
Malam pertama yang cukup mendebarkan untuk pasangan pengantin baru. Zein dan juga Zizi.
Selesai berpamitan dengan keluarga Zi, Zein dan keluarganya langsung membawa Zi keluar dari rumah itu. Sebab jujur, rumah kakek Zi terlalu sempit untuk Zein dan keluarganya. Di tambah sopir yang mengantar mereka.
Terpaksa Zein dan keluarganya menyewa hotel yang dekat dengan tempat mereka berada saat ini.
Di dalam mobil yang membawa mereka, Zein sesekali melirik Sang istri yang tampak tegang itu sembari tersenyum. Sedangkan Zizi hanya diam, cemberut, karena masih tak percaya bahwa ia melewati masa yang sangat sulit seperti ini.
Terbesit banyak tanya sebenarnya di hati, Zi. Namun, di dalam mobil tersebut masih ada ibu dan juga ayah mertuanya. Tak nyaman jika ia harus bertanya macam-macam. Terlebih pertanyaannya ini mungkin akan menciptakan perdebatan dengan sang suami.
Laila yang peka dengan keadaan di sekelilingnya, tentu saja langsung mengeluarkan candaannya. Tentu saja, untuk mencairkan suasana.
"Pengantin baru kok diem-dieman sih, ngobrol dong. Biasanya kalian kalo ketemu udah rame banget. Kok sekarang malah diem. Kenapa? Ada apa?" canda Laila sambil memerhatikan sepasang pengantin baru ini dari kursi penumpang bagian belakang.
"Jangan digodain toh, Ma. Mereka masih malu-malu. Kan namanya juga pengantin baru!" balas Laskar, tentu saja ucapannya itu bermaksud meledek mereka berdua.
"Ih, Papa. Pengantin baru itu nggak boleh diem-dieman. Nanti ranjangnya anyep. Ayo atuh ngobrol. Mama pengen lo denger suara kalian. Yang saling ledek seperti biasa. Zi, ayolah... Mama kangen suara kamu kalo tuduh Zein. You maunya apa? Gitu-gitu kan biasanya," canda Laila lagi, makin berani membuat mereka bertambah malu.
Zi hanya tersenyum. Sedangkan Zein memberanikan diri menarik lengan kebaya yang dikenakan sang istri.
Zi memberanikan diri melirik sang suami, sedangkan pria itu dengan nakalnya, dengan konyolnya hanya menaikkan satu alisnya. Seperti sedang meledeknya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Zi lirih.
Zein tidak menjawab, ia hanya tersenyum saja. Membuat Zi merasa aneh.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka pun sampai hotel yang sudah Zein pesan untuk mereka.
Senyum kembali mengambang di bibir Zein ketika melihat sang istri hanya duduk diam di ranjang. Meremas jari jemarinya. Seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak berani. Mungkin dia ragu.
"Ah, aku lelah... sebaiknya aku mandi dan tidur. Tapi aku nggak punya baju. Bagaimana ini?" celetuk Zein tiba-tiba. Sebab pada kenyataannya memang benar, bahwa dia memang tak membawa baju ganti.
Zi masih diam. Tak tahu harus berucap apa. Karena memang dia masih belum bisa berpikir apa-apa. Zi masih merasa bahwa apa yang terjadi padanya hari ini seperti mimpi.
"Kenapa kamu bisa sampai sini?" tanya Zizi, lirih.
"Bisa dong, Zein gitu loh!" jawab Zein, santai.
"Aku nggak ingin punya masalah denganmu. Dengan kedua orang tuamu. Dengan persahabatan kita. Aku harap kamu jujur, apa yang kamu lakukan sampai bisa jadi pengantin pengganti untukku?" tanya Zi lagi, kali ini wanita ayu ini serius.
"Jutek amat nanyanya, harusnya kamu nanyanya gini. Mas, kok, Mas bisa tahu Zi mau nikah, emang Mas tahu dari mana? kan gitu, harusnya manis-manis. Sama suami kok nggak ada manis-manis nya. Dulu, pas kita belum nikah, kamu lembut banget sama aku!" jawab Zein sedikit bercanda.
"Zein, please... ini bukan waktunya bercanda. Aku mohon!" pinta Zizi, sangking kalut perasaan yang ia rasana, Zizi sampai kembali meneteskan air matanya. Dengan cepat Zein pun mendekatkan kursi rodanya dan memeluk penuh kasih sayang wanita yang kini telah sah jadi istrinya itu.
__ADS_1
"Sssttt, jangan nangis, udah. Semua ka udah kita lewati. Yang penting sekarang kamu udah aman. Udah nggak ada lagi hutang piutang nggak masuk akal itu lagi. Nggak akan ada lagi yang maksa kamu buat menikah dengan pria gila itu. Kamu sekarang aman. Percayalah!" ucap Zein sembari mengelus pundak sang istri.
"Aku nggak tahu, apakah aku harus berterima kasih sama kamu atau nggak Zein. Nyatanya saat ini, aku berasa seperti mimpi. Entahlah, semua sungguh seperti mimpi. Aku sampai nggak bisa mikir, Zein," ucap Zizi, jujur dan apa adanya. Karena seperti itulah yang ia rasakan saat ini.
"Aku nggak memaksamu berpikir sekeras itu, Zi. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah mandi. Bersihkan dirimu. Makan, lalu istirahat. Selebihnya, mari bahas itu di rumah. Sudah, jangan paksakan otakmu untuk berpikir. Percayalah, semua akan baik-baik saja," ucap Zein mencoba menguatkan sang istri. Agar jangan terlalu keras berpikir dan
Zizi menuruti perintah Zein, ia pun akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Melepaskan segala atribut yang melilit tubuhnya.
Di bawah guyuran shower, rasa penasaran pun kembali menyerang wanita ayu ini.
Bagaimana Zein dan keluarganya tahu, bahwa dia sedang dalam masalah besar. Bagaimana bisa Zein menggantikan pria itu di acara pernikahan itu. Zizi tak ingin menundanya lagi. Malam ini apapun yang Zein minta akan ia berikan, asalkan pria itu mau memberitahu semuanya kepadanya.
***
Di sisi lain, tanpa sepengetahuan Zizi, ternyata Zein telah menculik pria yang telah berani menjadi rivalnya. Buka hanya itu, Zein dan Laskar juga meminta para anak buahnya untuk berjaga di sekeliling rumah juragan kampung itu.
Zein tersenyum senang mana kala, juragan kampung itu kelimpungan mencari sang putra yang hendak ia nikahkan dengan anak gadis pilihannya.
Terlihat dalam video yang dikirim oleh anak buah, Zein, pria itu terlihat marah-marah dan beberapa kali menampar anak buahnya sendiri. Karena mereka lalai menjaga putra semata wayangnya.
Bersambung...
__ADS_1