
"Sudah sana mandi, udah siang. Nanti di marahin abang lo!" pinta Safira sembari mendorong punggung pria tampan ini.
Namun, Lutfi masih bergeming. Tak ingin berpindah sedikitpun dari tempatnya berada saat ini. Lutfi masih belum puas, sebab Safira seperti masih menutupi banyak masalah kepadanya.
"Ra, aku memang nggak tahu masa lalu kamu. Tapi aku yakin kamu bukan gadis nakal seperti yang kamu sinyalkan kepadaku," ucap Lutfi sembari menatap mata Safira. Sedangkan Safira sama sekali tak mau menatap mata pria tampan itu. Safira tak mau jika Lutfi menyadari cinta yang telah tumbuh di hatinya.
Mendengar ucapan sang suami, Safira habya tersenyum tanpa membalas ucapan tersebut. Sebab ia bingung bagaimana lagi ia harus memperburuk dirinya. Agar Lutfi mau melpaskannya.
"Katakan padaku, Ra. Apakah kamu takut dengan cinta? Apakah kamu memiliki trauma dengan cinta?" tanya Lutfi menebak.
Safira kembali tersenyum, kali ini ia berani menjawab pertanyaan yang menurutnya bodoh itu.
"Dalam kamus kehidupanku, cinta itu tidak penting Lutfi, yang penting adalah uang. Karena uang bisa memberiku segalanya," jawab Safira asal.
Kali ini Lutfi yang tersenyum lucu. Bagaimana tidak? Jawaban yang Safira berikan kepadanya, tidak seperti realita yang Safira berikan padanya. Buktinya, tanpa rasa jijik, dia mau melakukan pekerjaan rumah yang bagi sebagian wanita adalah memalukan. Apalagi untuk gadis-gadis kaya seperti Safira.
"Dih, dia ketawa. Kenapa? Nggak percaya! Ya udah!" ucap Safira sembari beranjak dari tempat duduknya. Namun, kebiasaan buruk Safira kali ini langsung dicegah oleh Lutfi. Dengan cepat, pria itu meraih tangan Safira dan kini membawa wanita itu ke dalam pangkuannya.
"Lutfi, kamu jangan macam-macam ya. Kalo nggak aku teriak ni!" ancam Safira serius.
__ADS_1
"Teriak aja, jika warga datang ke sini, aku tunjukkan saja pada mereka buku nikah kita. Lalu mereka pasti akan malu. Ayo teriak aja! Tunggu apa lagi!" tantang Lutfi tak kalah serius.
Menyadari dirinya kalah, akhirnya Safira pun memilih diam. Menunggu apa yang akan pria ini lakukan terhadapnya.
"Kamu itu jangan kebiasaan. Selalu saja kabur kalo lagi bahas sesuatu. Selesaikan dulu, baru boleh pergi," ucap Lutfi lagi, kali ini pria ini mulai bersikap lembut kembali. Membuat hati Safira serasa adem dibuatnya.
"Memangnya bagian mana yang belum selesai. Kamu udah tahu masa lalu aku. Sekarang tinggal kamu memutuskan toh nggak usah takut. Daftakan saja perceraian kita. Masalah biaya biar aku yang tanggung semuanya deh," ucap Safira sembari berniat melepaskan diri dari pangkuan Lutfi.
Sayangnya, Lutfi yang tahu maksud Safira, tentu saja malah semakin memperat pelukannya.
"Fi, kamu apa-apan sih? Kita sebaiknya jaga jarak. Ini nggak baik buat kamu, buat aku. Nggak baik buat kita!" ucap Safira mencoba mengelak.
"Bolehkah aku berkata jujur?" tanya Lutfi serius.
"Tentang?" balas Safira gugup.
"Tentang perasaanku ke kamu," jawab Lutfi lembut.
Safira diam. Namun ia membalas tatapan mata itu. Mereka saling menatap, seakan mencari jawaban atas apa yang tersimpan di dalam hati masing-masing.
__ADS_1
"Fi, cukup jangan kita teruskan," pinta Safira. Tiba-tiba saja perasaan takut kehilangan itu merasuki sanubari wanita cantik ini. Matanya benar-benar mengatakan itu. Lutfi sangat paham dengan tatapan itu.
"Aku mencintaimu Safira, aku mohon! Izinkan aku membahagiakanmu dengan caraku!" ucap Lutfi berani. Ia memang tak mau kehilangan moment ini. Lutfi tak ingin menundanya lagi. Ia ingin Safira tahu, bahwa hatinya ingin memiliki wanita yang kini ada di pangkuanya.
Safira menelan kasar saliva bukti ketakutannya. Bibir wanita ini bergetar. Gugup. Entahlah, ia seperti masuk ke dalam penjara cinta dan telah terikat oleh rantai-rantai cinta itu sendiri. Sehingga tak mudah baginya untuk melepaskan diri.
"Jangan gegabah membuka tirai hatimu, Fi! Kamu nggak tahu bagaimana aku. Pikirkanlah lagi, jangan sampai menyesal karena cinta semu ini. Aku nggak mau menyakitimu dengan penyesalan. Ayolah Fi, jangan begini," ucap Safira, kali ini wanita ini serius.
"Aku sudah memikirkan ini, Ra. Aku memang mencintaimu. Aku telah jatuh cinta padamu ketika kamu datang padaku di rumah sakit. Memarahiku karena aku nggak becus merawat Naya. Aku merasa kamu seperti seorang istri yang memarahi sang suami. Kamu seperti seorang ibu yang siap meli dungi dan merawat bayimu. Dan aku sudah berkali-kali menepis rasa ini. Namun, rasa ini begitu kuat menyerangku. Aku harus bagaimana Ra? Katakan!" jawab Lutfi panjang lemar. Berharap Safira mengerti dan paham akan rasa yang kini telah menguasai hatinya.
"Aku nggak tahu harus jawab apa, Fi. Aku sendiri juga sedang berada di kubangan dilema. Aku ingin meneruskan rumah tangga ini karena aku sangat menyayangi Naya. Namun, aku juga nggak mau mengikat pria sebaik kamu. Sungguh aku tak bisa kalo bicara cinta. Karena aku nggak tahu, aku cinta sama kamu apa nggak," balas Safira, belum berani terlalu terbuka dengan apa yang ia rasakan pada Lutfi. Karena Safira sangat takut, ketika ia jujur nanti, yang ada, Lutfi malah menertawakannya.
"Aku akan menunggu cinta itu datang untukku, Ra. Percayalah! Aku akan sabar Menunggu itu. Yang penting jangan tinggalkan aku! Jangan pergi dari pernikahan ini!" pinta Lutfi sungguh-sungguh.
Safira mengangguk seraya tersenyum. Lutfi pun sama. Mereka sama-sama tersenyum. Lalu, Lutfi mendekatkan bibirnya hendak mencium bibir wanita cantik yang saat ini ada di pangkuannya. Namun, sayang, ketika bibir itu menempel sempurna, tangisan Naya mengagetkan mereka. Sehingga mau tak mau mereka pun menunda momen mesra ini. Wajah mereka saling bersemu merah karena malu. Tapi tak dipungkiri bahwa mereka sangat bahagia.
Bersambung ....
Like n komennya jangan lupa π₯°π₯°π₯°π₯°
__ADS_1