PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 28


__ADS_3

Selepas perbincangan koyol itu, Zizi memilih jaga jarak dengan Zein. Menurutnya Zein sangatlah koyol plus keterlaluan.


Bagaimana tidak? Di antara mereka tidak ada rasa, lalu tiba-tiba saja si pria mengejar dan mengajaknya menikah. Bukankah ini adalah permintaan konyol.


Dua hari berlalu sejak pertemuan terakhir mereka di rumah sakit, Zi sengaja tidak main ke rumah Zein. Zi takut jatuh cinta pada pria itu. Zi takut baper. Zi takut nantinya merasa nyaman dengan Zein dan akhirnya terlena. Lalu memunculkan harapan untuk memiliki pria itu.


Namun, strata berbeda dan perasaan yang mungkin tidak akan pernah ada di antara mereka, pada akhirnya pasti akan menyakitinya. Bukankah itu adalah hal yang pasti akan merusak persahabatan mereka. Zi takut, cinta akan membuat nasibnya semakin menyedihkan.


***


Di lain pihak, Zein merasa sangat rindu dengan keceriaan sahabatnya itu. Dengan santainya ia pun pergi ke kos-kosan Zizi. Zein tidak berpikir penyebab Zi tidak datang ke tempatnya. Ia hanya berpikir mungkin Zi sibuk dan lelah bekerja. Itu sebabnya dia tidak main ke apartemennya.


Sesampainya di depan kos kosan Zi, Zein pun langsung menghubungi sahabatnya tersebut.


"Emang you di mana?" tanya Zi.


"Aku di bawah, di depan post satpam," jawab Zein santai.


"What?" pekik Zi.


Spontan Zein pun menjauhkan ponsel yang ada di gengamannya dari telinganya.


"Sakit, Zi telingaku! Astaga! Cepatlah turun, dingin ni!" jawab Zein dengan cendaan seperti biasa.


Zi yang tahu bagaimana kondisi kesehatan Zein pun langsung berlari keluar kamar untuk menemui pria itu.


"Eh ngapain malam-malam begini klayapan. Kamu kan lagi flu," ucap Zizi ketika berada tepat di depan Zein.


Bukannya menjawab, Zein malah tersenyum melihat penampilan Zizi yang saat itu hanya menganakan daster dan rambut digulung asal. Seperti emak-emak muda pada umumnya.

__ADS_1


"Dih, ditanya malah senyum-senyum nggak jelas. Kamu ngapain malam-malam gini klayapan, Bapak?" Zi mulau terluhat geram.


"Nggak, kamu kalo di rumah penampilannya emang begini, Zi?" tanya Zein santai.


Terang saja, pertanyaaan Zein membuat Zizi kelimpungan. Sebab ternyata dia tidak menyadari bahwa saat ini dia sedang memakai seragam kebangsaan emak-emak. Dengen cepat ia pun mengempit dasternya dan tersenyum malu-malu.


"Maap, habis aku buru-buru. Aku kan tahu kamu deman sama flu. Udah sana pulang. Istirahat!" suruh Zi sambil meraih tangan Zein, seakan meminta pria itu untuk kembali ke tempat yang aman.


"Nggak mau, aku pengen ngobrol sama kamu," pinta Zein sesuai tujuannya datang ke sini.


"Ya kan bisa di telpon, Bapak!" jawab Zi gemas.


"Nggak mau, aku mau ketemu," jawab Zein manja.


Masih saling berpegangan tangan, Zein dan Zizi pun mengobrol santai. Seperti layaknya orang pacaran. Sayangnya mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihat tingkah mereka.


"Belum, aku mau makan sama kamu," jawab Zein.


Astaga lagi-lagi jawaban manja dan bikin baper, Zizi benar- benar takut jatuh cinta pada pria aneh ini. Namun, ia juga tak bisa menolak. Mau bagaimana pun, mereka sudah berkomitmen dan saling berjanji akan berteman sampai mereka memiliki pasangan masing-masing.


"Mau makan apa?" tanya Zizi.


"Makan sate, yuk. Kayak yang biasa kamu beli buat aku!' ajak Zein.


"Makan sate? Emmmm, oke deh! Sebentar aku ganti baju dulu ya," ucap Zi, berpamitan.


"Nggak usah, kamu begitu juga udah cantik kok," jawab Zein, sebenarnya ia jujur, hanya saja Zi menganggapnya itu hanya sebuah candaan.


"Saya tahu, Bapak. Kalo saya cantik dalam keadaan apapun. Tapi kalo Bapak mau melihat saya berpernampilan seperti ini setiap hari, Bapak harus nikahi saya dulu. Oke... bye!' jawab Zi seraya melangkah meninggalkan Zein yang saat itu hanya tersenyum mendengar candaan yang mengandung tantangan itu.

__ADS_1


Namun, dalam hati Zein, dia memang berniat menikahi wanita yang membuatnya selalu merasa nyaman dan selau berhasil membutnya tersenyum itu.


Bukan hanya itu yang membuat Zein ingin menikahi gadis itu, menurutnya Zi adalah gadis baik dan bisa menjaga martabatnya. Tidak banyak permintaan dan bisa membawa diri. Dan menurut kaca mata seorang Zein, itu adalah kriteria terbaik untuk calon seorang istri.


Lima menit kemudian, Zi pun datang dengan outfit berwarna cream yang manis. Dipadukan dengan celana panjang jeans berwana hitam, serta rambutnya digerai separo. Membuat gadis yang berprofesi sebagai perawat ini terlihat cantik, meskipun berpenampilan sederhana.


"Nanti kamu nginep di rumahku ya Zi!" pinta Zein, tanpa malu.


Lagi-lagi permintaan yang mengandung virus perbaperan itu dilancarkan oleh Zein, membuat Zizi semakin gemas di buatnya.


"Keknya kamu bukan hanya harus ketemu dokter saraf ama ortopedi deh Zein, tapi mesti ketemu psikolog juga," ucap Zizi.


"Why?" Zein terkekeh, sebab ia tahu dan paham maksud dan tujuan Zizi berkata demikian.


"Ya iya, kalo nggak psikolog, mending ke biro jodoh aja. Biar ada istri, terus ada yang nemenin ngobrol di ranjang, Udah tahu aku cewek, enak banget ngajakin nginep. Kita ini manusia normal, Bro. kalo cewek cowok berduaan di tempat sepi, yang ketiga siapa?" Zizi melirik Zein kesal.


"Dih, jauh bener mikirnya. Aku bisa jalan aja nggak, mana mungkin aku bisa menjamah kamu. Ada ada aja kamu, Zi." Zein menundukkan kepalanya sedih.


"Kamu emang belum bisa jalan, tapi naluri kelelakianmu normal kan?" tanya Zizi.


"Normal lah, enak aja." Zein mengangjat wajahnya dan menatap Zizi kesal.


"Nah, itu masalahnya. Aku pun sama. Kalo aku jadi gemes terus pengen makan kamu gimana?" canda zi, namun di balik candaan itu terasa ada sebaris makna yang tersembunyi.


"Ya makan aja' Zi. Akan kuberikan tubuhku ini dengan tulus ikhlas sama kamu," jawab zein sembari terkekeh, seperti tidak memikirkan efek dari jawabannya tersebut untuk Zizi.


Zizi enggan melanjutkan perdebatan mereka. Zizi takut tak bisa memedam rasa yang mulai tumbuh di hatinya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2