
Dua puluh empat jam berlalu, Stella masih tak bisa memejamkan matanya. Memikirkan usul sang adik. Dan juga mempertimbangkan kabar gembira yang saat ini ia bawa. Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Stella untuk berkonsultasi pada ibu kandungnya. Siapa tahu, Sera memiliki jalan terbaik untuk masalahnya ini.
"Assalamu'alaikum, putri mama yang cantik. Apa kabar?" sapa Sera ketika menyambut panggilan telepon dari Stella.
"Baik, Ma, Tan, eh... " jawab Stella gugup.
Di seberang sana, Sera tersenyum. Ia sangat paham jika sang putri pastilah masih ragu memanggilnya ibu.
"Jangan gugup gitu! Mama kan nggak gigit kamu." Terdengar suara tawa lirih Sera.
"Iya, Ma. Maaf, Ste masih ...." Stella tak melanjutkan ucapannya. Wanita ayu ini masih sedikit canggung untuk menyusun kata yang hendak ia sampaikan untuk wanita yang melahirkannya itu.
"Nggak apa-apa, Mama ngerti kok. Oiya, Ste kok tumben telpon Mama, ada apa nih?" tanya Sera lembut. Berusaha mengambil hati sang putri. Agar Stella nyaman berbincang dengannya.
"Ste ada kabar bahagia buat, Mama," ucap Stella tak kalah lembut. Terlihat senyum menawan mengembang begitu saja di bibir cantiknya.
"Kabar gembira? Apa itu?" tanya Sera antusias.
Di seberang sana, Stella juga terlihat bahagia. "Mama mau punya cucu lagi hehehe," jawab wanita ayu ini.
"Hah? Benarkah. Kamu nggak lagi becanda kan?" tanya Sera serius.
"Ya Tuhan, Ma. Ya enggak lah!" jawab Stella tak kalah serius.
"Ya Allah, puji syukur Alkhamdulilah ... Barakallah ... selamat ya, Sayang. Mama senang. Sungguh!" ucap Sera, tak terasa air bening keluar dari pelupuk matanya. Pertanda ia benar-benar bahagia.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma. Sebenarnya Ste ingin meminta pendapat Mama, soal ...." ucapan Stella terputus sebab terdengar ketikan pintu dari ruang kerja Sera.
Sera pun sama, sebenarnya ia hendak melanjutkan perbincangan mereka, namun terdengar seseorang mengantuk pintu ruang kerjanya, terpaksa ia menyambut kedatangan tamunya. .
"Sebentar, Sayang. Ada yang datang. Nggak usah dimatiin, Mama masih mau banyak ngobrol sama kamu. Oke!" pinta Sera bahagia.
"Iya, Ma!" jawab wanita ayu ini.
Setelah mendengar jawaban persetujuan dari sang putri, Sera pun mempersilakan tamunya untuk masuk. Tak disangka, yang datang adalah menantunya, yaitu Juan.
"Assalamu'alaikum, Ma!" sapa Juan sembari melangkah mendatangi Sera. Sedangkan Sera hanya melongo. Tak percaya, kalau pria yang sedang ia hindari tiba-tiba datang ke tempatnya berada saat ini.
"Waalaikumsalam ... ngapain kamu ke sini?" tanya Sera sedikit ketus.
"Maafkan Juan, Ma! Juan datang nggak kasih tahu Mama dulu. Nggak bikin janji dulu. Soalnya beberapa kali Juan buat janji, selalu ditolak," jawab Juan jujur.
"Mama pasti tahu masalah yang terjadi antara Juan dan Ste 'kan? Kedatangan Juan ke sini, ingin bertanya pada Mama tentang keberadaan Ste dan putri Juan, Ma. Juan mohon!" pinta Juan memohon.
Sera belum mau menjawab permintaan itu. Sedangkan di sebrang nan jauh di sana, Stella masih mendengarkan suara perbincangan dua orang yang sangat ia sayangi itu. Hati Stella serasa termasuk. Bagaimana tidak? Itu adalah suara pria yang sangat ia cintai. Suara pria yang sangat ia rindukan.
"Udah di suruh pergi kok masih di cari. Ngapain?" serang Sera ketus.
