PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Terbelenggu Oleh Keinginan Hati


__ADS_3

Acara lamaran untuk Vita telah selesai. Luis dan Dena pun berpamitan. Senyum kembali merekah di antara kedua calon pengantin tersebut. Sebelum pergi Luis meminta izin untuk menemui Anti. Rasanya tak sopan kalau ia datang tanpa menjenguk seseorang yang seharusnya ia temui untuk pertama kali.


Luis di temani Vita, akhirnya masuk ke dalam kamar di mana wanita itu berada. Terlihat, saat ini Anti sedang meringkuk sembari termenung di atas ranjang. Diam tanpa melakukan apapun.


Beberapa kali Vita dan Luis menyapa dan mengajaknya bersua. Tetapi wanita tanpa ekspresi itu hanya diam. Tak sekalipun ia menjawab ucapan sang calon menantu. Seperti ia tidak mendengar ucapan orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Maafkan ibuku ya," bisik Vita pada sang kekasih.


"Iya, aku paham, Honey," jawab Luis. Di tatapnya wanita yang selalu bisa mengalihkan perhatiannya ini. Vita hanya tersenyum di belakang sang calon suami.


"Udah yuk. Eh, aku lupa, kemarin ada temen kamu titipin sesuatu ke aku. Yuk aku ambilin di kamarku!" ajak Vita seraya menggandeng tangan sang calon suami.


"Oh itu ya, buat kamu aja, Honey itu," ucap Luis. Karena ia tahu isi dari paket yang ia titipkan kepada salah satu orang suruhannya.


"Ih, nggak. Orang yang nitipin katanya itu punya kamu," jawab Vita sembari terus menarik tangan Luis dan membawanya ke kamarnya.


Di dalam kamar, Vita pun langsung mengambilkan barang tersebut dan menyerahkannya pada sang pemilik.


Dari situ, Luis tahu, jika Vita mau menikah dengannya bukan karena harta. Nyatanya, barang yang sengaja untuk memancing jiwa matre gadis ini sama sekali tidak berhasil. Malah di kembalikan lagi. Vita sama sekali tidak silau dengan barang-barang itu. Membuat Luis semakin yakin dengan pilihan hatinya ini.


"Itu untukmu, Sayang. Dibilangin!" ucap Luis sembari menyodorkan kotak paket yang sebenar di dalamnya adalah sebuah perhiasan.


"Nggak sekarang, Luis. Aku belum boleh menerima hadiah seperti ini darimu. Kecuali nanti, kalo kita udah nikah. Baru boleh. Oke!" jawab Vita dengan senyum manisnya. Membuat Luis gemas.

__ADS_1


"Bolehkah aku menciummu, Sayang?" tanya Luis tiba-tiba. Sebenarnya keinginan ini tidak datang tiba-tiba. Tetapi waktunya tidak tepat. Sedari tadi mereka selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memang harus berada di samping mereka saat ini.


"Haruskah kita berciuman di sini?" tanya Vita malu-malu.


"Kenapa emang? Dikit doang," Luis tersenyum.


"Belum halal, Honey. Jangan nakal!" kali ini Vita memberanikan diri untuk menolak halus, agar Luis tidak tesingung.


"Kamu jahat, Honey. Aku merindukanmu," jawab Luis lemas.


Vita tertawa lirih. Sebab menurutnya wajah pria yang ingin jadi imamnya ini terlihat begitu menggemaskan.


"Udah yuk, jangan kelamaan berduaan. Nanti kita.... " ucapan Vita terhenti karena Luis menarik kepalanya dan memaksa mengecup bibir menggemaskan itu. Luis mencuri bibir itu karena ia tak mampu lagi membendung rasa rindu yang mengganggunya. Luis tak ingin mati gelisah. Ia pun terpaksa menuntaskan keingannya itu dengan mencuri. Sebab Vita menolak.


"Makasih," ucap Luis dengan senyum bahagianya. Vita tak menjawab, sebab ada rasa tidak rela ketika pria itu menciumnya. Entahlah, Vita hanya merasa tidak rela saja. Beruntung Luis tidak menyadari ekpresi ketidaksukaannya.


