
Stella masih diam. Rasanya peperangan yang baru saja ia lalui seperti menguras tenaga. Bukan hanya Stella yang diam. Juan pun diam. Namun, diam yang mereka rasakan berbeda. Stella diam karena merasa lelah dengan alur kehidupannya. Sedangkan Juan diam karena terlelap.
Geram rasanya, andai saat ini sang suami sadar pasti Stella akan memukulnya dengan sapu. Sama seperti ia memukul wanita penggoda itu.
Stella sadar, jika ia tak bisa melampiaskan kekesalannya sekarang. Sebab, percuma sang target telah terlelap. Untuk meredam rasa sesak yang ia rasakan, Stella pun membalikkan tubuh. Lalu menuntun Juan ke ranjang, agar pria ini berbaring di sana. Agar Juan lebih bisa nyaman dalam tidurnya.
Setelah berhasil menuntun sang suami ke ranjang, Stella bersiap kembali ke kamarnya sendiri. Namun, tanpa ia duga Juan membuka mata, meraih tangannya lalu menariknya pelan. Membawa wanita cantik ini ke dalam pelukannya.
Stella tidak menolak. Karena ia pun menginginkan ini. Stella rindu pelukkan Juan. Stella rindu dekapan Juan. Entahlah, mengapa Stella bisa seperti ini. Rasanya sedih dicuekin, tapi tak bisa marah. Stella malah kangen. Malah rindu. Sebab, ia yakin apa yang Juan lakukan saat ini pasti mempunyai alasan.
Stella telah masuk ke dalam pelukkan Juan. Sedangkan Juan juga memeluknya erat. Seperti tidak ingin kehilangan wanita ini. Seperti ingin memberi tahu bahwa Stella adalah pemilik utuh cintanya. Seperti ingin menyampaikan bahwa, jangan takut aku adalah milikmu. Dekapan Juan kali ini, seperti mengandung arti seperti itu. Semoga saja Stella peka dan memahami arti dekapan itu.
Sebenarnya Stella ingin bertanya apa maksud dari semua ini. Namun, Stella bingung mau memulainya dari mana. Sebab, sampai detik ini Jua sendiri belum membuka diri, apakah bisa menerima masa lalu Stella atau tidak? Apakah mau melanjutkan hubungan pernikahan ini atau tidak? Juan belum seterbuka itu.
Terlebih sekarang Juan malah membawa masalah baru dalam kehidupan pernikahan mereka.
"Papi pasti lelah, tidurlah! Mami lihat Berliana dulu ya," ucap Stella lembut, sebenarnya bukan itu maksud Stella ingin pergi. Ia hanya ingin menghindar dari Juan. Stella ingin menangis. Menumpahkan segala sesak yang menyerangnya beberapa hari ini. Namun sayang, Juan malah mendekapnya erat. Tak memberinya izin untuk pergi.
Stella semakin tak bisa mengerti jalan pikiran pria ini. Apa yang sebenarnya ia mau? Apa yang sebenarnya ia inginkan? Kebersamaan kah atau perpisahan. Andai Stella bisa memohon, detik ini juga Stella ingin diberi kepastian.
"Pi, kasihan Berliana sendirian di kamar," ucap Stella lagi lirih dan terdengar lembut.
Mata Juan masih terpejam, tetapi merogoh ponsel yang ada di saku celananya, lalu memberikan ponsel itu pada Stella.
"Buat apa, Pi?" tanya Stella.
__ADS_1
Juan membuka mata, lalu menghidupkan ponselnya dan menunjukkan pesan teks yang ia kirim pada pengasuh Berliana. Setelah itu ia memejamkan matanya lagi dan kembali mendekap Stella. Kali ini lebih erat dan lembut. Anehnya Juan juga memberikan kecupan hangat untuk Stella. Seperti hadiah. Entah hadiah untuk apa.
Stella semakin bingung dengan sikap pria ini. Aneh, hanya kata itu yang mewakili penilaian Stella pada Juan kali ini. Aneh saja hanya aneh.
Tak banyak bicara, wanita ayu ini pun menerima saja perlakuan sang suami. Membiarkan sang suami mendekapnya, memilikinya, tetapi Stella berjanji, besok pagi ia akan memberanikan diri bertanya pada Juan, apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa sekarang berbeda? Apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan ini.
