
Zein, si pria anti perempuan yang tidak ia kehendaki itu, akhirnya menang telak terhadap adik ipar yang mencoba mengkadalinya.
Zein tersenyum puas mana kala Lutfi hanya bisa menatap kepergiannya dengan tatapan memelas. Beberapa kali mengeluh kesal. Bahkan saat dirinya masuk ke dalam mobil, Lutfi menendang kasar ban mobilnya. Zein jadi geli sendiri melihat tingkah bucin bapak satu anak itu.
"Mampus! tambah lama kan lo puasanya! Syukurin!" umpat Zein ketika mulai menginjak pedal gas mobilnya.
Di dalam mobil, Zein kembali tertawa. Terlihat dari kaca spion, Lutfi menatapnya kepergiannya dengan tatapan ingin mengumpat. Membuat Zein geli sendiri.
"Rasain, dia yang punya kasus, udah bawa-bawa abangnya nggak jelas. Masih aja mau ngerjain. Enak aja! Lu pikir abang lu ini bodoh apa. Rasain sekarang, nikmati tidur di sofa sempit!Zein Rasain nggak bisa peluk bini lu. Makanya jangan suka mamerin kemesraan. Udah tahu abangnya jomblo. Dipamer-pemerin nggak jelas!" gerutu Zein sembari tertawa senang.
Entahlah, rasanya lucu saja bisa membuat asistennya itu sedikit kesal. Kali ini, Zein memang tak ingin kalah dengan Lutfi. Apapun yang pria itu rencanakan untuknya, Zein berusaha membalas. Dengan balasan yang tidak bisa Lutfi duga tentunya.
***
Di ruang tamu, Lutfi beberapa kali menggerutu kesal. Pria ini terus memaki bos sekaligus kakak iparnya yang tidak pengertian itu. Menurutnya, Zein sungguh keterlaluan.
Malam ini adalah malam yang ia nanti. Karena Safira berjanji padanya akan memberikan jawaban atas perasannya malam ini.
Eh, tanpa disangka, tanpa ia duga, malah mereka kembali mendapat sandungan dan sandungan itu sengaja diciptakan oleh seseorang yang ia anggap mendukung hubungannya dengan sang istri.
"Dasar abang laknat! Bisa-bisanya dia nggak ngerti perasaan dua sejoli yang saling mencintai!" gerutu Lutfi ngomel-ngomel tak jelas.
Untuk melepaskan kekecewaannya, Lutfi pun merebahkan tubuhnya di sofa sempit itu.
"Ya Tuhan! Sempit sekali sih ah!" Lutfi melempar selimutnya kesal. Malas memakai selimut itu. Hatinya sudah cukup panas, sehingga suhu tubuhnha pun ikut naik. Lutfi sibuk mengomel. Lutfi sibuk mengumpat kesal. Sampai tidak menyadari, bahwa apa yang ia lakukan sedang diperhatikan oleh sang istri.
Safira tersenyum senang. Ternyata sang suami bisa juga marah-marah. Hanya karena tak bisa tidur sekamar dengannya. Apa lagi kalau dia izin pulang ke Batam. Bagaimana reaksinya ya? batin Safira tertawa senang.
Penasaran dengan reaksi sang suami, Safira pun segera duduk di samping sang suami. "Ehheemmm!" Safira berdehem. Segaja mengagetkan sang suami.
__ADS_1
Lutfi yang mendengar suara samg istri, tentu saja senang. Ia pun langsung bangun dari tempatnya berbaring.
"Eh, Bunda. Kok belum tidur, Bun?" tanya Lutfi sembari tersenyum senang.
Safira hanya menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala. Seolah memberi kode pada Lutfi bahwa dia juga tak bisa tidur tanpa dirinya.
"Kenapa?" tanya Lutfi lagi, pura-pura lugu.
Safira kembali menggeleng. Tapi kali ini dia menundukkan kepalanya. Agar Lutfi tidak mencari tahu jawaban itu dari sorot matanya.
"Bun, keluar yuk!" ajak Lutfi mesra.
"Keluar? Keluar ke mana?" tanya Safira heran.
Lutfi tak menjawab pertanyaan Safira kali ini. Ia pun langsung meraih tangan sang istri dan mengajak wanita itu ke taman kecil samping rumah mereka.
Seperti sudah di persiapkan dengan matang. Lutfi pun mengajak sang istri duduk dibangku yang dikelilingi bermacam-macam bunga itu.
Tak ada bulan malam ini. Tetapi kerlip bintang juga tak kalah ini. Semilir angin malam membawa aroma mawar bercampur dengan aroma bunga sedap malam, membuat suasana romantis tergugah sendiri.