"Maafin Juan, Ma. Sungguh Juan nggak bermaksud mengusir Ste dari hidup Juan. Juan hanya shock melihat wanita itu masih ada. Dan ... yang membuat Juan merasa lebih shock adalah pada kenyataannya Ste mengenal wanita itu dan dia diam saja. Juan merasa tertipu, Ma. Maaf! " Mata Juan terlihat berkaca-kaca. Karena pada kenyataannya hatinya memang merasakan seperti apa yang ia sampaikan kepada sang ibu mertua.
Sera paham dengan apa yang Juan rasakan. Sera mengerti dengan apa yang Juan maksud. Tetapi, mau bagaimanapun Sera tak mungkin langsung memberitahu keberadaan sang putri, tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Stella. Selaku seseorang yang sedang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Juan mohon, Ma! Tolong bantu Juan sekali ini saja. Juan ingin minta maaf pada Ste, Ma. Juan ingin Berliana. Juan ingin tetap bisa bersama dan menjaga mereka, Ma. Juan mohon!" ucap pria tampan bertubuh tinggi tegap ini.
Sayang Sera tak bisa menjawab permohonan itu sekarang. Sehingga membuat Juan membuang semua harga dirinya. Pria ini pun bersujud memohon kepada ibu mertuanya. Berharap, beliau berbaik hati untuk menunjukkan kepadanya di mana sang istri berada.
"Mama nggak tahu harus menjawab apa, Juan. Sebenarnya ini adalah masalah kalian. Mama memang tahu di mana Ste berada. Tetapi, Mama juga harus tanya dulu sama, Ste. Apakah kamu mau menunggunya?" tanya Sera sembari menatap ke arah Juan.
"Apapun, Ma. Asalkan Ste mau kembali ke rumah. Otak Juan seperti mau meledak, Ma. Juan rindu padanya. Juan rindu pada putri Juan. Juan kangen mereka Ma," jawab Juan tak mau menutupi lagi apa yang sebenarnya ia rasakan selama ini.
Sera melirik ponselnya, terlihat ponsel tersebut menyala. Sepertinya Stella mengakhiri panggilan telepon mereka. Ini semakin membuat Sera bimbang. Mungkinkah putrinya itu muak dengan perbincangan ini. Atau kah dia tak tahan karena mendengar suara pria yang ia cintai memohon hanya demi ingin bertemu dengannya.
"Berdirilah Juan, jangan seperti ini. Bersabarlah sebentar lagi. Mama akan coba bantu kamu bicara dengan Ste. Siapa tahu dia mau mendegarka Mama," ucap Sera sembari membatu menantunya itu berdiri.
"Makasih, Ma. Juan sangat berharap, Ste mau bertemu dengan Juan," ucap Juan penuh harap.
"Berdo'alah, semoga Tuhan mau membolak-balikan hati istrimu. Sehingga ia mau memaafkanmu. Tetapi, Mama meminta, setelah dia kembali, jangan pernah menyakitinya lagi! Jangan pernah memintanya untuk pergi. Karena Ste adalah wanita yang tidak bisa ditolak. Kamu paham kan maksud, Mama," ucap Sera memperingatkan.
"Juan paham, Ma." Juan dan Sera tersenyum. Meski pada kenyataannya hati Juan serasa teriris. Teriris oleh kenyataan, bahwa dia pernah menyakiti hati wanita rapuh itu. Pernah membuat luka di hati wanita yang ia cintai itu.
***
Di sudut ruang yang lain, Stella menangis tersedu-sedu setelah mendengar suara pria yang ia rindukan itu mencarinya kemana-mana. Ternyata apa yang Stella pikirkan salah. Ia berpikir, Juan tak lagi menginginkannya. Ia berpikir, bahwa saat ini Juan pasti sudah bersama Safira. Ia berpikir, pasti Juan sudah melupakannya.
Ternyata tidak, pria itu masih setia menunggunya. Mencarinya. Memperjuangkannya. Sungguh, Stella menyesal telah meninggalkan pria itu tanpa berpikir panjang. Tetapi, di sudut hati yang lain, Stella juga bahagia, karena hati Juan memang miliknya bersama Berliana. Putri mereka.
Wanita ayu ini kembali membuka aplikasi di ponselnya. Melihat wajah pria tampan itu dari galeri ponselnya. Sungguh, saat ini Stella bahagia. Sangat-sangat bahagia. Dua kenyataan indah yang kini ada di depan matanya adalah sesuatu yang tak ia sangka. Tetapi, sesuatu itu nyatanya adalah sumber dari kebahagiaan yang ia rasakan saat ini
__ADS_1
Bersambung...