PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Apa yang Terjadi


__ADS_3

Zein benar-benar gila. Pria ini sudah tak mampu lagi menahan rasa cemburu yang menusuk dalam sampai menembus relung hatinya. Padahal, awalnya ia sudah berjanji akan bertahan. Akan kuat sampai akhir. Namun, nyatanya ia kalah. Ia kalah oleh rasa yang coba ia tahan. Pria ini kalah oleh rasa sakit yang teramat sangat itu. Zein menyerah dan akhirnya memilih pergi dari arena pertandingan.


Kini untuk melupakan sejenak rasa sakit yang ia rasakan, Zein memilih mematikan ponselnya. Zein membawa mobilnya. Berkendara mengelilingi kota Batam. Mencoba menenangkan pikiran dengan cara itu. Karena menurutnya, dengan cara inilah ia bisa melampiaskan kekecewaan yang ia alami.


Sejak mengetahui kekhilafannya membawa dampak buruk bagi orang-orang di sekitarnya. Sejak saat itu Zein tidak ingin merusak tubuh dan pikirannya dengan minuman laknat. Ia memilih melampiaskan kekalutan nya dengan menikmati alam. Menikmati embusan angin. Sebab menurutnya ini lebih menyegarkan dibanding minuman laknat itu.


Berkali-kali pria ini menghapus air mata yang terus menetes tanpa dapat ia kendalikan. Ya, Zein bisa menangis. Hatinya begitu rapuh. Jiwanya serasa hilang saat ini. Zein tak bisa menasehati dirinya sendiri. Agar jangan cengeng. Agar jangan lemah. Tetapi hati tetaplah hati. Mana bisa dibujuk hanya dengan ungkapan kata. Apa lagi dalam keadaan gundah seperti ini.


***Ahhh... Sudahlah Zein, Emak sendiri juga nggak tahu mesti bilang apa sama kamu. Emak hanya prihatin saja. Semoga kamu dapet yang lebih baik dari mereka. Atau mau sama Emak aja, ha? ๐Ÿค” Fans Zein jangan meronta. Tenang-tenang๐Ÿ˜˜.. ***


Oke next....


***


Di saat yang bersamaan, ada Juan dan juga Rehan, mereka terlihat sangat khawatir pada pria yang kini sedang patah hati itu.


Mereka takut Zein berbuat nekat. Bunuh diri misalnya.


"Jangan nakut-nakutin ah Re. Masak sampai bunuh diri. Gila lu, gila. Do'ain sahabat sendiri mati. Bener-bener lu, Re" ucap Juan kesal.


"Lah ya bukan begitu, lu nggak lihat sih, dia marahnya sampai kek mana? Itu tadi, kalo tangannya kagak gue pegang, udah diculik kalo ipar lu" Rehan melirik kesal pada Juan.


Juan sendiri juga melirik kesal. Mereka sama-sama kesal dengan tingkah kanak-kanakan Zein.


"Udah ah, coba lu telpon lagi, Re! Siapa tahu nyambung. Zein Bener-bener udah gila! Bisa-bisanya dia bikin kita khawatir begini!" umpat Juan geram.


"Iye... iye... gue lagi kena. Emang dia udah gila, marah-marah nggak jelas. Udah gitu nangis. Udah gitu ngomongnya ngegas. Astaga, Zein ... Zein ... kebiasaan. Persis anak kecil kehilangan mainan. Perasaan dulu sama Ste nggak gini-gini amat. Sekarang malah ngalah-ngalahin ABG labil. Kesel gue!" gerutu Rehan sembari terus mencoba menghubungi pria aneh itu.


Juan diam. Menunggu hasil kerja Rehan.


"Gimana?" tanya Juan.


"Nggak bisa, Jun. Nggak tahu lah, dia selalu saja merepotkan," gerutu Rehan lagi.

__ADS_1


"Re, coba lu tanya ama suaminya Fira, barang kali ada nomer lain yang bisa kita hubungi. Lu tahu kan dia itu asisten barunya Zein," ucap Juan memberi masukan.


"Tahu! Eh, Kenapa nggak elu aja sih, yang nanya? Aneh, kenapa apa-apa mesti gue. Emang gue asisten elu?" Kali ini Rehan mulai tak sabar, Juan dan Zein, baginya sama saja. Sama-sama selalu bikin pusing. Selalu merepotkannya dengan masalah-masalah mereka.


"Astaga, Re. Elu kayak nggak tahu aja. Doi kan suaminya mbak mantan. Nanti kalo aku dekat-dekat dia, nyonyaku cemburu, malah repot aku," jawab Juan alasan. Padahal Rehan tahu, jika Juan hanya mengerjainya.