Malam semakin larut, kantuk pun menyerang kedua sejoli ini yang saling mencintai ini, tetapi masih belum bisa terbuka dengan keinginan masing-masing. Stella hanya berharap, Juan tak lama-lama menggantung hubungan mereka. Stella berharap Juan akan segera memberinya kepastian.
***
Keesokan harinya....
Hujan turun dengan derasnya. Stella masih belum terbangun dari tidurnya. Sepertinya pelukkan yang diberikan oleh sang suami semalam, sanggup menenangkan jiwanya. Sehingga ia merasa aman dan tenang.
Stella tak ingin berlama-lama membiarkan sang putri menangis. Setelah membasuh muka, ia pun segera keluar kamar.
Di luar kamar, mata Stella menangkap pemandangan yang ia rindukan. Juan memakai baju rumah sedang menimang Berliana. Stella berjalan mendekati dua orang yang sangat ia cintai itu. Mata Stella bertemu dengan mata Juan. Mereka saling menatap mesra, seolah mencari jawaban atas apa yang terjadi semalam, tetapi sayang kemesraan itu tak berlangsung lama. Tanggis Berliana adalah penyebabnya. Akhirnya mereka berdua pun fokus pada baby mungil ini.
Seperti sebelum terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Juan menyiapkan tempat duduk untuk Stella, kemudian memberikan Berliana, agar wanita ayu ini mau memberikan Asinya.
Tak ada pembicaraan di antara mereka. Namun, perhatian dan kasih sayang tampak jelas di sana. Stella mulai membuka kancing- kancing bajunya. Sedangkan Juan bersiap dengan handuk kecil di tangannya, hendak membatu sang istri menutupi dadanya. Agar bagian sensitif milik Stella tidak dilihat bebas oleh orang-orang yang tidak berhak. Hanya dia dan Berlianalah yang boleh melihatnya.
"Makasih," ucap Stella lembut.
"Kembali kasih, Istriku," balas Juan tak kalah lembut.
__ADS_1
Stella tersenyum malu-malu. Juan pun sama, mereka seperti dua sejoli yang sedang kasmaran. Saling mencintai tapi bingung untuk memulai. Ingin saling memiliki namun ada tembok keraguan di sana.
"Maaf, Pi! Boleh nggak Mami nanya?" akhirnya Stella berani membuka suaranya.
"Soal?" balas Juan.
"Jangan pura-pura, Pi. Rumah tangga kita sedang tidak baik-baik saja. Beberapa hari ini Papi dingin pada Mami, boleh nggak Papi jelasin semuanya ke Mami, dan siapa wanita yang semalam Papi bawa pulang?" desak Stella.
"Papi bingung juga, Mam. Bagaimana menjelaskan keadaan ini pada Mami. Maafkan kelakuan Papi semalam, Maaf Mam kalau Papi kelewatan." Juan menarik kursi dan duduk di depan Stella. Bersiap menghadapi sidang dari sang istri.
"Papi terus terang aja, Papi maunya gimana?" tanya Stella.
"Entahlah, Mam. Beberapa hari ini, rasanya semua masalah seperti senang sekali datang pada Papi. Zein membatalkan investasinya, bukan hanya itu dia juga mengajak Investor lain untuk mundur dari proyek besar ini, sedangkan seluruh aset Papi udah Papi gadaikan untuk pembangunan proyek ini. Papi bingung, Mam. Harus bagaimana?" Juan menundukkan kepalanya. Sepertinya memang dia dalam masalah besar.
"Berarti pria bajingan itu sudah mulai menjalankan misinya. Dasar bajingan!" umpat Stella kesal.
"Jika Papi bangkrut dan menjadi miskin, gimana Mam?" tanya Juan pada kemungkinan yang kini sedang menghadangnya.
"Papi jangan khawatir soal itu, bukankah kita sudah berjanji akan selalu mengahadapi masalah kita sama-sama!" jawab Stella yakin.
Juan diam, sebab masalah yang ia hadapi tak sesimpel itu. Juan harus bersiap-siap menghadapi tuntutan para investor, tentang penggelapan dana, dan ini semua adalah siasat Zein. Juan ingin menceritakan detail masalahnya, tetapi takut jika Stella tak percaya padanya.
Bersambung....
Masih semangat kan, jan ngambek dong. Kan kita belum tahu alasan babang Juan nglakuin hal aneh itu. Ini emak lagi nanya2 lagi ngopi ama babangπππ
__ADS_1