"Aku suka di sini kalo malam, Bun. Enak kan?" ucap Lutfi dengan senyum menawannya.
Safira tersenyum. Sebab ia juga mengakui ternyata taman kecil yang ada di samping rumah mereka ini, ternyata bisa juga merilekskan pikiran.
"Kok dari tadi cuma senyum, ngomong dong, Bun. Masak dari tadi aku doang yang ngomong." Lutfi mengelus mesra pipi wanita yang kini berhasil bertahta manja di hatinya itu.
"Aku bingung mesti ngomong apa. Kamu kan tahu sejak aku berpisah dengan pria itu. Aku belum pernah terlibat dengan pria manapun. Jadi aku nggak tahu mesti ngapain," jawab Safira jujur.
Lutfi tertawa lirih. Ternyata, istri judesnya ini sangat-sangat lugu dan menggemaskan.
__ADS_1
"Bunda, sini," pinta Lutfi sembari menarik tangan dan pinggang sang istri agar duduk di pangkuannya.
"Aku tidak bisa menjanjikanmu kemewahan, Bun. Tapi aku akan berusaha membuatmu bahagia dengan caraku. Dengan cintaku. Semoga kamu berkenan dengan kesungguhanku, Bun," ucap Lutfi sembari menyatukan kening mereka.
Safira sendiri tak mampu menjawab apa lagi menolak perlakuan mesra itu. Sebab pada dasarnya ia juga menginginkan ini. Menginginkan sentuhan pria yang mulai bisa diterima oleh hatinya itu.
"Jawablah, Bun. Aku mohon! Bolehkah aku membahagiakanmu? Bolehkah aku memilikimu?" tanya Lutfi mesra. Terdengar memaksa. Namun paksaan yang Lutfi lakukan kali ini sungguh-sungguh indah. Bahkan sangat indah.
"Aku nggak tahu mesti jawab apa, Fi. Tapi aku yakin, kamu pasti udah dapat jawaban yang kamu mau," jawab Safira lembut. Penuh teka-teki. Namun, Lutfi adalah pria peka. Tentu saja bisa dengan mudah ia bisa mengartikan ucapan itu.
"Mulai malam ini, maukah kamu menjadi pasanganku di dunia maupun di akhirat, Bun? Maukah kamu menjadi istri lahir batinku? Maukah kamu mendampingiku hingga maut memisahkan?" tanya Lutfi serius.
Safira mengangkat wajahnya. Menatap mata pria itu. Tak dipungkiri, bahwa saat ini, detik ini, jantung Safira berdetak jauh lebih kencang dari sebelumnya. Ia gugup. Ia gemetar. Ia takut. Namun juga ingin. Safira menginginkan ini. Ia menginginkan kebersamaan ini.
"Aku harus jawab apa?" celetuk Safira. Terdengar bodoh. Namun seperti yang telah ia jabarkan. Bahwa ia tidak terbiasa diperlakukan seromantis ini.
"Jawab aja sesuai isi hatimu, Bun. Apapun jawaban itu, aku siap mendengarnya," jawab Lutfi masih berusaha sabar.
"Aku istrimu, aku milikmu, Fi. Terserah kamu mau apakan aku. Itu hakmu," jawab Safira malu-malu.
Lutfi tersenyum gemas. Sebab bukan itu jawaban yang ia mau. Lutfi mau Safira mengakui perasaanya. Bukan malah berpikir lain.
"Bun, bukan itu jawaban yang aku mau. Kalo soal hak, kamu memang hakku. Begitupun denganku. Aku juga hakmu. Kamu juga boleh ngapa-ngapain aku. Tapi bukan itu maksudku," ucap Lutfi mulai terlihat tak sabar.
Melihat sang suami sedikit ngegas, Safifa jadi ilfeel. Wanita ini pun langsung beranjak dari pangkuan sang suami dan mengerutu kesal. "Jawab ini salah, jawab itu salah. Terus aku mesti jawab apa, Lutfi. Dah ah, kamu memang menyebalkan," jawab Safira langsung melangkah meninggalkan Lutfi sendiri di taman. Bukan hanya itu, Safira juga menatap kesal pada pria yang menurutnya aneh itu. Sedangkan Lutfi hanya melongo, bingung.
Gagal romantis, itulah kata yang pas untuk menggambarkan apa yang terjadi antara Lutfi dan Safira. Lagi-lagi Lutfi harus merasakan kegagalan untuk kesekian kali. Ternyata menghadapi wanita sensitif super barbar harus punya tingkat kesabaran yang tinggi.
Sabar ya Pak, Sabar! πππ
__ADS_1
Bersambung....