"Alasan!" jawab Rehan sembari melangkah meninggalkan Juan. Sedangakan Juan hanya tersenyum menang.


"Eemmm, Fira!" panggil Rehan lirih.


Safira yang saat itu sedang bercengkrama akrab dengan Stella, langsung membalikkan tubuh, mencari arah suara.


"Ya, saya, ada apa ya?" tanya Safira heran.


"Emm, nggak. Cuma mau nanya, suami kamu namanya siapa, Ra?" tanya Rehan tanpa basa-basi.


"Oh, dia... namanya Lutfi.. Kenapa emang?" tanya Safira heran.


"Ah enggak, kamu tahu kan aku sama abangmu lagi ngejalin kerja sama. Jadi aku butuh kenal ama asisten juga, biar gampang kalo pas ngrayu sang big bos," jawab Rehan sembari bercanda. Bermaksud, agar Safira tidak curiga.


"Ah boleh lah, Ra." Rehan tersenyum. Lagi-lagi agar Safira tidak curiga kepadanya.


Safira membalas senyuman itu, lalu ia pun segera melangkah meninggalkan Rehan. Tentu saja untuk memanggil sang suami, karena ada yang ingin berkenalan denganya.


"Mas!" panggil Safira.


Lutfi yang selama ini belum pernah di panggil dengan sebutan manis itu, tentu saja hanya melonggo, kaget, tidak menyangka saja jika Safira, wanita dengan harga diri tinggi itu akan memanggilnya demikian.


"Mas, kok cuma melonggo. Ini lo ada sahabat abang yang mau kenalan sama, Mas. Namanya bang Rehan. Iya kan? nama abang Rehan?" ucap Safira pada. kedua pria itu.


"Eh, iya, aku Rehan. Apa kabar?" jawab Rehan, gugup.


Terang saja dia gugup. Karena pikirannya saat ini hanya fokus pada Zein. Dia takut sahabatnya itu terpuruk dan efek terburuknya adalah Zein bisa saja bunuh diri. Rehan sangat takut itu.

__ADS_1


"Saya baik, Bang. Oiya kemarin laporan yang abang minta sudah saya email ke abang," jawab Lutfi jadi ikut-ikutan gugup.


"Ah soal itu santai. Eh, Ra. Aku pinjam suami lu bentar boleh? Lagi ada perlu penting, biasa soal kerjaan," pinta Rehan, Hati-hati karena memang dia harus hati-hati.


"Boleh, tentu saja, silakan," jawab Safira dengan senyum manisnya.


"Makasih, Ra. Kamu baik sekali. Ayuk Fi, mari ikut aku!" ajak Rehan. Kemudian Lutfi pun mengangguk dan mengikuti langkah Rehan.


Rehan membawa Lutfi ke hadapan Juan. Untuk menginterogasi pria ini tentunya. Sebagai asisten, siapa tahu dia tahu di mana pria cengeng itu berada.


"Ada apa, Bang?" tanya Lutfi, heran. Merasa aneh tentunya.


"Emmm, gini, Fi! Elu tahu nggak biasanya Zein suka nongkrong di mana kalo pas lagi di Batam?" tanya Juan langsung pada inti masalah yang sedang mereka hadapi.


"Wahh, saya nggak tahu, Bang. Emang ada apa?" tanya Lutfi bertambah aneh.


"Astaga! Gimana ini, Re? Asiatennya aja nggak tahu." Juan menatap Rehan. Begitupun dengan pria itu. Ia pun membalas tatapan sang sahabat dengan tatapan kebingungan. Sedangkan Lutfi, mulai menebak-nebak, tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Apakah bang Zein menghilang?" tanya Lutfi curiga.


"Ya!" jawab Juan dan Rehan serempak.


"Astaga! Sudah kuduga!" ucap Lutfi seperti apa yang ia pikirkan.


"Kamu tahu sesuatu soal, Zein?" tanya Rehan penasaran.


"Tentu saja, dari gestur tubuhnya semua orang juga tahu kali, Bang. Sebentar ...." jawab Lutfi sembari merogoh ponselnya. Lalu tanpa banyak bicara, bapak satu anak ini pun langsung mulai mencari lokasi di mana keberadaan mobil itu melalui chip yang terpasang di mobil tersebut.


Beberapa detik kemudian, Lutfi pun berhasil menemukan lokasi mobil tersebut dan memberitahukan itu kepada dia pria yang kini masih setia menunggu.


"Mobil menuju Lubuk Baja, Bang!" ucap Lutfi memberi tahu.


Juan dan juga Rehan langsung berinisiatif menyusul pria itu. Tetapi sebelum mereka melangkah terdengar suara teriakan dari dalam ruangan ijab qobul. Terang saja, ketiga pria tersebut langsung berlari masuk untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2