PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
KETULUSAN HATI SAFIRA


__ADS_3

Pria paruh baya itu menatap tajam ke arah Juan. Sedangkan Juan membalas tatapan itu dengan tatapan teduh. Mau bagaimanapun ia harus tetap menghormati pria ini. Meskipun tidak dipungkiri bahwa saat ini dia masih merasakan sakit di hatinya. Terlebih jika ia mengingat ucapan pria itu. Ucapan menyakitkan yang pernah terlontar untuknya.


Rehan yang tahu bagaimana canggung nya Juan pada pria itu, langsung berinisiatif mencairkan suasana dengan mengajak pria paruh baya itu duduk.


"Mari Om, silakan duduk!" ajak Rehan dengan hormat.


"Em, terima kasih," jawab pria paruh baya itu sambil mengikuti langkah Rehan dan duduk di kursi yang telah tersedia di sana. Sedangkan Juan, juga kembali duduk selang satu kursi dari Rehan.


"Sama-sama, Om. Makasih sudah menyumbangkan darah Om untuk sahabat saya. Saya mewakilinya mengucapkan beribu-ribu terima kasih Om," ucap Rehan dengan gaya khasnya.


"Nggak usah sungkan. Ini udah kewajiban, Om. Oiya kamu siapanya Zein?" tanya pria itu pada Rehan.


"Oiya Om, sampai lupa, kenalin saya Rehan temannya Zein dan ini Juan. Kami bertiga sahabatan Om," jawab Rehan sembari menunjuk ke arah Juan.


Pria itu hanya tersenyum sambil menatap sekilas pada Juan. Sedangkan Juan sendiri pun sama, menatap sekilas pada Laskar dan tersenyum sebentar.


"Oh, kalian berteman. Sudah lama?" tanya Rehan.


"Sejak kapan ya, Jun, lupa Om. Pokoknya kita berteman, itu saja." Rehan terkekeh. Bermaksud mencairkan susana. Tetapi tetap saja, meskipun dia berusaha bercanda, kedua pria yang ada di samping kanan-kirinya masih saja dingin.


"Apa kamu tahu kenapa dia jadi seperti ini?" tanya Laskar pada Rehan.


Rehan menatap Juan bimbang. Begitupun Juan. Mereka berdua sama-sama bimbang. Bagaiaman tidak? Ia baru saja melihat pria ini dan belum tahu siapa sebenarnya pria ini. Haruskan ia berterus terang atau menunggu Zein sadar dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

__ADS_1


"Maaf, Om. Bukannya saya tidak menghormati Om. Tetapi kami harus menghormati privasi Zein. Ini adalah masalah pribadi beliau Om. Kami harap Om mengerti," jawab Rehan. Berharap pria ini mengerti posisinya dan Juan. Bahwa mereka hanyalah teman, tidak seharusnya mengumbar masalah Zein pada orang lain. Terlebih orang itu adalah seseorang yang belum lama mereka kenal.


"Baiklah, Om paham. Oiya, Om mau titip ini untuk Zein. Nggak usah bilang apa-apa. Pokoknya kamu kasihkan aja, ini kunci apartemen untuknya. Nanti seluruh biaya operasi dan perawatan untuknya biar Om yang bayar. Jadi nggak usah khawatirkan apapun. Masalah lainnya nanti biar pengacara Om yang urus," ucap Laskar sembari menitipkan dua kartu untuk Zein. Satu kartu ATM dan satu lagi mungkin kunci apartemen.


"Baik Om. Tapi sebelumnya saya mohon maaf, Om. Nanti kalo Zein tanya ini dari siapa, saya mesti jawab apa Om?" tanya Rehan.


"Nanti biar Om sendiri yang jawab. Om titip Zein ya!" ucap Laskar sembari beranjak.


"Om nggak nungguin Zein selesai operasi?" tanya Rehan.


"Nggak usah, tak akan terjadi apa-apa pada bocah itu. Dia pria kuat yang pemberani. Percayalah!" ucap Laskar yakin.


Rehan hanya melongo. Hatinya goyah, aneh saja dengan perangai pria yang baru di temui nya ini.


