PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Mencoba Memahami Hati


__ADS_3

Juan kembali menatap intens pada mata sang sahabat. Memastikan bahwa apa yang ia curigai adalah benar. Tetapi, Juan tak ingin mengorek luka itu. Ia akan menunggu sampai Zein mau terbuka sendiri padanya.


"Masuk yuk, Bro. Kali ini elu nggak jadi asisten Luis tapi tamuku, sahabatku, keluargaku!" ajak Juan sembari meraih tangan Zein.


Zein hanya tersenyum tipis. Ia pun menjawab ajakan sang sahabat dengan candaan khasnya.


"Bro, nggak mengurangi rasa hormat kau padamu atau pun pada istrimu, tapi kalo aku masuk ke dalam, yang ada bosku nggak jadi ngelamar adikmu. Yang ada bakalan perang. Aku kena hujat seluruh wanita yang ada di dalam. Nanti kamu bisa pusing ngelihatnya. Kamu kan tahu di dalam sana semua wanita adalah haters ku. Bahaya, Bro. Mending jangan ," jawab Zein, terkekeh.


"Ya nggak lah, mana ada begitu! Yuk ah!" ajak Juan lagi.


"Serius, Bro. Kali ini aku harus profesional. Aku harus bisa menempatkan diriku sebagaimana mestinya. Agar semua berjalan sesuai rencana. Aku mohon mengertilah!" tambah Zein lagi. Kali ini Zein mengembangkan senyumnya ikhlas. Seiklhas apa yang terjadi padanya saat ini. Sebenarnya apa yang Zein pikirkan bukan hanya Vita tetapi juga ada seorang lagi yang membuatnya gelisah. Yaitu, bayi itu. Bayi yang tercipta dari benihnya. Tetapi tak bisa ia sentuh. Karena lagi-lagi tembok penghalang yang menghalangi keinginannya terlalu tinggi.


"Ngarang kamu, Bro. Mana ada begitu! Kita semua udah anggap semua itu masa lalu, Bro. Lagian Stella waktu kamu kena musibah kan dateng nemenin kamu." Juan melirik kesal, sebab menurutnya Zein hanya alasan saja soal orang-orang yang menurutnya membencinya.


"Udah, please Jun. Kali ini jangan paksa aku. Aku serius. Lebih baik aku menghindar dari pada menciptakan masalah lagi. Aku sadar, nggak semua orang bisa terima perubahan kita. Ya kan?" jawab Zein, terdengar lemah di akhir. Tapi Juan tetap menangkap ada sesuatu yang lain yang Zein sembunyikan darinya. Mungkinkah? batin Juan bertanya curiga.


Namun sekali lagi, Juan tak ingin mengorek apapun yang sedang sang sahabat rasakan. Sebab, melihat tatapan mata itu saja, Juan sudah paham jika saat ini sahabatnya ini sedang terpuruk. Masuk kembali ke dalam jurang kekecewaan.


"Udah sana, nggak usah peduliin aku. Aku baik-baik saja, Jun. Serius!" ucap Zein sembari menghela napas dalam.

__ADS_1


"Entahlah Zein, saat ini aku merasa kamu sedang dalam keadaan yang tidak baik," jawab Juan jujur.


Zein tersenyum tipis. Sebab ia tak berkutik. Tak bisa mengelak apa yang Juan ucapkan.


"Aku sendiri tak bisa memahami perasaanku, Jun. Entahlah!" Zein mulai berani membuka sedikit celah masalah yang membelenggunya.


"Apa yang kamu takutkan, Zein?" pancing Juan.


"Tidak ada, semua baik!" jawab Zein berusaha menghindar.


"Apakah kamu percaya hidup, mati, rezeki dan juga jodoh itu bukan kuasa kita, Zein?" tanya Juan.


Juan tahu, jika candaan Zein itu adalah isi hatinya. Tetapi Juan tak kehilangan akal, ia pun membalas candaan itu dengan pancingan yang sedikit menampar hati Zein.


"Bagaimana dengan adiknya?" Juan menatap serius pada mata sang sahabat.


Spontan Zein terbatuk, sesaat setelah mendengar pertanyaan itu. Rasanya sulit sekali bernapas, sampai Zein memutuskan berpaling dari Juan. Agar Juan tak mendesaknya dengan pertanyaan tak masuk akal itu baginya.


Kini Juan paham, jika apa yang pernah ia bahas bersama Rehan adalah benar. Zein memiliki rasa pada Vita. Pun sebaliknya. Sebab, ketika dia membahas Zein di depan Vita, raut wajah gadis itu langsung berubah. Seperti merasakan sesuatu yang lain.

__ADS_1


"Aku nggak maksa kamu buat jujur padaku, Zein. Tapi sebaiknya kamu jujur pada dirimu sendiri. Pada dia yang kamu cintai. Sebab aku yakin, kalian memiliki rasa yang sama. Namun, entah mengapa kalian egois terhadap diri sendiri." Juan kembali menatap tajam pada Zein. Sedangkan Zein hanya tersenyum kecut.


Karena kebodohannya kembali terciduk oleh seseorang yang selama ini percaya padanya.


Zein mengalah dalam diam. Zein mengalah untuk kebaikan. Zein berusaha tidak egois. Lebih legowo dan bisa menerima konsekuensi dari kesalahan bodoh yang pernah ia perbuat.


***


Di dalam rumah senyum mengembang di antara Vita dan Luis. Sebab malam ini begitu istimewa buat mereka berdua.


Luis membawakan seikat bunga mawar merah untuk sang kekasih. Sebagai lambang betapa ia sangat mencintai gadis pujaan hatinya. Tak lupa, selepas saling berpelukan, Luis juga menghadiahkan kecupan mesra di kening sang kekasih.


"Kamu cantik, Honey," bisik Luis di tengah-tengah pertemuan menenangkan itu.


"Makasih, kamu juga tampan. Jadi gemes," balas Vita sembari mengelus dada sang kekasih.


Pemandangan itu tak sengaja tertangkap oleh Juan yang hendak masuk ke dalam. Kini Juan paham, kenapa Zein tak tidak mau masuk ke dalam. Mungkin ini adalah alasan utamanya. Tidak sanggup melihat gadis yang ia cintai tersenyum pada pria lain. Tidak sanggup melihat gadis yang ia cintai bersanda gurau dengan pria lain. Intinya Zein tidak sanggup menyakiti hatinya dengan tangkapan matanya. Lebih baik ia menghindar. Dari pada luka yang ia rasakan semakin bertambah parah.


Bersambung....

__ADS_1


Like n Komen kalian adalah semangatku😍


__ADS_2