PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Terbuka


__ADS_3

Pertengkaran sengit antara Luis dan Oma Dena menjadi goresan luka yang membekas di hati Luis. Bagaimana tidak? Sejak kedua orang tuanya meninggal, Luis seperti mainan pengganti untuk wanita tua itu.


Selama ini Luis hanya diam dan menuruti setiap ucapan dan keinginan wanita tua itu. Tanpa membantah atau melawan sedikitpun. Sayangnya, pengorbanan yang Luis lakukan seakan tidak berharga di mata wanita itu. Dia selalu meminta lebih dan lebih. Sampai akhirnya Luis pun masuk ke dalam titik jenuh.


Jika ditanya, dia sayang atau tidak, maka Luis akn menjawab, bahwa dia sangat menyayangi wanita itu. Tetapi, peraturan-peraturan yang dibuat oma Dena, terkadang bisa dikatakan tidak masuk akal.


Oma Dena begitu egois jika menginginkan sesuatu. Semua harus sesuai kehendaknya, tanpa terkecuali jodoh untuk Luis. Semua harus sesuai kriteria nya.


Namun, untuk kali ini, Luis enggan mengalah. Pria ini tetap akan menikahi kekasihnya, gadis pilihannya, apapun yang terjadi. Meskipun nantinya, Oma Dena tidak hadir, Luis tidak peduli. Sebab ia telah memantapkan hatinya untuk tetap menikahi wanita pilihan hatinya itu.


Malam pun tiba, Luis kembali menghubungi sang kekasih. Seperti janjinya malam itu. Setelah sampai di Batam, ia memang berjanji akan menghubungi Vita.


Tak ingin Membuang waktu percuma, Luis pun mengambil ponselnya dan Menghubungi wanita pujaan hati tersebut.


"Assalamu'alaikum, malam calon sumiku!" sambut Vita dengan senyuman bahagianya.


"Malam juga, calon ibu dari anak-anakku. Gimana udah siap besok jadi istri Luis, heem?" canda pria tampan ini.


"Insya Allah, kamu bagaimana? Apakah sudah siap membimbingku ke jalan Allah, hemmm! Calon ayah dari anak-anakku?" balas Vita tak kalah bersemangat.


"Siap dong, Honey. Ini adalah impianku. Impian kita, aku mencintaimu, Mom. Sangat," jawab Luis setengah berbisik.


"Aku juga mencintamu, Dad. Aku rindu!" balas Vita tak kalah manja.


Di tempat masing-masing, mereka saling mengembangkan senyum. Rasanya bahagia. Hari yang mereka nanti akhirnya tiba juga.


Ya, besok adalah hari pernikahan mereka. Ijab qobul akan digelar di Batam sesuai kesepakatan. Bahkan saat ini, Luis dan juga beberapa keluarganya telah berada di salah satu hotel termewah yang ada di sana. Di tempat nanti akan di selenggarakan acara ijab qobul tersebut.


"Udah, bobo sana, besok mesti bangun pagi. Kan kamu mesti dirias," ucap Luis memperingatkan.

__ADS_1


"Lima menit lagi," pinta Vita manja, seperti biasa. Luis hanya tersenyum mendengar permintaan menggemaskan itu. Vita memang selalu bisa membuat hatinya berbunga-bunga. Itu sebabnya Luis rela melakukan apapun untuk gadis itu. Karena Vita bisa mengerti dirinya. Vita selalu bisa membuatnya tersenyum.


Begitupun sebaliknya. Vita telah memantapkan hatinya. Maka ia pun berusaha keras menempatkan Luis di dalam hatinya. Vita percaya, kebaikan Luis pasti akan bisa meluluhkan hatinya. Kebaikan Luis pasti akan bisa memeluk cintanya.


"Besok jangan lupa minum vitamin, Dad. Aku nggak mau kamu kelelahan dan sakit," ucap Vita lagi. Sebab dia tahu bahwa menjelang hari pernikahan mereka, Luis masih bolak-balik ngantor.


"Iya, Sayang, iya. Ya Tuhan, sekarang udah persis Oma. Luis jangan lupa ini, Luis jangan lupa itu. Minum ini, minum itu. Kalian luar biasa pokoknya. Baiklah aku akan menurut, Sayang. Laksanakan pokoknya," jawab Luis dengan canda riangnya. Tawa renyahnya kembali terdengar ketika Vita menciumnya.


"Emm muah, biar makin nurut," tambah gadis ayu ini.


"Terima kasih, kamu juga jangan lupa minum vitamin ya, Mom. Biar sekali tancap langsung jadi," balas Luis mulai ngeres.


