PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
KALIAN MASA LALU


__ADS_3

Selesai makan, Stella ingin merapikan peralatan makan. Namun Juan melarang, ia meminta sang istri untuk beristirahat saja. Biar cleaning servis saja yang merapikannya.


"Duduk, Mam!" ajak Juan sambil menggandeng dan memeluk pinggang sang istri. Stella tak menolak, ia pun mengikuti apa yang sang suami inginkan. Membawanya ke sofa ruang kerja itu.


Sedangkan Rehan hanya menjadi obat nyamuk di antara Juan dan juga Stella. Menjadi penonton setia kemesraan mereka.


"Oia, Mam. Kenalin ini sahabat Papi. Kalian belum kenalan kan?" ucap Juan. Stella dan Rehan tersenyum.


Rehan menyulurkan tangannya. Sedangkan Stella hanya tersenyum dan menangkupkan tangannya. Seperti menjaga jarak dengan Rehan.


Melihat ekpresi Rehan yang sedikit kurang nyaman, Juan pun menepuk pundak Rehan. "Harap maklum, Bro," bisik Juan.


Rehan tersenyum kemudian ia pun mengerti. Memang sedari tadi, ia tak melihat Stella banyak bicara. Hanya sesekali saja. Namun senyum tetap merekah di bibir manisnya dan senyum itu hanya ia persembahkan untuk Juan seorang. Rehan mencoba memahamimemahami keadaan ini, meskipun rasanya tak sabar ingin berbincang dengan Stella perihal hati.


Suasana kembali hening ketika Juan kembali menyalakan laptopnya. " Mami mau di sini atau pulang, hemm?" tanya Juan.


"Pulang aja, Pi. Kan Papi kerja," jawab Stella sedikit membetulkan kerah bajunya yang agak turun. Juan tahu jika Stella tak nyaman dengan baju yang ia pakai. Dengan cepat ia pun melepaskan jasnya dan memakaikan jas itu untuk sang istri. Untuk menutupi dadanya yang sedikit terbuka.


"Makasih," ucap Stella. Juan tersenyum. Kelingan mata mereka menunjukkan binar cinta yang membara. Sekali lagi Rehan merasa berada di antara bunga-bunga cinta namun bukan miliknya. Andai tak ada masalah antara dirinya dan Stella, Rehan pasti sudah memaki dua sejoli yang sengaja membakar api cemburunya ini.


"Gani ke mana, Pi?" tanya Stella lembut.

__ADS_1


"Ke proyek, Mam. Tadi Papi balik dulu soalnya ada masalah sedikit di kantor. Oia tadi Mami ke sini naik apa?" tanya Juan.


"Nyetir sendiri!" canda Stella.


"Hah?" Juan melotot.


Stella tersenyum, lalu menutup mata Juan dengan jari-jari manisnya.


"Serius, Mam. Pakek mobil yang mana?" tanya Juan.


"Nggak, ama pak Diran, tadi ke rumah nganterin sayuran Terus Mami minta anter ke sini sekalian." Stella mengelus lengan sang suami. Agar emosinya segera menurun.


"Iya, Papi. Astaga, cute banget sih kalau ngomel. Gemes tahu," canda Stella sembari menatap manja ke arah Juan dan pria ini hanya melirik manis. Mereka benar-benar tak tahu situasi. Di depan mata mereka ada satu hati yang menahan rasa ingin memaki. Ingin merobek wajah mereka hingga mereka tak bisa bermanja-manja lagi di depannya. Anehnya Juan terlalu hanyut dalam kemesraan manis dengan Stella. Hingga ia tak menyadari jika Rehan menahan kekesalan yang membara.


Berbeda dengan Stella. Ia terkesan sengaja. Karena dia memang sengaja. Ia ingin membuktikan bahwa dia bisa tanpa orang-orang di masa lalunya. Bagi Stella, Rehan dan orang-orang yang pernah menghancurkan hatinya adalah mereka yang tidak penting. Apalagi Zein. Meskipun ia tidak yakin, tidak goyah jika bertemu dengan pria itu namun ia akan berjuang untuk melawan kelemahan hatinya. Agar tidak luluh oleh tipuan perasaan pria itu.


Juan masih terlihat sibuk dengan beberapa file yang menjadi pusat perhatiannya. Sedangkan Rehan, fokusnya terbagi dua. Antara tatapan mata Stella yang beraura permusuhan dengan apa yang Juan sampaikan. Sampai salah satu ponsel mereka berdering pun tak berasa.


"Re, ponselmu bunyi tu!" ucap Juan.


"Bukan, Bro. Itu punyamu. Dih!" jawab Rehan sedikit ketus.

__ADS_1


"Oia, punyaku. Sorry-sorry. Aku tinggal dulu ya." izin Juan kemudian pria tampan ini pun masuk ke dalam ruangan pribadinya.


Kini tinggallah Stella dan juga Rehan. Saling menatap penuh permusuhan.


"Maaf, Ste. A-aku!" ucap Rehan terbata. Berusaha mengalah, agar suasana canggung ini segera berakhir.


"Anda tidak perlu meminta maaf pada saya. Bukankah kita tidak pernah ada urusan," jawab Stella ketus.


"Tapi, Ste. Aku yang mengenalkanmu pada Zein," jawab Rehan, jujur ini adalah sesuatu yang membuat pria ini merasa tidak nyaman.


"Kamu pikir aku peduli, aku sudah mengubur dalam-dalam masa lalu buruk itu. Bagiku siapapun yang berhubungan dengan pria jahanam itu adalah masa lalu. Masa lalu kelam yang tidak akan pernah aku ingat lagi, yang sudah aku kubur dalam-dalam. Dan sudah mati bersama Stella yang telah dibuang oleh orang tuanya," ucap Stella dengan tatapan nanar yang mencerminkan betapa sakit hati yang ia rasakan.


"Maafkan aku Ste. Andai aku tahu dari awal alasannya menceraikanmu, aku pasti mencegahnya!" ucap Rehan menyesal.


"Untuk apa? Aku tidak butuh pria bodoh seperti itu. Pria yang hanya mau menilai cover sebuah buku, tanpa mau membacanya. Tanpa mau menelaah setiap kata yang ada di dalamnya. Aku yakin kamu pasti tahu betapa hancurnya aku, Re dan aku tak akan menyalahkan siapapun. Karena mungkin inilah cara Tuhan untuk memberiku pria yang jauh lebih baik dari Zein dan perlu kalian ketahui, aku bahagia bersama Juan. Aku mencintainya dan satu lagi yang perlu kamu tahu, aku tidak takut jika kamu kasih tahu Zein kenyataan ini. Aku tidak peduli, bagiku tetap sama kalian adalah masa lalu yang tidak penting. Jadi selamanya tidak akan penting," balas Stella yakin. Seyakin-yakinnya.


Rehan tak sanggup berkata-kata. Sebab, apa yang diutarakan oleh Stella adalah kenyatakan yang memang ia rasakan. Rehan tak menyalahkan wanita ini sedikitpun. Namun jika boleh meminta kesempatan, Rehan hanya ingin meminta maaf karena tak sanggup mencegah Zein menyakiti Stella.


Bersambung..


Tak sabarnya nulis Zein ketemu Stella🥳🥳

__ADS_1


__ADS_2