
Safira masih berusaha sabar menghadapi Laila. Karena dia yakin, mmLaila masih belum bisa menguasai emosinya. Nanti setelah ini Safira percaya, pasti Laila akan bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Mama sudah oke?" tanya Safira.
"Ya, aku okey!" jawab Laila dengan suara lembutnya.
"Maafkan Fira ya Ma, karena Fira udah bikin Mama kecewa. Fira udah bikin Mama malu. Maaf kan Fira ya Ma!" ucap Safira lagi, berusaha mengambil hati wanita yang membesarkannya itu.
"Entahlah Ra. Rasanya Mama masih belum bisa menerima semuanya. Papamu keterlaluan!" ucap Laila, wanita paruh baya ini kembali mengeluarkan air matanya.
Dengan lembut, Safira pun menghapus air mata itu. Dan mencium kening sang ibu. Agar wanita paruh baya itu tahu, bahwa dirinya sangat menyayanginya.
"Apakah benar papa selingkuh dengan dia, Ma?" tanya Safira.
"Ya, Mama benci itu!" ucap Laila lagi, wajahnya terlihat muram. Mengingatnya kejadian yang sangat menyakitkan itu.
"Memangnya benar, Ma? Kalo Fira bukanlah anak kandung Mama?" tanya Safira. Bukan bermaksud lancang, tetapi ia sendiri merasa berhak tahu siapa dirinya sebenarnya.
__ADS_1
Laila menatap sang putri. Kembali wanita itu meneteskan air matanya. Rasanya tak sanggup ia menjawab 'iya'. Padahal kenyatannya adalah iya.
"Maafkan Mama, Putriku!" ucap Laila sembari memeluk erat Safira. Seakan ia menyesal telah menyakiti hati sang putri.
"Mama tidak bersalah, Ma. Fira hanya minta, Mama jujur. Sebenarnya ada apa? Sungguh, Fira bingung dengan semua ini Ma." Safira melepaskan pelukan Laila.
"Mama sendiri tak sanggup rasanya menghadapi kenyataan ini, Ra. Soal kami menyembunyikanmu di Sydney bukan tanpa alasan. Kami menyembunyikanmu di sana karena ayah tirimu mencarimu dan ingin memberikanmu pada klient bisnisnya." Laila mulai mau terbuka terhadap Safira, putrinya
"Ayah tiriku siapa, Ma?" tanya Safira bingung.
"Dia adalah suami sah ibumu. Ibumu itu tukang judi. Dia kalah dalam judi. Terpaksa ayah tirimu membayar hutang-hutangnya, tapi dia memintamu untuk ia jadikan jaminan. Terserah dia mau apakan. Itu sebabnya kami menyembunyikanmu di Sydney dan memalsukan akte kematianmu. Agar dia tidak mencarimu lagi!" ucap Laila jujur.
"Papamu takut padanya, karena saat itu papamu masih dalam kendalinya. Dia memiliki bukti perselingkuhan papamu dengan istri pria itu, yang tak lain adalah ibu kandungmu. Pada kenyataannya mereka masih saling mencintai, Ra. Mama mesti gimana?" jawab Laila, seketika tangis wanita itu pun pecah. Rasanya tak sanggup membongkar aib kebobrokan suaminya sendiri. Terlebih kepada putri semata wayangnya.
Kini Safira mengerti kenapa kedua orang tuanya memilih menyembunyikan dirinya ke Sydney. Itu karena ia dalam bahaya. Sedangkan orang tuanya yang ini belum mampu melindunginya, karena kalah kuat dengan ayah tirinya.
"Apakah kemarahan papa pada Juan itu juga pura-pura, Ma?" tebak Safira. Sebab, bisa jadi mereka juga melindungi Juan dari pria yang disebut ayah tirinya itu.
__ADS_1
"Ya, papamu memang sengaja berucap keras pada Juan. Agar Juan mempunyai tekat yang kuat untuk menjadi orang sukses dan nantinya akan papamu izinkan untuk menikahimu. Agar Juan bisa melindungimu dengan uangnya. Sebab ayah tirimu adalah pria yang sangat kejam. Bahkan saat ini saudara kembarmu juga sedang meregang nyawa karena kekejamannya," cerita Laila lagi.
Safira menatap tak mengerti dengan penjelasan yang Laila jabarkan panjang lebar itu. Tetapi, Safira tetap berusaha keras mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Saudara kembarku? Maksud Mama?" desak Safira.
"Kamu memiliki saudara kembar yang sangat tampan, Putriku. Namun, ayah tirimu yang serakah itu telah menghancurkannya. Menghancurkan masa depannya, bisnisnya, bahkan saat ini dia sedang berjuang melawan maut," jawab Laila lagi. Tak terasa butiran-butiran bening keluar dari sudut matanya. Entah mengapa ia selalu tak tega jika ada seorang anak disakiti oleh orang tua.
"Mama serius? Fira punya saudara kembar? Dan saat ini dia sedang sakit?" tanya Safira tak percaya atau lebih tepatnya dia merasa takut. Takut sekali. Entahlah, mendengar seseorang meregang nyawa saja dia khawatir. Apa lagi yang dikabarkan sedang sekarat saat ini adalah saudara kandungnya, saudara kembarnya. Safira tak sanggup berkata-kata.
"Mama serius, Putriku. Tapi Mama berharap dia baik-baik saja," ucap Laila serius.
"Ma, bolehkan Fira bertemu dengan saudara kembar Fira, Ma?" tanya Safira tak kalah serius.
"Tentu saja, kenapa tidak? Kamu sudah dewasa, Kamu berhak tahu yang sebenarnya, Putriku. Jika perlu nama akan mengantarkanmu ke sana," ucap Laila yakin.
Safira tak menyangka, jika wanita yang enggan menerimanya tadi, ternyata ia begitu peduli padanya. Begitu sayang padanya. Bahkan saat ini ia bersedia mengantarkan Safira kepada saudara kembarnya. Agar Safira cepat tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Bersambung...