"Oke, aku simpankan. Nanti kalo aku pas ke Jakarta aku bawain. Ya," jawab Vita sembari menerima kotak itu. Lalu mereka pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.


Malam semakin larut, Luis dan Dena pun berpamitan untuk kembali ke hotel. Sebagai tuan rumah yang baik, mereka pun mengantarkan sang tamu sampai ke mobil mereka.


Untuk Juan dan Stella, mereka sudah bisa bersikap biasa. Karena sudah mengetahui perihal ini ketika menyambut mereka. Tetapi tidak dengan Vita dan Sera. Kedua wanita beda usia itu terlihat shock melihat pria yang membukakan pintu untuk tamu yang baru saja bertandang ke rumah mereka.


Juan melirik ekpresi Vita. Mempelajari raut wajah gadis itu. Meyakinkan hatinya, bahwa apa yang ia duga tidak meleset.

__ADS_1


Benar saja, mata Vita terlihat berkaca-kaca. Seperti menahan sesuatu. Entah penyesalan atau rindu. Yang jelas Juan paham pasti ada ketidakrelaan ketika ia tahu bahwa Zein sekarang berada di bawah.


Luis dan keluarganya melambaikan tangan ketika mobil yang di kendarai pria tampan itu mulai melaju. Sedangkan Juan masih memerhatikan sang adik ipar. Bahkan Juan sempat menangkap Vita menjatuhkan air matanya sendiri. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.


Stella dan Sera langsung membahas masalah ini. Tanpa berpikir bahwa Vita tertekan oleh obrolan mereka.


"Itu si Zein kok jadi sopir Luis. Bagaimana ceritanya?" tanya Sera pada Stella.


"Ste nggak tahu, Ma. Kata Juan sih sekarang Zein jadi asistennya Luis," jawab Stella sesuai apa yang ia tahu.


"Sukurin, dulu belagu sih," umpat Sera kesal. Juan masih setia memerhatikan wajah sang adik ipar yang terlihat murung.


"Jangan gitu lah, Ma. Zein udah minta maaf kok, udah menyadari kesalahannya. Bukankah tidak baik kalo kita menghakimi seseorang terus menerus hanya karena satu kesalahan saja," ucap Stella mengingatkan.


"Nggak tahu, Mama masih geram saja sama tu laki. Ih, rasanya pengen Mama becek-becek saja sampai penyet," tambah Sera lagi.


Wajah Vita memerah, seperti marah. Seperti tak terima jika ada seseorang yang menjelek-jelekan apa lagi berniat menyakiti pria itu. Entahlah, kenapa Vita jadi seperti ini. Apakah rasa yang ia miliki untuk pria itu begitu dalam. Kenapa ia seperti orang gila begini.


"Sudahlah, Ma. Jangan bahas dia lagi. Kita doakan saja, semoga dia jadi pribadi yang lebih baik. Dan untuk kita, sebaiknya kita maafkan dia. Lupakan kesalahannya. Agar hati kita sendiri juga lebih tenang," ucap Stella lagi. Mencoba mengingatkan sang ibu, agar tidak jadi pendendam.


"Baiklah, Mama akan coba melupakan dan memaafkan kesalahan pria jahat itu. Hah... mama hanya berharap, anggota keluarga kita jangan sampai ada yang berhubungan lagi dengan pria itu. Entah kenapa Mama kesal sekali setiap melihat wajahnya," ucap Sera lagi.


Kali ini, Vita tak sanggup menahan hatinya. Gadis cantik ini kembali menjatuhkan air matanya. Untuk menutupi itu, ia pun segera memilih pergi. Pergi dari ruang tamu ini. Menghindar dari orang-orang yang membenci pria pemilik hatinya itu.

__ADS_1


Lagi-lagi aksi ceroboh Vita tertangkap oleh mata Juan. Kini pria ini yakin, jika adik iparnya telah terlibat sesuatu dengan Zein. Namun sekali lagi, Juan tidak bisa membantu mereka. Karena hanya merekalah yang seharusnya berani mengambil sikap.


Bersambung....


__ADS_2