PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Tak Menyangka


__ADS_3

Wanita hamil memang sangat sensitif. Biasanya mereka begitu peka terhadap masalah yang sebenarnya tidak terlalu besar. Biasanya mereka akan mengambil hati masalah yang kadang bisa dibilang bisa diselesaikan tanpa harus beradu argumen. Sebenarnya kesepakatan itu bisa diambil tanpa menyudutkan salah satu pihak. Seperti yang dialami Juan dan juga Stella terhadap masalah yang saat ini sedang membelit mereka.


Juan terpaksa menghubungi Zein dan mengajak pria itu untuk mendiskusikan masalah ini. Setidaknya Juan harus mendapatkan kepastian dari Zein. Bagaimana dia menerima kenyataan ini? Kepada siapa pria itu aja memihak? Bukankah semuanya harus jelas. Ini juga demi kesehatan mental Berliana. Putri mereka bersama.


Juan menatap sang istri yang sedari tadi hanya duduk termenung di sofa kamar mereka. Wanita itu temenung lesu, seakan sedang memikirkan sesuatu.


Memang benar apa yang disangka Juan. Sang istri memang sedang memikirkan sesuatu. Beberapa hari berlalu sejak kedatangan Laskar dan Laila, Stella lebih banyak diam. Wanita ini sempat merasa bersalah pada sang suami, karena secara tidak langsung, dia dan putrinya telah memberikan masalah kepada Juan.


"Jangan sedih, Mam! Berliana adalah putri kita. Papi nggak akan biarin siapapun menyentuh putri kita. Apapun yang terjadi!" ucap Juan berjanji.


"Mami takut, Pi!" jawab Stella jujur.


"Apa yang Mami takutkan? Kita menikah sah secara agama dan hukum. Berliana juga terlahir dari pernikahan kita. Masalah nasab, kita bicarakan nanti, kalo putri kita sudah siap! Jangan takutkan sesuatu yang belum terjadi, Mam! Percayalah, Tuhan tidak tidur. Papi berjanji, selama Papi masih hidup, tak akan pernah kubiarkan mereka menyentuh Berliana." Juan memeluk sang istri dengan penuh cinta.


"Masalahnya bukan itu, Pi!" Stella menatap sang suami.


"Lalu apa?" tanya Juan lembut.

__ADS_1


"Mami merasa bersalah sama Papi. Karena Mami dan Berliana, tanpa sengaja banyak memberikan masalah buat Papi," jawab Stella sedih. Dengan cepat, Juan segera menutup mulut sang istri dengan jari-jarinya. Tak sampai di situ, Juan juga memberikan kecupan penuh kasih sayang di bibir wanita yang sangat ia cintai itu.


"Mami dengerin Papi baik-baik ya. Kita menikah untuk saling melengkapi. Masalah Mami adalah masalah Papi, begitupun sebaliknya. Jadi jangan pernah merasa seperti itu. Dulu, Mami inget nggak pas usaha Papi hampir terjun bebas. Siapa yang bantu Papi, Mami juga kan?" Juan kembali memberikan kecupan di bibir sang istri. Lalu kembali memeluknya. Agar sang kekasih hati merasa aman hidup bersamanya.


Stella sendiri sebenarnya percaya pada sang suami. Namun, mau bagaimanapun, yang namanya manusia biasa, tetap saja ada kekhawatiran di sana.


"Sudah jangan menangis lagi. Besok Papi akan coba diskusikan ini dengan Zein. Papi rasa Zein pasti mau menjelaskan masalah ini dengan kedua orang tuanya," ucap Juan. Berharap sang istri percaya dengan janjinya kali ini.


***


Kali ini, bukan hanya Stella yang berada di dalam jurang kekhawatiran. Di surut ruang yang lain ada Vita yang mulai terusik dengan sikap otoriter Luis yang suka mendikte dia. Seakan Vita adalah bawahannya.


Seperti malam kemarin, selesai melakukan sesi foto prewedding, Luis marah besar kepadanya. Hanya karena Vita terlambat beberapa menit.


"Maafkan aku Luis? Aku sakit perut!" ucap Vita memohon.


"Sakit perut atau kamu lagi godain para pelayan hotel itu?" tuduh Luis tanpa alasan.

__ADS_1


Vita mengerutkan kening heran. Dari mana Luis dapat pemikiran bodoh itu.


"Luis, ini tidak lucu. Aku bukan wanita seperti itu, kamu tahu itu Luis. Jangan memancing pertengkaran dengan tuduhan tak berdasarmu itu!" jawab Vita berani.


Luis tersenyum licik. Sungguh, bagi Vita ini seperti bukan Luis yang ia kenal. Ini bukan seperti Luis yang selalu mengagungkannya. Sungguh, Vita sangat heran dengan perubahan sikap Luis yang bisa dikatakan tak masuk akal ini.


"Sebaiknya kamu jaga sikap, atau kamu akan menyesal!" ancam Luis sebelum pergi meninggalkan Vita sendiri.


"Aku tidak terima ini, Luis. Tuduhanmu sangat tidak berdasar!" jawab Vita berani. Ya, Vita adalah gadis yang tidak mudah ditidas. Selama ia merasa benar, saat itu dia akan berani melawan.


"Buktikan padaku bahwa ucapanku salah, Vita. Jangan sok baik kamu!" balas Luis sengit.


Vita diam. Namun dalam hati gadis ini menangis sedih. Bagaimana tidak? Hari pernikahan mereka tinggal sebentar lagi. Lalu sikap Luis berubah drastis. Bukankah ini merupakan ancaman baginya. Segala kemungkinan bisa terjadi jika begini, termasuk perpisahan.


Vita masih belum bisa terima tuduhan yak berdasar itu. Tetapi Luis sudah meninggalkannya sendiri di tepi pantai dengan mengenakan gaun pengantin untuk sesi foto prewedding mereka. Vita tertunduk lemas, karena tak bisa memahami apa yang sebenarnya Luis pikirkan tentangnya.


Ingin Vita cuek tidak mau memikirkan sikap aneh Luis. Tetapi, tak dipungkiri. Bahwa apa yang Luis pikirkan tentangnya saat menganggu ketenangan batinnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2