
Di dalam kekalutannya, akhirnya Zein pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan pulang ke rumah. Walaupun sebenarnya ia sangat malas bertemu wanita yang memang ingin ia hindari.
Kini, Zein sudah berada di rumah. Sedang merebahkan tubuhnya untuk melepaskan penat yang menderanya.
Di atas pembaringan, Zein kembali merasakan kegelisahan. Ada rasa sesal kenapa ia meninggalkan Vita di Singapura. Namun, ia juga tak punya banyak alasan untuk menjawab setiap tanya yang dilontarkan oleh wanita itu. Zein tak begitu pandai berbohong, itu sebabnya ia memilih menghindar dari Vita. Bukan dari orangnya, tetapi dari setiap pertanyaan wanita itu.
Kejujuran memang dibutuhkan dalam setiap hubungan dan Zein sangat menyadari itu.
Dalam lamunannya memikirkan keputusan yang akan ia ambil dalam perihal hati ini, Zein juga tak ingin berlama-lama membohongi Zi. Zein ingin berterus terang pada istrinya itu. Bahwa pada kenyataannya hatinya juga menginginkan wanita lain. Wanita yang ia cintai jauh sebelum mengenal Zi.
Ya, saat ini, Zein sedang memikirkan itu. Kedengarannya memang jahat. Tapi Zein tidak lagi ingin mengalah. Zein tidak mau mengorbankan kebahagiaannya lagi. Zein tidak mau memikirkan pemikiran orang lain perihal cinta terlarangnya ini.
Hampir dua jam Zein memikirkan masalah hati yang sukses membuat isi kepalanya hampir meledak ini, Zein pun memutuskan untuk memejamkan mata. Melupakan sejenak masalah belum ada jalan keluarnya ini.
***
Berbeda dengan Zein yang masih belum menemukan jalan keluar, ada Safira yang curiga dengan keanehan rumah tangga abang dan juga kakak iparnya.
Sekarang, Zein sangat susag dihubungi.. Sedangkan Zizi juga tertutup akan keadaan yang sebenarnya. Membuat pasutri yang kini ditugaskan untuk mempersiapkan acara resepsi untuk mereka menjadi bingung sendiri.
"Abang ini kenapa ya, Mas? Aneh banget dah. Dihubungi nggak pernah mau ngangkat. Udah gitu Kak Zi juga tertutup. Mas tahu nggak mereka kenapa?" tanya Safira pada sang suami.
"Ah, itu hanya perasaanmu saja kali, Bun. Kan abangmu sekarang lagi repot. Ya wajar kalo nggak ingin diganggu. Kalo soal Kak Zi, dia kan perawatan, Bun. Bisa jadi jadwal dia padat," jawab Lutfi menerka-nerka.
"Aku cuma takut abang lagi galau. Secara abang orangnya nggak mudah jatuh cinta sama orang. Aku takut kalo abang nggak bener-bener cinta sama Kak Zi. Aku takut abang cuma nyaman sama Kak Zi. Makanya aku nggak kasih tahu kabarVita sekarang, sebab aku takut abang masih ada rasa sama Vita. Takut menganggu emosi abang," ucap Safira serius.
Spontan, Lutfi membelalakkan mata. Lalu sedetik kemudian ia memejamkan matanya, sadar jika dia bodoh dan menyesal. Sebab sikap Zein berubah, bisa jadi pria itu terpengaruh omongannya. Dan sekarang, mungkin pria itu sedang dalam kegelisahan.
Jika benar, maka dialah orang yang bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi.
"Apa maksud Bunda, mungkinkah abang masih ada rasa sama sahabat Bunda itu?" tanya Lutfi takut.
"Ya udah pastilah, namanya rasa emang bisa secepat itu hilang, aneh Mas ini!" jawab Safira yakin.
__ADS_1
Deg...
Hahahaha.... mati... batin Lutfi, takut.
"Bun, Bunda yakin?" tanya Lutfi lagi, masih penasaran dengan pemikiran sang istri yang menurutnya memang benar, tapi Lutfi berusaha menyangkalnya. Padahal, jika diingat Lutfi melihat dengan kepalanya sendiri, Zein menangis ketika Vita dinikahi oleh sang kekasih. Zein kabur karena tak mampu menahan gejolak hati yang ektrim itu.
Bukan hanya pada saat pernikahan itu yang menjadi bukti cinta bahwa Vita memang bersarang di hati pria itu.
Masih ingat ketika Vita diculik, Zein rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan wanita itu.
Sekarang, tanpa berpikir sejauh itu, dia malah dengan mudah memberikan informasi yang bisa membuat sang kakak ipar goyah. Lutfi sungguh-sungguh menyesal.
"Mas, hey.... kenapa diam?" tanya Safira sembari menepuk paha sang suami.
Seketika, Lutfi pun tersentak dari lamunan. "Eh, iya, Bun. Apa?" tanya Lutfi. Terlihat linglung.
"Mas, kenapa?" tanya Safira heran.
"Bun, matilah Mas sekarang!" ucap Lutfi, takut.
Sedangkan Lutfi hanya bisa mengusap peluh yang mulai menyembul keluar dari pori-pori yang ada di keningnya.
