PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
SEPENGGAL KISAH STELLA


__ADS_3

"Siapa kamu? ngapain kamu ngendap-ngedap seperti maling?" tanya Juan, ketika tubuh Vita tak sengaja menabraknya.


"Bukan urusanmu!" jawab Vita ketus. Menatap tajam ke arah Juan.


"Bukan urusanku, kamu bilang heh! Asal kamu tahu, aku adalah pria yang bertanggungjawab atas keselamatan gadis yang ada di kamar itu!" balas Juan dengan tatapan mata tak kalah tegas.


Vita diam. Kembali mereka saling menatap tajam.


"Katakan siapa kamu atau aku bakal seret kamu ke kantor security!" ancam Juan, lagi-lagi menunjukkan sikap tegasnya.


"Sudah kubilang bukan urusanmu! Minggir!" hardik Vita berani. Hendak menepis tangan Juan yang berani menghadangnya. Namun dengan kuat pria ini pun menangkap tangan gadis itu. Vita yang memiliki ilmu bela diri pun melawan. Sayangnya pergerakannya kalah gesit dengan Juan.


"Berani sekali bocah ini!" umpat Juan kesal. Lalu ia pun langsung memuter tubuh Vita dan menarik tangan gadis ini serta membawanya masuk ke dalam ruangan Salsa. Supaya tidak menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka.


"Lepas!" Vita meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Juan. Namun Juan tak mau kalah, ia pun terus manarik tangan Vita hingga sampai ke ruangan Salsa. Lalu memaksa gadis itu untuk duduk.


"Duduk!" perintah Juan kasar.


Vita bukanlah Stella. Beberapa kali gadis ini berusaha mengelabuhinya. Berusaha kabur. Membuat Juan kewalahan. Ya, Vita memang lebih agresif dibanding kakaknya. Lebih tangguh, tomboy dan tak mudah ditahlukkan. Gadis ini beberapa kali terlihat hendak menyerangnya.


"Kamu diem atau aku panggil security!" ancam Juan lagi sembari berkacak pinggang kesal.


Vita tak menjawab, namun malah menatap berani. Menatap penuh permusuhan pada Juan. Matanya melirik ke sana ke mari, terlihat waspada. Masih berusaha mencari celah untuk kabur.


Juan tak mungkin menghadapi gadis licin ini seorang diri. Beberapa saat kemudian dia pun menghubungi Salsa. Beruntung saat itu, Salsa sedang berada di apotek, yang masih berada satu gedung dengan klinik ini.


"Sa, cepat ke sini. Ada cewek aneh masuk klinik elu. Doi mencurigakan. Aku tunggu di ruang kerja lu ya. Cepet!" pinta Juan.


Tak lama berselang, terdengar suara langkah kaki Salsa mendekati ruangan itu. Kemudian tanpa diminta, dokter cantik ini pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Siapa dia Jun?" tanya Salsa.


"Sepertinya gadis ini adalah salah satu penjahat yang menganiaya wanita yang kita selamatkan itu, Sa!" tuduh Juan tanpa alasan.


Tentu saja Vita langsung naik pitam.

__ADS_1


"Enak aja nuduh-nuduh!" saut gadis ini berani.


"Lalu siapa kamu? Kenapa kamu masuk ke kamar pasien tanpa izin kami?" cecar Salsa pada Vita.


Gadis ini belum amu menjawab. Ia malah terus mentap tajam pada Juan. Seperti tak bisa percaya begitu saja pada Juan. Seperti curiga pada Juan.


"Kamu tidak perlu curiga padanya, dia adalah sepupuku. Yang menemukan gadis itu di jalan waktu itu. Jika maksud kamu ke sini baik, maka kami akan melepaskanmu. Namun, jika masih ingin berniat jahat pada pasien kami. Maka jangan harap kamu bisa keluar dengan aman dari tempat ini!" tambah Salsa.


Vita masih tak mau menjawab. Membuat Juan semakin geram.


"Udah Sa. Kalau dia nggak mau jawab. Bawa aja ke kantor polisi!" ucap Juan menakut-nakuti.


Vita yang mendengar kata polisi langsung bereaksi.


"Jangan, jangan, jangan. Oke-oke! oke saya akan jawab siapa saya. Tapi janji tolong jaga kakak saya!" jawab Vita. Gadis ini mulai mau membuka siapa dirinya sebenarnya.


"Katakan, siapa kamu sebenarnya dan apa hubunganmu dengan wanita yang sedang dalam pengawasan kami? Mengapa kamu panggil dia kakak? Apakah ia saudaramu?" tanya Salsa lagi.


Vita kembali diam. Seperti orang kebingungan. Namun bukan Juan namanya kalau tak bisa membuat lawannya berbicara.


"Baiklah, sebaiknya kita bawa kasus penganiayaan ini ke meja hijau aja, Sa. Percuma kita baik-baik sama mereka. Biar polisi saja yang membuka semua rahasia ini!" ancam Juan pelan, tetapi terdengar menusuk telinga siapapun yang mendengarnya. Terlebih buat Vita.


"Jangan berbelit-belit, sebaiknya katakan saja? Kamu siapa dan apa hubunganmu dengan wanita yang ada di kamar atas?" tanya Salsa pelan. Mulai bisa mengontrol nada suaranya.


"Baiklah aku akan berterus terang. A-aku adalah adik dari wanita yang ada di kamar itu," jawab Vita gugup. Menatap bergantian Juan dan Salsa.


