
Safira uring-uringan sejak bertemu lagi dengan pria angkuh yang menolongnya waktu itu.
Wajah Lutfi semakin intens mengganggunya sekarang. Senyuman pria itu ketika bercengkrama dengan sang papa membuatnya sebel sendiri. Baginya, aneh saja, seorang sopir bisa seakrap itu dengan sang papa. Padahal Safira tahu jika Laskar bukanlah orang yang mudah berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Paa lagi para pekerjaannya.
"Ma, kok papa akrab banget sama sopirnya itu sih. Aneh deh," ucap Safira curiga.
"Ya akrab lah, dia kan anak sahabat papamu waktu kecil. Pas papa ngajak mama balikan, kan bapaknya dia yang bantu urus surat segala macem," jawab Laila jujur.
"Tunggu Ma, tunggu. Apakah bapaknya dia pegawai KUA?" tanya Safira.
"Bisa dibilang begitu. Mama sendiri juga nggak ngerti, tahu-tahu pas papamu minta mama jadi istrinya lagi, dia ngajakin bapaknya si Lutfi buat bujuk Mama." Laila kembali meneruskan acara memasaknya.
"Papa kan udah jahat banget sama Mama. Kok Mama mau sih balikan gitu aja sama papa?" tanya Safira penasaran.
"Terkadang kita harus bisa memahami apa itu cinta apa itu emosi sesaat, Sayang. Mama sendiri juga nggak tahu. Kenapa rasanya sulit sekali melupakan papamu. Mama pasrah aja lah. Toh selama ini papamu juga cuma mulut doang ketus. Aslinya kan baik." Laila tersenyum. Sedangkan Safira melirik aneh. Karena waktu itu Laila begitu emosi dan kesal. Lalu kenapa tiba-tiba dia begitu mudah mau kembali dengan pria keras kepala itu.
Terlepas dari alasan Laila mau kembali kepada Laskar, Safira sendiri tak terlalu memusingkannya. Yang menjadi pertanyaan dan sekaligus menghadirkan tanda tanya di benak Safira adalah Lutfi. Siapa pria itu sebenarnya? Kenapa dia seperti menyimpan sejuta misteri dan membangunkan jiwa keingintahuan Safira? Bukankah ini aneh sekali.
***
Kabar tentang keberadaan Safira di Batam membuat, Vita, sang sahabat senang. Namun juga ketar-ketir. Sebab, kepergian sang kakak waktu itu juga ada hubungannya dengan wanita itu.
"Kenapa resah begitu? Ibu kan udah ketemu dokter. Insya Allah, ibu pasti sembuh," ucap Stella sedikit mengejutkan.
__ADS_1
"Bukan itu yang bikin Vita resah, Kak. Fira ngajakin ketemuan, tapi ...." Vita menatap sang kakak. Memerhatikan wajah ayu itu. Tetapi Stella malah tersenyum. Sebab ia paham apa yang dipikirkan sang adik.
"Kok, Kakak malah senyum sih?" tanya Vita heran.
"Habis, suruh gimana? Kakak sekarang nggak mau memikirkan sesuatu yang nggak penting, Vita. Bagi Kakak, abangmu itu prioritas. Kakak percaya padanya, bahwa cintanya hanya untuk Kakak dan anak-anak kami," ucap Stella yakin.
Vita tersenyum, sejatinya, ia pun senang dengan ucapan wanita yang sangat ia sayangi itu.
"Kalian sweet banget sih, Kak. Do'ain aku sama Luis bisa begitu ya!" pinta Vita sembari memeluk manja sang kakak.
"Itu pasti, Sayang. Kakak pun ingin yang terbaik untuk kalian," jawab Stella dengan senyum termanisnya.
"Kak!" Vita menarik kursi yang ada di meja makan, duduk di sana dan berniat mengintrogasi sang kakak.
"Kok, Kakak bisa nikah sama abang sih. Gimana ceritanya, Vita penasaran tahu?" tanya Vita kepo.
Stella tersenyum, lalu menceritakan detail pertemuan, sikap arogan Juan yang memaksanya menikah dengan alasan utang uang, utang nyawa, utang budi. Pokoknya segala utang, Juan ungkit.
"Wahhhh, berarti abang cerdik juga ya, Kak." Vita terkekeh.