"Heemm, mulai... mulai. Dasar laki-laki .... pikirannya nggak lain, selalu aja hal itu," gerutu Vita sedikit kesal.


"Wajar, Han. Kan nanti udah halal. Jadi langsung aja tancap gas, ogah ngerem aku. Pengennya langsung kamu jadi milikku, setelah akad. Nggak ada penolakan pokoknya," ancam Luis. Sedangkan di seberang sana, Vita malah tertawa. Lucu saja, seorang Luis bisa bercakap-cakap vulgar seperti ini.


"Iya, Daddy sayang. Pokoknya selesai akad, semua milik kamu. Kamu boleh melakukan apapun. Puas," balas Vita. Kali ini Luis yang tertawa. Karena itu adalah jawaban yang ia inginkan.


Lima menit waktu yang diminta Vita. Nyatanya memolor menjadi tengah malam. Ada saja topik pembahasan yang bisa menghidupkan suasana. Nyatanya, Vita dan Luis merasa sangat bahagia dengan obrolan unfaedah yang tercipta di antara mereka.


***


Di sini bukan hanya Luis yang telah memantapkan hatinya untuk tetap menikahi Vita, apapun yang terjadi. Ada Lutfi yang sedang bersiap hendak merealisasikan apa yang telah ia rencanakan jauh-jauh hari. Kali ini, Lutfi tak ingin gagal.


Waktu yang Lutfi tunggu, akhinya datang juga. Lydia dan Zein telah keluar dari rumahnya, kini tinggalah dirinya dan juga wanita yang sok jual mahal itu di rumah itu. Sedangkan Naya bermain di karpet yang telah Safira sediakan.


"Kamu kenapa, Fi? Kok ngliatin kita sampai kek gitu?" tanya Safira lugu. Sepertinya ia tidak menyadari tentang apa yang saat ini ada di pikiran pria itu.


"Malam ini aku mau kita melakukannya," ucap Lutfi enggan basa-basi sok romantis. Pengalaman romantis-romantisan yang pernah ia bikin, nyatanya gagal. Tak ada satupun yang berhasil.

__ADS_1


"Melakukan apa?" Safira bingung.


"Melakukan itu." Lutfi enggan melihat Safira. Sebab ia sebenarnya gugup. Caranya mengajak dan istri menunaikan ibadah sebagai sepasang suami istri, menurutnya aneh saja.


"Melakukan apa sih, aneh. Kamu sekarang makin nggak jelas tahu nggak sih, Fi. Sebentar mesra, sebentar ngambek, sebentar mau ini, sebentar mau itu, aneh!" Safira mulai kesal. Karena Lutfi memang nggak jelas menurutnya.


"Yang nggak jelas itu kamu, Ra. Aku tahu kok kamu juga cinta sama aku. Tapi kenapa kamu selalu jual mahal ke aku. Aku capek Ra dijual mahalin terus," balas Lutfi ketus.


Ingin rasanya Safira tertawa. Lutfi sangat menggemaskan jika putus asa.


"Dih, aku bukan jual mahal, Fi. Aku memang belum siap," jawab Safira, kembali wanita ini ingin tertawa.


"Terus kamu siapnya kapan? Selalu aja banyak alasan." Kali ini, Lutfi benar-benar kesal. Ia pun membaringkan tubuhnya di karpet tempat Naya dan Safira sedang bermain. Berbaring tepat di belakang Safira. Sembari menggunakan tangannya sebagai bantal.


"Kamu kok gitu sih, Fi? Mana Lutfi yang aku kenal. Yang selalu sabar menunggu. Yang selalu bilang ya udah lah, Ra?" tanya Safira sambil menatap sang suami mesra.


"Habis kamu kelamaan, Ra." Lutfi langsung mengangkat kepalanya dan merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Cuma tujuh hari masak lama sih," jawab Safira asal.


"Tujuh hari, kenapa tujuh hari? Ada apa dengan tujuh hari?" Lutfi kembali mengangkat kepalanya dan menatap sang istri.


"Iya tujuh hari. Kan wanita kalo datang bulan tujuh hari. Sabar lah, Fi. Sabar!" jawab Safira jujur.


Lutfi tersenyum malu. Ia pun kembali membenamkan wajahnya di pangkuan sang istri. Sebab kini ia tahu penolakan Safira. Bukan dia tak mau mewujudkan cinta yang mereka rasakan. Tetapi ada hal lain yang harus ia jaga.


Sungguh, momen pertengkaran kali ini terasa sangat menyenangkan bagi Lutfi. Karena secara tidak langsung, Safira telah menerimanya. Menerima cintanya. Buktinya wanita itu mau terbuka dengan caranya. Sungguh Lutfi bahagia.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2