
Vita membuka mata. Terang saja, gadis ini langsung terkejut. Sebab ada Zein yang berdiri tepat di depan matanya. Tepat berada di tempatnya berbaring. Seketika gadis ini langsung duduk dan menyerang Zein dengan kata-kata pedasnya.
"Ngapain kamu ada di sini? Mau mesum ya?" serang Vita.
"Hah mesum, sama kamu? Jangan mimpi! Dada aja rata, mana mungkin aku *****," jawab Zein tak kalah pedas. Mata Zein juga tertuju pada dada Vita.
Spontan gadis ini pun menutup dadanya yang terekspos sempurna. Bagaimana tidak? saat ini hanya mengenakan kaos oblong tanpa bra. Terang saja, dada itu bisa terlihat jelas di mata Zein.
"Ngapain di tutupin, dari tadi aku juga udah lihat. Percaya kan kamu kalau aku nggak tertarik. Kalau aku ***** udah aku pegang tu dada rata," tambah Zein, dari nada suaranya terdengar jelas jika ia teramat sangat kesal.
Entah mengapa Zein jadi kesal, melihat gadis yang ia anggap sebagai adik sendiri itu begitu ceroboh menjaga tubuhnya dari mata lelaki. Beruntung yang melihat dirinya. Bayangkan jika yang melihat pria lain. Bisa habis dia.
Vita tak menjawab, sebab dia tahu jika dia salah. Ceroboh karena tanpa sengaja telah membiarkan anggota tubuhnya di nikmati oleh mata seorang pria yang bukan muhrimnya.
"Mandi sana, pakek baju yang bener, yang sopan. Awas pakek rok mini lagi!" perintah Zein. Lagi-lagi pria ini menunjukkan ketidaksukaannya pada Vita jika memakai pakaian yang terbuka.
"Saya kan sekali doang pakek rok mini, kenapa sih diungkit terus!" gerutu Vita kesal. Gadis ini enggan berdebat dengan pria menyebalkan ini. Dengan cepat ia pun beranjak dari pembaringan dan masuk kamar mandi.
Zein hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak menyangka akan berhadapan dengan gadis labis seperti Vita. Apa lagi gadis labil tersebut menjadi sekertarisnya. Bukan dia yang diurus malah dia yang ngurus.
"Ya Tuhan, kenapa Engkau kirimkan aku sekertaris yang merepotkan seperti ini. Ditegur dikit ngambek. Belum juga dimarahin," ucap Zein bingung.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit berlalu, Zein masih setia menunggu Vita selesai mandi. Berbaring sambil memainkan gawainya. Sesekali ia juga membaca materi rapat yang akan diadakan siang ini. Sedangkan Vita hanya modar-mandir di kamar mandi. Bingung. Sebab ia tak membawa baju ganti. Ingin memakai baju yang ia pakai pas tidur. Tapi nanti Zein pasti marah lagi.
Kesabaran manusia pasti ada batasnya. Begitupun Zein. Menyadari waktu rapat hampir tiba, tetapi sang sekertaris masih asik-asik di kamar mandi. Dengan penuh amarah dia pun mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Vita! Kamu tidur ya!" teriak Zein sambil mengetuk pintu kamar mandi itu.
Dari dalam terdengar suara Vita menyaut. "Nggak!" jawab Vita.
"Lalu ngapain, udah hampir satu jam kamu berdiam di kamar mandi. Gantian!" balas Zein lagi.
Vita pun membuka sedikit pintu kamar mandi itu dan melongokkan kepalanya.
"Maaf, Bang. Vita nggak bawa baju ganti!" ucap gadis ini memelas dan Zein tahu, jika itu hanya wajah tipuan. Vita begitu pasti takut Zein marah padanya.