"Ya, begitulah abangmu. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Waktu dia tahu bahwa Zein adalah ayah kandung keponakanmu, dia agak sedikit shock. Tetapi, tak sedikitpun dia marah atau terpengaruh. Sebab baginya, Berliana adalah putrinya. Dia yang menjaganya, dia yang merawatnya, sebelum anak itu menjadi apa-apa. Sampai sekarang g terlihat, bahwa bayi itu malah mirip dengannya. Kebiasaan-kebiasaannya. Makanan kesukaan. Bahkan kamu lihat sendiri, mereka kalo tidur suka tengkurep, sambil nidih guling. Ya kan? Kakak sangat bersyukur, Tuhan mempertemukan Kakak dengan pria berhati malaikat seperti dia." Stella menghapus air mata kesedihan bercampur kebahagiaan itu. Suasana haru pun tercipta di sini.
"Iya, mereka memang mirip. Vita aja kaget pas lihat mereka tidur seranjang. Astaga, Liana, abang banget." Vita terkekeh.
__ADS_1
"Anak itu terkadang mirip yang menjaga dan merawat, Vit. Ketulusan hati itulah kadang yang menentukan. Jujur aku sendiri juga heran, Liana dan Juan, mereka sangat-sangat mirip," ucap Stella, kali ini wanita ini tersenyum tulus. Sebab pada kenyatannya, apa yang mereka bahas adalah kenyataan yang ada.
"Kelihatan banget, Kak. Kalo abang sayangnya ama Liana nggak pura-pura. Makanya Vita sampai iri. Soalnya ayah kita nggak sebaik itu," ucap Vita jujur.
"Hissst, nggak boleh gitu. Mau bagaimanapun, ayah tetaplah ayah kita. Kakak sudah mengikhlaskan semuanya Vita. Semoga Tuhan mengampuni dosanya, dan memberikan tempat yang baik untuknya. Mau bagaimanapun di dalam tubuh kita mengalir darahnya. Di dalam daging kita, ada keringatnya. Kakak nggak mau ngelupain itu. Bagi Kakak, ayah tetap pria luar biasa. Terlepas dari keburukan yang pernah ia lakukan," jawab Stella dewasa.
Vita paham, kenapa Juan begitu tergila-gila dengan sang kakak. Bukan hanya kecantikan wajah saja yang menjadi saya tarik wanita ini. Tetapi juga keikhlasannya dalam. menjalani setiap hal. Stella begitu tulus. Meskipun tak dipungkiri bahwa dia pernah marah pada sang ayah.
"Kak!" Vita menatap sang kakak.
"Apakah Kakak masih dendam dengan bang Zein?" tanya Vita penasaran.
"Udah nggak lah, Vit. Sudah kubilang, Kakak udah mengikhlaskan segalanya. Kakak mikirnya gini, kalo Zein tidak melakukan kesalahannya itu, mungkin jodoh kakak bukan Juan. Mungkin kakak akan tetap bersama pria egois itu, iya kan. Bukankah Tuhan itu tahu yang terbaik untuk hambanya," jawab Stella dengan senyum termanisnya.
"Kakak luar biasa. Tapi kasihan juga sekarang bang Zein. Dia udah bangkrut, Kak dan kabarnya sekarang malah kerja sama orang. Padahal orang tuanya sendiri kan kaya. Maksudku orang tua kandungnya," ucap Vita. Bukan bermaksud membuka luka lama, tapi itulah kenyataan yang ia ketahui.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Stella heran. Perasaan Juan aja nggak ada membicarakan perihal pria itu.
"Ada, temen satu kantor Vita dulu. Kasih tahu," jawab Vita jujur.
"Ohhhh," Stella tak mau melanjutkan perbincangan ini lagi. Tentu saja bukan karena apa? Stella sudah tak ingin kepo dengan kehidupan pria dari masa lalunya itu. Sebab ia tak ingin menyakiti hati pria yang kini ada di dalam masa depannya. Yaitu Juan. Pria yang sangat ia cintai. Stella tak ingin membuat Juan terluka. Mau bagaimanapun, Juan telah mengorbankan segalanya untuknya. Stella tak ingin pengorbanan itu sia-sia hanya karena ia memikirkan pria dari masa lalunya.
Bersambung....
__ADS_1