Sedetik kemudian pria ini pun melangkah meninggalkan Rehan dan Juan. Tak lupa Juan membukukan sedikit punggungnya. Tentu saja untuk menghormati pria ini. Namun, pria tersebut dengan angkuhnya melewati Juan. Tanpa sepatah katapun dan Juan memahami itu. Mau bagaimanapun, ia pernah menyakiti hati pria itu, dengan menghamili putrinya.


Juan tersenyum sekilas. Namun tak dipungkiri bahwa perasaannya saat ini goyah. Pertemuannya dengan Laskar membuat Juan sedikit terguncang. Terguncang oleh masa lalu yang pernah ia alami bersama Safira. Rasa kehilangan wanita itu seakan mengkoyak hatinya. Dan rasa kembali Juan rasakan saat ini.


***


Safira memeluk wanita yang ini telah sah menjadi pendamping hidup kekasih hatinya. Safira tidak bisa menjanjikan apapun untuk Stella. Tetapi ia akan berusaha mengikhlaskan Juan untuknya.


Namun tidak dengan Stella, ibu satu anak ini malah berjanji pada wanita tersebut akan menjadi istri terbaik. Akan selalu ada untuk Juan. Apapun yang terjadi.

__ADS_1


Tak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Mereka sudah sama-sama ikhlas dengan posisi masing-masing.


Safira sebagai masa lalu Juan dan Stella sebagai masa depan Juan. Tak lupa Safira juga meminta doa pada Stella, agar ia segera dipertemukan dengan jodohnya.


"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Ra. Maafkan aku!" ucap Stella lembut.


"Jangan minta maaf terus, Ste. Udah kubilang aku, kamu maupun Juan tidak bersalah. Terutama kamu, kamu tidak bersalah. Kamu tidak ada hubungannya dengan masa lalu kami, Ste. Kamu adalah masa depan Juan. Serius! aku nggak pa-pa, Ste, " ucap Safira dengan senyum manisnya.


"Aku nggak tahu mesti ngomong apa sama kamu, Ra! Kamu baik banget. Kamu bisa setulus itu mencintai Juan. Sampai sanggup mengikhlaskan dirinya untuk wanita lain. Aku nggak bisa bayangin perdihnya perasaan kamu, Ra," ucap Stella. Meskipun ia berusaha menahan air matanya, tetap saja, yang namanya hati tidak bisa dibohongi. Termasuk pintu hati tersebut. Mata itu begitu fasih menggambarkan betapa terharunya Stella saat ini. Terharu oleh kebaikan dan ketulusan hati Safira. Stella juga yakin jika Safira sangat mencintai Juan.


"Udah ah, aku nggak mau kita sedih-sedihan kek gini. Pokoknya kamu harus selalu kuat, selalu sehat. Ingat suamimu itu tampan, bisa saja bukan aku nanti yang godain dia. Tapi wanita lain di luaran sana!" canda Safira sambil merangkul manja lengan Stella.


"Hisst, lah ya jangan. Dia untukku saja," balas Stella dengan senyuman termanis nya


"Iya ratu Bucin, astaga!" jawab Safira tersenyum maja. Merangkul Stella dengan candaan khasnya.


"Ya udah, aku balik dulu ya. Maaf udah menyita waktumu," ucap Stella.


"Nggak, Ste. Sering-sering ya mampir ke sini. Sering-sering dibeli itu dagangan bos gue, biar doi cepet kaya. Kan kalo bos gue kaya, gue cepet naik gaji. Biar bisa naik haji. Ye kan, mayan!" canda Safira lagi. Spontan Stella pun tertawa.


Ternyata Safira sangat asik. Dia begitu pandai bercanda. Atau itu adalah caranya menutupi luka. Entahlah! Pada kenyataannya begitulah Safira. Keikhlasan hatinya patut diacungi jempol.


Stella sedikit lega. Kekhawatirannya tidak terjadi. Namun, masih ada satu hal yang membuatnya takut. Yaitu suaminya sendiri, Stella takut kalau Juan masih menginginkan wanita itu kembali kepadanya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like komen n share ya😍😍😍


__ADS_2