Dengan kesal pria ini pun mengambilkan koper milik Vita. Zein sendiri pun ceroboh. Tidak hati-hati. Terlalu emosi. Tanpa ia duga ternyata koper tersebut tidak ditutup. Seketika, ketika koper itu ia angkat, tentu saja apa yang ada di dalam koper tersebut berantakan. Segala isinya pun tumpah. Dari mulai baju kerja, baju tidur dan baju dalam gadis itu pun berantakan.
"Haisst, merepotkan sekali!" umpat Zein kesal.
Tak punya pilihan, Zein harus bertanggung jawab atas kecerobohannya. Akhirnya tanpa melihat, ia pun memunguti baju-baju tersebut dan memasukkannya ke dalam koper.
"Astaga, mimpi apa aku mungutin baju cewek. Menjijikkan sekali!" gerutu pria ini kesal.
__ADS_1
"Ngapa tadi aku nggak keluar kamar saja. Bodoh sekali," tambah Zein sembari mengangkat koper itu dan membawanya ke depan pintu kamar mandi. Setelah sampai di depan pintu kamar mandi, pria ini pun mengetuk pintu itu dan meninggalkannya.
Kali ini ia memilih keluar. Sebab, tak sopan saja rasanya melihat seorang gadis bersiap di depan matanya. Apa lagi dia adalah mantan adik iparnya. Meskipun dalam hati Zein menganggapnya adik sendiri. Zein hanya ingin menjaga batasan. Batasan sebagai laki-laki. Ia tak mau Vita berberpikir bahwa dia pria mesum yang tidak bertanggung-jawab.
Di dalam kamar mandi, Vita memejamkan matanya malu, ketika melihat isi kopernya berantakan. Dia menduga, pasti Zein telah melihat barang pribadinya. Bukan hanya itu, pasti pria itu memegang barang-barang ini juga. Vita yakin itu.
"Astaga! Kenapa aku ceroboh sekali. Bodoh bodoh bodoh!" umpat Vita kesal pada dirinya sendiri. Vita malu, sangat-sangat malu. Namun juga bersyukur. Bersyukur mendapat atasan yang baik seperti Zein. Tidak mata keranjang. Selalu menjaga batasannya. Selalu menjaga pandangan matanya. Terlepas dari kebodohannya di masa lalu.
Selesai mengganti pakaian dan bersiap. Vita pun mengirim pesan pada Zein agar kembali ke kamar.
Melihat Zein membuka pintu. Vita hanya menunduk malu dan melanjutkan pekerjaannya. Menyiapkan berkas-berkas yang akan dia bawa hari ini.
Begitupun Zien. Pria ini langsung mengambil baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak memedulikan Vita yang terlihat rikuh padanya. Zein berusaha menjaga martabatnya sendiri. Menjaga wibawanya sebagai seorang pria. Karena memang begitulah dia. Tak ingin terlalu pusing dengan masalah berbau perasaan. Karena baginya, wanita yang baik adalah wanita yang mampu menjaga dirinya luar dalam. Seperti sang mantan istri. Namun sayang, kala itu dia sudah mendapatkan wanita seperti kriterianya. Hanya saja, karena pemikiran kolotnya ia harus kehilangan segalanya.
Namun sekarang, setelah ia melewati masa terberat itu, Zein menyadari bahwa dia tak pantas untuk Stella. Dan dia akan berusaha ikhlas untuk kebahagiaan Stella dan putri kandungnya. Mau bagaimanapun ia mencintai Stella dan menginginkan kebahagiaan wanita itu. Jika kebahagiaan Stella ada pada Juan, apa salahnya mengalah. Toh, melihat Stella bahagia adalah prioritasnya saat ini.
***
Di lain pihak ada Rehan yang sedang menatap penuh rindu pada gadis yang kini sedang menemani sepupunya untuk melihat gaun pernikahan antara dirinya dan Isabela.
Gadis itu memang diam dan sesekali tersenyum. Namun Rehan yakin, jika hati gadis yang ia cintai itu kini terluka.
__ADS_1
Bersambung.....
Makasih untuk like komen dan vote kalian๐๐