
Rasa penasaran itu akhirnya membawa Zein untuk menyelidiki siapa sebenarnya pria yang mengikrarkan diri sebagai ayahnya. Zein tak mungkin diam saja menunggu. Mau bagaimanapun dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah sang perawat itu menyelesaikan tugasnya dan pergi, Zein pun memulai misinya.
Berjalan pelan, mengendap-ngendap. Berusaha sebisa mungkin agar pergerakannya tidak terbaca oleh siapapun. Termasuk pemilik rumah ini.
Sesampainya di pintu, Zein sedikit terkejut oleh suara ribut- ribut. Seperti ada beberapa orang sedang bertengkar.
Dengan membawa rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Zein pun memutuskan untuk mendengarkan kata-kata mereka.
"Pokoknya papa harus bantu Fira untuk jelasin masalah ini ke dia. Semua kesalahan pahaman ini papa kan yang mulai," ucap seorang wanita muda yang Zein sendiri belum tahu wajahnya.
"Untuk apa? Lagian dia sekarang sudah punya anak. Sudah punya istri. Gila aja kamu masih mau sama dia!" jawab pria berkemeja abu-abu itu.
"Tapi Fira maunya cuma sama dia, Pa. Fira nggak peduli, dia punya istri apa nggak. Yang jelas Fira cintanya sama dia Pokoknya apapun yang terjadi, Fira maunya sama dia. Papa harus bantu Fira buat jelasin semua masalah ini ke dia!" ucap Safira marah.
"Heh, ini pasti ajar ajaran mama gilamu itu kan? Dasar wanita gila, nggak tahu malu!" jawab pria itu terlihat mulai kesal.
"Jangan salahin mama, Pa. Harusnya Papa tu bisa adil. Sama Fira, sama abang. Sama abang aja Papa bantu selesain semua masalah dia. Sedangkan Fira, cuma minta Papa jelasin duduk permasalahannya sama dia aja, Papa nggak mau. Papa nggak adil!" balas Fira tak kalah kesal.
Di dalam kamar Zein masih setia mendengarkan pertengkaran bapak dan anak tersebut.
"Masalahmu dengan abangmu itu berbeda. Abangmu masalahnya berhubungan dengan materi. Sedangkan kamu dengan hati. Mana mungkin bisa dipukul rata. Hah, sudahlah Fira, jangan keras kepala. Carilah pria lain yang bisa diandalkan. Jangan pria beristri begitu!" ucap Pria itu menasehati.
__ADS_1
Sayangnya, wanita muda bernama Fira itu agaknya memiliki sikap sedikit keras Sehingga ia tetap tidak peduli. Yang dia inginkan adalah pria pilihan hatinya. Safira tak peduli, meskipun pria tersebut sudah berkeluarga.
Jujur ini sedikit membuat Zein tak suka. Sebab ini menganggu mata batinnya. Meskipun ia pernah di posisi wanita tersebut. Pada akhirnya Zein menyadari bahwa egonya bisa saja menyakiti seseorang yang sangat ia cintai. Dan nyatanya memang benar, Stella benar-benar tidak bisa menerima itu. Sebab ia sangat mencintai suaminya.
Zein masih setia mendengarkan ayah dan anak membicarakan sesuatu yang mulai bisa ia pahami. Sang anak mencintai seseorang yang telah dimiliki oleh orang lain. Lalu sang ibu mendukung. Tetapi sang ayah melarang.
Namun, yang tak ia mengerti di sini adalah posisinya. Apa posisinya di sini? Siapa sebenarnya dirinya di sini? Itu yang perlu ia cari tahu. Itu yang perlu ia cari jawabannya.
Zein membuka pelan pintu kamar di mana ia berada. Lalu berjalan pelan keluar kamar tersebut. Berjalan mendekati ayah dan anak itu. Terang saja kedatangan Zein mengejutkan mereka.
"Abang!" panggil Safira pelan. Zein menatap wanita itu sekilas. Tanpa menjawab. Hanya diam. Lalu pria tampan ini menatap pria paruh baya yang bisa dibilang mirip dengannya.
"Untuk apa kau keluar. Sembuhkan dulu lukamu. Baru keluar!" perintah Laskar pada Zein.
"Ayo duduklah dulu, sini Papa bantu!" ajak Laskar sembari mendekati Zein, hendak membantu pria tampan itu.
Namun, Zein menolak dengan alasan ia bisa sendiri.
"Baiklah kalo kau tak mau!" jawab Laskar pelan. Masih berusaha sabar menghadapi sang putra.
Zein pun memulai langkahnya kembali dan duduk di sofa yang ada di tempat itu.
Sedangkan Safira pun sama. Wanita ini juga duduk. Tetapi dengan wajah cemberut. Sepertinya ia cemburu dengan perlakuan Laskar yang berbeda. Antara dirinya dan Zein.
__ADS_1
"Kau mau makan atau mau minum, mungkin?" tanya Laskar pada Zein.
Zein menggeleng. Safira menatap kedua pria yang sedang drama itu.
"Baiklah! kalian berdua bercengkramalah. Papa mau ke kamar mandi sebentar!" pinta Laskar. Sebenarnya ia hanya bermaksud menghindar. Ia tak ingin Safira semakin cemburu dengan perlakuan berbedanya. Laskar hanya ingin menjaga perasaan anak gadisnya itu.
Zein dan Safira kembali saling menatap. Mulut mereka diam. Zein bingung harus memulai pertanyaannya dari mana. Sedangkan Safira juga bingung harus memulai dari mana cerita tentang kisah mereka.
Kehampaan tentu saja menyerang kakak beradik yang belum tahu tentang kebenarannya ini. Namun, feeling Zein jarang terpeleset. Ia yakin bahwa wanita yang ada di depannya saat ini adalah adiknya. Entah itu adik kandung atau sepupu, Zein yakin, mereka memiliki hubungan darah. Zein sangat yakin itu.
***
Berbeda dengan Zein dan Safira yang masih bingung memilih kata. Di sini ada Juan yang sedang berjuang mencari sebuah jawaban atas apa yang terjadi pada dirinya.
Pria tampan ini kembali memantapkan hatinya untuk ke Manado dan mencari di mana sang istri dan anak mereka berada.
Juan merasa hidupnya hampa tanpa mereka. Terlebih sang kakek dikabarkan akan datang ke Indonesia untuk melihat mereka. Dia akan mati, jika sampai pria tua itu tahu tentang kebodohannya meminta Stella pergi. Juan sudah memastikan itu.
Roni, sang kakek, pasti akan menghajarnya sampai babak belur jika sampai saat beliau datang, tetapi Juan belum jua menemukan sang istri.
"Ya Tuhan, maafkan aku Ste!" ucap Juan sembari mengusap kasar air mukanya. Berharap Stella mendengar isi hatinya. Mendengar keluh kesahnya.
Entahlah, Juan benar-benar berharap kali ini. Bahwa Stella juga merasakan kerinduan yang ia rasakan untuk mereka. Untuk Stella dan Berliana.
__ADS_1
Bersambung.....