
Melihat Vita keluar dari kamar dan melangkah mendekati mereka, tentu saja membuat Juan yang mengerti sikon langsung mengajak Stella dan Berliana untuk masuk ke kamar mereka. Dan membiarkan Zein serta Vita menyelesaikan masalah mereka.
"Kita tinggal dulu ya, Zein. Kami ke sini mau ketemu Vita kan?" tanya Juan.
"Ya, aku ke sini memang ada perlu dengan mbak tukang marah satu ini," jawab Zein dengan candaan seperti biasa. Padahal Juan tahu bahwa itu hanyalah akal-akalan Zein untuk menutupi perasaan yang ia rasakan saat ini.
"Oke, selesaikan tujuanmu. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Oiya Zein, sebelum pergi kita makan dulu ya," ajak Juan mengingatkan.
"Sorry, Bro. Bukannya menolak rezeki, tapi serius, ini masih banyak banget tugasku. Tahu ndiri, big bos nak kawin. Nasib asisten harus ektra strong dan tepat waktu, " jawab Zein sembari terkekeh dan mengulurkan tangan pada sang sahabat. Bermaksud sekalian pamit.
"Oke deh kalo begitu!" jawab Juan. Pria tampan ini pun langsung menggendong sang putri dan menggandeng sang istri untuk mengajak mereka menjauh dari dua sejoli yang saat ini sedang berperang melawan hati.
"Ada apa Abang ke sini?" tanya Vita ketus, seperti biasa.
"Astaga! Belum apa-apa udah diketusin begini," jawab Zein sambil menggosok tengkuknya.
"Biarin! Habis Abang ngeselin. Kenapa Abang bisa kerja sama orang? Kenapa Abang nggak buka usaha sendiri? Abang pikir itu bagus?" cecar Vita kesal.
"Loh, ada apa ini? Kenapa kamu tanya begitu? Apa salahnya kalo aku kerja sama orang? Halal kan?" balas Zein sedikit kurang nyaman dengan pertanyaan aneh Vita.
__ADS_1
"Bukan itu masalahnya, Abang. Sebagai adik, Vita nggak suka lihat Abang disuruh-suruh orang," jawab Vita sengit.
Zein mengerutkan kening aneh. Adik? Serius adik? gerutu Zein dalam hati. Pria ini hanya tersenyum melihat gadis yang mengaku sebagai adiknya ini, marah-marah tak jelas padanya.
"Baiklah, terus Vita maunya Abang gimana?" tanya Zein mulai mengalah.
"Pokoknya Abang jangan kerja sama orang. Bikin usaha sendiri. Apa kek? Kan duit Abang banyak. Mau buat apaan?" Vita kembali mengeluarkan amarahnya.
Zein menyunggingkan senyum lucu. Ternyata Vita jauh lebih menggemaskan dibanding Safira.
Biasanya Safira hanya bergelut manja dan meminta uang jajan. Tetapi Vita, bukan meminta itu semua, tetapi malah berani mengaturnya.
"Eh, iya. Tapi jangan nangis. Entar bisa dicekik kakakmu aku. Dikira kamu aku apa-apain lagi," ucap Zein berusaha menenangkan Vita yang menangis dalam diam.
"Oke, Oke. Abang janji, setelah pernikahanmu dengannya, Abang akan resign. Oke! Abang janji. Udah hapus air matamu, jangan sampai kakakmu lihat. Jangan sampai tercipta kesalahpahaman lagi antara Abang dan kelurgamu. Vita paham kan maksud, Abang!" ucap Zein mencoba meminta pengertian Vita.
"Tahu ah!" Vita merajuk malas.
Zein jadi bingung jika begini. Sebenarnya apa yang diinginkan gadis ini darinya. Kenapa tiba-tiba marah tak jelas seperti ini. Zein menatap wajah Vita yang terus menunduk di hadapannya. Mencoba mencari tahu keinginan hati gadis ini. Namun, Zein gagal. Sebab Vita sama sekali tak mau menatap matanya.
__ADS_1
"Vita oke?" pancing Zein.
Vita mengangguk lemah.
"Abang ke sini untuk mengantarkan gaun untukmu. Vita udan tahu kan itu gaun dari siapa?" Zein masih setia menatap wajah gadis yang kini terlihat bersedih itu.
Vita kembali mengangguk. Namun aneh, dia terlihat tidak bersemangat.
"Vita mau kado apa dari Abang? Untuk hadiah pernikahan Vita dengan dia?" tanya Zein lembut. Entahlah kenapa dia bisa bertanya seberani ini. Padahal jika dilihat lagi, harinya serasa tertusuk ribuan jarum ketika ia berani mengeluarkan kalimat itu. Zein sadar, itu adalah konsekuensi yang harus ia bayar dari keberaniannya jatuh cinta pada gadis yang pernah berhubungan dengan kisah rumit masa lalunya.
Vita sendiri pun sama. Pertanyaan Zein seolah membiarkannya dimiliki pria lain. Membuat Vita sakit hati dan enggan menjawab pertanyaan itu.
"Oke, kalo Vita nggak mau kado dari Abang. Abang kadonya doa aja ya. Semoga Vita sama pak bos, semoga ini adalah pernikahan pertama dan terakhir kalian. Selalu bersama dalam setiap langkah. Bisa melewati rintangan apapun bersama dan semoga bisa segera mendapatkan momongan. Aamiin!" ucap Zein.
Lagi-lagi doa itu serasa seperti tapi yang berhasil mencekik lehernya. Entah kenapa Vita enggan mengamini doa itu. Padahal Zein mengucapkan doa itu dengan ketulusan hati yang ia miliki.
Vita masih diam, enggan menatap Zein. Enggan mempertemukan matanya dengan mata pria itu. Vita takut tak mampu menahan hatinya. Vita takut tak mampu menahan egonya. Vita takut tak bisa menahan keinginannya untuk memeluk pria itu. Pria yang diinginkan oleh hatinya tetapi ditolak oleh keadaannya.
Bersambung....
__ADS_1