PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
JALANI SAJA


__ADS_3

Kita memang tidak ditakdirkan untuk disukai semua orang. Yang membenci biarlah membenci. Yang tidak suka biarlah tidak suka. Yang terpenting untuk kita adalah tetap berprasangka baik. Kita tidak boleh menjadi seorang pembenci. Karena apa yang kita tanam akan kita tuai. Apapun yang kita lakukan, yakinlah, semua akan kembali pada diri kita sendiri.


***


Kebahagiaan yang dirasakan Vita dan Luis menjadikan mereka lupa waktu. Padahal, besok Luis harus kembali ke Indonesia. Karena sang nenek menginginkannya pulang. Entah ada masalah apa, yang jelas wanita tua itu memintanya kembali segera mungkin.


"Bener nggak mau ikut ke Indo?" tanya Luis lembut.


"Sebenernya ingin, tapi abang iparku memintaku untuk menjaga kakak dan juga bayi mereka. Aku nggak mungkin ingkar janji kan? Abangku itu menyeramkan!" jawab Vita, Lagi-lagi dengan candaan khasnya membuat Luis gemas.


"Oke-oke. Nanti setelah urusanku dengan oma selesai, kita ke Singapura ya. Aku ingin memintamu pada ayahmu. Mau bagaimanapun, sekarang kamu masih tanggung jawabnya, masih miliknya. Jadi aku harus tetap menemuinya," balas Luis masih dengan tatapan gemas dan ingin kembali mencium gadis idamannya ini.


Vita mengangguk, meskipun sebenarnya ia malas bertemu dengan pria jahat itu.


"Nggak boleh cemberut begitu! Mau bagaimanapun beliau adalah ayahmu. Seharusnya kita bantu beliau. Bukan malah membiarkan beliau tenggelam dalam jurang penderitaan. Siapa tahu dengan kita peduli padanya, dia akan sadar dan bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik." Luis masih setiap menatap sang kekasih. Pria tampan ini juga mengelus lembut pipi sang bidadari hati.


Vita mengangguk mengerti. Hati gadis ayu ini serasa adem ketika berbincang dengan pria lembut baik hati ini. Rasanya Vita seperti menemukan sosok ayah dalam diri Luis. Begitu mengerti dirinya. Begitu melindungi. Dan yang terpenting adalah, mencintainya.


Hari hampir pagi, namun mereka berdua masih asik bercengkrama. Saling berbagi cerita. Saling memberikan suport. Saling mendukung keputusan satu sama lain. Selama keputusan tersebut tidak merugikan orang lain.


"Ya udah, pulang yuk. Bentar lagi kamu mesti naik pesawat kan?" ajak Vita, namun Luis masih setia memegang tangannya. Seolah enggan berpisah.


"Bolehkah aku membawamu ke mana pun aku pergi?" tanya Luis manja.

__ADS_1


"Boleh, tapi setelah kita menikah," jawab Vita seraya beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Luis berjalan menuju mobil milik pria tampan itu.


"Kamu menyiksaku, Honey!" balas Luis memelas.


Vita hanya tersenyum, lalu mereka pun masuk ke mobil untuk mengantarkan Vita pulang.


"Kita udah kelewat batas pacarannya, Luis. Kalo kita di Indo, mungkin kita udah ditangkap dan dinikahkan paksa, kamu tahu. Masak keluar rumah dari sore hingga menjelang pagi begini. Yang bener aja," ucap Vita sembari terkekeh.


"Kamu ini, bisa aja," balas Luis sambil mencolek hidung mancung sang kekasih hati.


Begitulah gaya pacaran mereka. Saling berjanji untuk menjaga kepercayaan satu sama lain. Terlebih saat ini mereka terpaksa pacaran jarak jauh. Karena Vita masih memiliki janji dengan Juan. Begitupun Luis. Pria tampan ini juga masih punya banyak pekerjaan yang mengharuskan dirinya pindah dari negara satu ke negara yang lain.


***


Sang pengendara tak bisa menuruti keinginan bodoh wanita yang kini ada di atas motornya. Sepertinya ia juga tahu apa yang terjadi dengan wanita aneh ini. Akhirnya ia pun memutuskan untuk membawa sang wanita ke kontrakannya. Dan berniat memandikan wanita ini di sana.


"Di mana ini? Kamu membawaku ke mana?" tanya Safira takut.


"Jangan banyak tanya! Mau sembuh nggak?" tanya pria itu sembari memaksa Safira masuk ke dalam rumahnya.


Safira yang merasa hidupnya dalam bahaya, tentu saja langsung berteriak. Pria itu tak kehilangan akal, ia pun langsung membekap mulut wanita itu dan membawanya ke kamar mandi.


Mengguyur tubuh seksi itu. Sedangkan Safira terus saja berteriak marah.

__ADS_1


"Dasar pria gila!" teriak Safira lagi.


Sang pria tetap diam dan melanjutkan apa yang dia lakukan. Menurutnya, Safira memang meminum obat laknat itu, tapi melihat reaksinya, sepertinya Safira tidak terlalu banyak minum. Sebab masih bisa mengendalikan nafsunya.


Selepas mengguyur tubuh sang wanita dengan air dingin, pria itu pun keluar kamar mandi dan mengambilkan handuk untuk Safira. Enggan repot, ia pun melempar handuk tersebut tepat di wajah wanita yang terus menatapnya dengan tatapan penuh kebencian itu. Tak ada kata, akhirnya ia pun memutuskan meninggalkan sang wanita seorang diri.


Di dalam kamar mandi, Safira menangis takut. Wanita ini mengigil kedinginan. Bagaimana tidak? Seluruh pakaiannya basah. Ingin dia melepaskan seluruh pakaiannya itu. Tetapi, tak mungkin. Sebab, tempatnya berada saat ini adalah rumah seorang pria.


Hampir tiga puluh menit berlalu, Safira masih tenggelam dalam tangisnya. Mengumpat kesal pada pria yang membawanya ke rumah ini. Tak berapa lama terdengar seseorang membuka pintu, mungkin itu adalah pria menyebalkan itu.


Benar saja, tak lama sang pria pun membuka pintu kamar mandi itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Lalu, ia kembali melemparkan kantong plastik berwarna hitam untuk Safira. Kemudian ia pun berkata, "Pakai itu, setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang!" ucapnya sembari menutup kembali pintu kamar mandi itu.


Terlihat dari wajahnya, Safira menduga, pria itu pasti marah padanya. Tapi, bodo amat. Yang penting dia dapat baju, dan bisa segera meninggalkan rumah ini.


Safira membuka pelan kantong plastik berisi baju untuknya. Di sana ada gaun berwarna marun. Ada kerudungnya juga. Sepertinya bukan gaun, tapi seperti gamis.


"Astaga! Pakaian apa ini? Dari mana dia dapatkan baju seperti ini. Ada dalam juga. Mungkinkah ini punya istrinya?" gumam Safira.


Belum sempat Safira memakai pakaian itu, sang pria sudah mengetuk pintu kamar mandi itu lagi.


"Iya sebentar!" pinta Safira. Sang pria pun memberinya waktu lagi. Sedangkan Safira, cepat-cepat ia memakai pakaian itu. Sebelum pria yang menolongnya kembali marah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2