"Adik? Kamu adik wanita itu?" tanya Juan heran.


"Iya, aku adalah adiknya." Suara Vita terdengar melemah. Tak segalak pertama kali bertemu Juan. Gadis ini menatap tanpa berkedip mata Salsa. Lalu tatapan itu berubah nanar. Butiran-butiran bening keluar dari mata cantik ini. Seketika membuat Juan dan Salsa bingung.


"Apa yang terjadi pada kakakmu?" tanya Salsa. Langsung pada pokok pembahasan mereka.


"Boleh aku titip kakakku sebentar pada kalian? Sampai aku menemukan tempat yang tepat untuknya?" tanya Vita pada Salsa. Kedipan pertama sukses membuat air mata itu berlinang lebih deras.


"Ya tentu, kenapa tidak! Tetapi sebelum itu, bolehkah kami tahu siapa yang melakukan itu pada kakakmu?" Salsa mengambilkan tisu untuk Vita.

__ADS_1


"Dua pria biadab yang nggak punya hati!" jawab Vita marah.


Juan dan Salsa saling memandang bingung.


"Boleh kami tahu siapa mereka? Lalu apa alasannya mereka melakukan itu?" Salsa dan Juan semakin penasaran.


"Mereka adalah mantan suami dan juga ayahku!" tangis Vita pecah. Gadis ini tak mampu lagi membendung sesak yang ia rasakan dalam dadanya. Rasanya kekejaman sang ayah seperti sebuah belati yang menancap kuat di ulu hati.


"Mantan suami? Ayah kalian? Kenapa?" Kali ini Juan yang bertanya. Ia pun penasaran dan heran. Mengapa mereka memperlakukan wanita lemah itu seperti bukan manusia.


Vita kembali menatap tajam pada kedua orang yang kini mengintimidasinya. Ragu, antara harus cerita atau tidak.


"Kami berjanji akan jaga rahasia ini. Karena bagi kami ini adalah urusan keluarga kalian. Hanya saja, jika kami tahu cerita yang sebenarnya, kami tidak akan salah menilai kakakmu!" ucap Salsa dengan pemikiran dewasa.


"Baiklah. Aku tahu kalian orang baik. Sebelumnya terima kasih telah merawat dan menjaga kakak saya." Vita kembali menangis, rasanya tak sanggup mengungkapkan apa yang telah terjadi. Sebab baginya ini adalah aib Stella. Entahlah, Vita bingung bagaimana menyebut kisah ini. Bagaimana dia harus memulai cerita ini.


"Yang sabar, yang kuat. Kami tahu ini berat buat kalian. Kami tidak meminta detailnya. Tetapi kami hanya ingin tahu apa alasan mereka melakukan itu pada kakakmu?" Salsa menatap lembut pada Vita. Bermaksud memberi ketenangan lada gadis ini. Agar ia kuat dan bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Oke, aku percaya pada kalian." Vita menghela napas panjang. Berusaha menguasai diri sebelum bercerita.


"Kakakku adalah pengantin baru. Baru semalam dia menikah. Lalu entah mengapa suaminya mendadak mengembalikan kakakku ke rumah. Suaminya mengatakan bahwa dia tidak suci lagi. Dia bilang ada yang mendahului. Entahlah aku tidak mengerti apa maksudnya. Lalu, ayahku...." Vita kembali menangis. Menangis meratapi berapa perihnya apa yang kakaknya rasakan. Perilaku yang sangat buruk.


Salsa dan Juan kembali saling menatap. Dari sepenggal kisah itu mereka bisa mencerna sendiri apa yang terjadi.


"Sudah, kalau kamu nggak kuat cerita nggak apa-apa. Kita sudah paham dan ngerti. Ayahmu merasa malu, lalu menghajar kakakmu kan?" tanya Salsa. Vita mengangguk, lalu ia kembali menangis.


Tak ingin mendesak Vita dengan pertanyaan yang bisa membuat gadis ini menangis akhirnya Juan dan Salsa pun sepakat menjaga Stella atas permintaan Vita.


"Maukah kalian membantuku sekali lagi?" tanya Vita.


"Tentu saja, kenapa tidak!" jawab Dokter cantik itu.


"Tolong jaga kakakku sebentar lagi, biar aku cari tempat untuk menyembunyikan nya dari ayah. Jika ayah tahu kakak masih hidup, aku khawatir jika ayah akan mencari dan membunuhnya. Sebab saat ini ayah masih marah dan membenci pada kakak. Apa lagi surat pembatalan pernikahan itu sudah keluar. Ayah merasa nama baiknya tercoreng. Tetapi aku yakin kakakku tidak seperti yang mantan suaminya tuduhkan. Aku kenal kakakku. Dia gak mungkin melakukan hal serendah itu. Kakak belum pernah pacaran atau berhubungan dengan laki-laki, selain dengan pria yang menikahinya hari itu." ucap Vita sambil menatap mata Salsa. Ia berharap Salsa dan Juan percaya padanya.


Dari cerita Vita akhirnya Juan dan Salsa tahu siapa Stella. Meskipun mereka belum tahu siapa mantan suami dan detail keluarga Stella. Sebab mereka berdua tak mau dinilai terlalu lancang.

__ADS_1


Bersambung....


like n komen jangan lupa. Ikuti juga kisah Nandita dan Zidan dalam MY SUNSHINE... lope buat kalian🥰🥰🥰


__ADS_2