Detak jantungnya berdegup lebih kencang. Bagaimana tidak? Jika benar apa yang di pikirkan sang istri adalah kenyataan yang terjadi saat ini, maka tak menutup kemungkinan, pasti rumah tangga sang abang saat ini pasti sedang goyah. Dan di sini, pihak yang paling dirugikan adalah Zizi. Wanita baik hati itu.
Zizi pasti akan tersisih jika seandainya benar, Zein lebih mementingkan perasaannya dari pada logikanya.
Bukankah itu akan memperburuk semuanya. Termasuk rumah tangganya dengan Safira juga terancam. Tidak menutup kemungkinan bahwa sampai Safira tahu, kalau mulut lemesnya ini yang memulai semuanya, maka tamatlah riwayatnya. Safira pasti tidak akan mengampuninya.
"Bun!" Lutfi menatap sang istri.
"Hemm!"
"Tolong bantu, Mas, dong!" pinta Lutfi, mulai terlihat gelisah.
__ADS_1
"Tolong apa?" tanya Safira masih santai.
"Tolong, Bunda, tanya sama sahabat Bunda itu, apakah abang datang menemuinya!" pinta Lutfi, takut, harap-harap cemas.
"Ngapain?" Safira masih belum paham, maksud dan tujuan sang suami meminta hal aneh seperti itu.
"Itu, Bun, anu... ya nggak apa-apa sih, pengen tahu aja. Kenapa abang berubah? Jangan-jangan telah terjadi sesuatu seperti yang Bunda takutkan," jawab Lutfi, mencoba mencoba memberi sedikit kode untuk sang istri.
"Ih, ngapain? Kan abang udah lama ganti nomer hape. Nggak mungkin lagi abang tahu kalo Vita lagi di mana dan lagi ngapain. Kecuali kalau ada yang kasih tahu... " Safira menghentikan ucapannya. Lalu, ia menatap sang suami yang tampak gelisah.
Seketika, Safira pun curiga. "Kenapa Mas gugup begitu?" pancing Safira.
"Itu... anu... Bun. Itu.... " Lutfi tak sanggup berucap, dia terlalu gugup, terlalu takut. Rasanya tak sanggup jika harus meladeni kemarahan sang istri.
"Jangan bilang kalo kamu kasih tahu abang tentang keadaan Vita dan kondisi suaminya saat ini?" tanya Safira, langsung dengan apa yang ia pikirkan.
Lutfi menatap sang istri. Lalu, ia pun memutuskan untuk jujur. "Maaf, Bun. Mas pikir, Pak Luis kan mantan bosnya abang. Nggak etis aja kalo abang nggak jenguk. Dia dalam keadaan kritis begitu," jawab Lutfi, jujur. Sebab ia memang tidak berpikir bahwa sang abang ipar masih memiliki rasa pada istri pria itu.
Spontan, jawaban itu membuat telinga Safira memanas. Bagaimana tidak? Setengah mati ia mencoba menjaga agar jangan sampai keceplosan perihal Vita dan suaminya. Ini malah suami lucunya membocorkan fakta yang dengan susah payah ia coba sembunyikan.
"Ya Allah ya Tuhanku, Mas..... tahu ah, Fira nggak ngerti lagi gimana caranya ngasih pengertian sama kamu," ucap Safira jengkel.
"Ya maaf, Bun .... Mas pikir, abang pasti udah move on. Secara dia kan udah nikah. Pikirku kalo udah nikah ya cinta, mana ada nikah nggak cinta," jawab Lutfi lugu.
"Astaghfirullah... Mas... Mas... mau sampai kapan kamu jadi pria lugu nan oon begini?" Safira menatap kesal pada sang suami. Sedangkan Lutfi hanya diam seribu bahasa, sebab ia memang salah. Dia tahu dia salah.
"Ya kan logikanya begitu, Bun!" jawab Lutfi lagi, menurutnya kalau menikah ya karena cinta. Mana ada orang menikah tidak cinta. Orang dia aja cinta. Kalau tak cinta, mana mungkin dia mau.
"Logikanya ... logikanya. Mas... denger ya, nggak semua pria itu sepertimu, Mas. Mau menikah karena cinta. Ada loh yang karena terpaksa, terus nyaman, terus karena usia... bisa juga karena harta. Macam-macam pokoknya alasannya. Nah, kalo soal kasus abang, aku takut abang itu cuma nyaman sama Zi. Bukan karena sepenuhnya cinta. Makanya gampang Ngeghosting .... Paham nggak maksud Fira?" ucap Safira menggebu, penuh emosi. Karena sang suami begitu menjengkelkan menurutnya. Susah mencerna situasi.
"Waduh... kalo kasusnya demikian, gimana penyelesaiannya, Bun?" tanya Lutfi takut.
"Ya kita lihat saja, semoga apa yang kita pikirkan tidak benar. Abang tidak melakukan apa yang sejak tadi kita bahas. Kalo pun abang berangkat ke Singapura, tujuannya murni menjenguk mantan bosnya. Bukan mencuri kesempatan dalam kesempitan. Karena aku sudah hapal dengan akal bulus para lelaki seperti kalian," jawab Safira, kesal.
__ADS_1
Tak ingin terus berdebat dengan suami bodohnya ini, Safira pun memilih beranjak dari tepat duduknya, masuk ke dalam kamar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Bersambung...