukan saya yang melakukan tidak kejahatan itu. Enak saja, sembarangan sekali anda!" jawab Lutfi berusaha melawan dan membela diri.


"Yang saya katakan adalah indikasi, Bapak. Harap anda tenang! Jika anda bisa membuktikan bahwa, bukan anda pelakunya, kami pasti akan membebaskan anda. Anda tidak perlu khawatir," jawab petugas itu lagi.


"Terus waktu saya yang tersita, apakah kalian bisa mengembalikannya? Terus kemarahan istri saya, apakah kalian bisa menenangkannya? Kalian pikir aku apaan? Niat baik dibalas penghinaan seperti ini, dasar gila!" jawab Lutfi makin tak bisa mengendalikan emosinya.


"Biasa aja, Mas. Nggak usah ngegas. Kan Bapaknya juga udah bilang, kalo bukan situ yang nglakuin, situ pasti dibebasin. Gitu aja kok marah!" jawab wanita berpakaian modis itu, tak mau kalah.


"Masalahnya bukan gitu, Mbak. Saya kan yang nolongin. Kenapa malah saya yang dituduh. Ini kan nggak masuk akal sama sekali," balas Lutfi lagi.


"Ya sabar, lah. Mereka kan lagi nyari bukti. Seharusnya yang marah di sini itu saya, karena kamu udah bikin adikku tak sadarkan diri begitu. Dasar pria gila!" jawab wanita itu kesal.


Terang saja, kembali diperlakukan tak adil, Lutfi pun kembali menyuarakan isi pikirannya.


"Mbak.... harus berapa kali saya bilang, bukan saya yang menabrak adiknya, Mbak. Justru saya yang nolongin. Bawa adiknya, Mbak ke rumah sakit. Astaghfirullah.... Kalo saya yang nabrak, pasti mobil saya ada bekasnya, Mbak. Atau mungkin saya buang aja adik, Mbak kalo saya berniat jahat. Ngapain saya mesti capek-capek cari perkara, iya kan," jawab Lutfi kesal.


Wanita itu pun sama, ia pun kembali membalas apa yang Lutfi ucapkan. Sepertinya wanita ini juga tidak suka dengan pembelaan yang dilakukan oleh Lutfi.


"Bisa aja kamu bawa adikku ke rumah sakit, biar di kira penolong. Padahal kamu pelakunya," jawab Wanita itu, seperti apa yang ia dengar.

__ADS_1


Lelah rasanya jiwa dan raga Lutfi mengulang setiap kata pembelaan yang ia ucapkan. Percuma, sebab menurutnya, yang ia hadapi adalah orang-orang bodoh yang tuli.


Bersambung...


__ADS_2