PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 4 (Lutfi n Safira)


__ADS_3

Hingga azan Subuh berkumandang, Lutfi masih tertidur pulas di sofa ruang tamu. Sepertinya dia sangat lelah. Sampai suara azan yang biasanya ia dengar, kini dia malah masih asik dengan mimpinya.


Safira, yang saat itu sudah bangun, ingin sekali membangunkan suami itu. Tetapi, Safira ragu. Safira takut. Takut kalau-kalau, nanti Lutfi akan meminta hal lebih lagi padanya. Takut kalau nanti dia yang tak bisa menahan diri. Safira takut. Pokoknya takut.


Lima menit berlalu, terdengar dering ponsel milik Safira. Di sana tertera nama Mama Laila, yang tak lain adalah sang ibu.


"Assalamu'alaikum, Ma!" sambut Safira, suaranya terdengar gugup. Ya, saat ini Safira memang gugup. Bibirnya gemetar.


"Kamu kenapa?" tanya Laila.


"Tidak, Ma. Fira oke!" jawabnya berbohong.


"Oh, oke. Ini, Mama mau tanya, si Lutfi sudah datang kah?"


Mendengar sang ibu menanyakan sang suami, tentu saja Safira makin gugup.


"Ada, Ma. Mas Lutfi masih tidur," jawab Safira berbohong. Padahal dia tidak tahu, Lutfi masih tidur atau sudah bangun.


"Oh, coba bangunin. Mama mau tanya sesuatu ke dia!" pinta Laila. Spontan, mata Safira pun terbelalak. Tentu saja ia tak percaya dengan permintaan itu.


"Fira, hallo, Fira! Kamu masih di situ?" tanya Laila, terdengar terburu-buru.


"Ya, Ma. Ini Fira masih ada. Sebentar, Fira bangunin dulu," jawab Safira. Jujur, sebenarnya dia tidak berani melakukan ini, tapi mau tak mau harus melakukannya. Jika tidak, Laila akan marah. Apa lagi sang papa. Pria itu biasanya tidak punya toleransi untuk hal yang menurutnya sangat penting.


Pelan namun pasti, Safira pun membuka pelan pintu kamarnya. Lalu berjalan ke ruang tamu untuk mencari sang suami.


Safira bernapas lega, karena Lutfi masih ada di sana. Berbaring dengan menggunakan bantal dan selimut yang ia pakaikan semalam. Lutfi masih di posisi yang sama. Masih belum bergeser sedikitpun.


"Mas," panggilnya pelan. Namun, Lutfi masih diam. Lalu ia pun kembali membangunkannya.


"Mas," kali ini Safira memberanikan diri menyentuh sedikit tangan pria itu. Tapi Lutfi masih tidak bergerak.


Safira tidak putus asa. Ia pun tetap berusaha membangunkan sang suami dengan kembali menyentuh tangannya. Namun, kali ini, Safira sedikit terkejut. Karena tubuh Lutfi terasa lain. Suhu tubuhnya agak tinggi. Seperti panas.

__ADS_1


Ragu dengan sentuhan pertamanya. Safira pun kembali mengulang sentuhan itu. Kali ini bukan di tangan. Tapi di kening.


Benar saja, Lutfi panas. Suhu tubuhnya memang tinggi. "Mas," panggil Safira sambil mengelus pipi Lutfi. Masih tak ada jawaban.


Safira tak putus asa, ia pun kembali membangunkan Lutfi. "Mas, Mas, Mas!" Safira mengoyang-goyangkan tubuh sang suami. Kali ini agak sedikit keras, agar Lutfi segera bangun.


Beberapa detik kemudian, Lutfi pun menggeliat. Pelan-pelan, pria ini pun membuka matanya. Sedangkan Safira mundur kurang lebih tiga langkah.


"Mas," panggil Safira pelan.


Mendengar suara Safira memanggilnya, Spontan mata Lutfi pun terbuka sempurna. Lalu ia pun menatap sang istri, lalu menjawab, "Emmm! apa? Naya udah bobo ya, sorry aku ketiduran," ucap Lutfi sambil mengusap wajahnya.


"Naya udah bangun dari tadi, ini mama telpon," jawab Safira, sembari menyodorkan ponselnya pada sang suami.


Lutfi pun mengambil ponsel tersebut, meski dia ragu. Sebab itu barang milik Safira. Lutfi takut Safira akan marah lagi padanya.


"Cepet!" pinta Safira, lagi-lagi dengan nada ketus seperti biasa.


Lutfi menatap sekilas pada sang istri, lalu ia pun langsung menyambut panggilan tersebut. "Assalamu'alaikum, Ma. Ini Lutfi!" ucap Lutfi singkat.


"Boleh, Ma. Kalo ada tiket pagi, Lutfi berangkat pagi. Kalo nggak ada paling Lutfi ikut siang. Ya Ma!" jawab Lutfi menurut.


"Alhamdulillah.... makasih banyak, Nak. Kamu kalo masih kangen sama mereka, boleh kok bawa mereka sekalian ke sini. Itung-itung kalian bulan madu," ucap Laila sambil bercanda.


Lutfi tersenyum kecut. Sebab bulan madu yang dikatakan sang ibu mertua, bisa jadi tidak akan pernah terjadi.


"Nggak usah Ma, kasihan, nanti Naya capek. Nanti Lutfi sendiri aja yang berangkat. Ada lagi yang mau Mama pesan, atau minta sekalian Lutfi bawakan?" tanya Lutfi menawarkan.


"Oh, nggak. Yang penting kamu selamat sampai sini saja. Dan bisa bantu Mama menghandle gawean abangmu ini," ucap Laila semangat.


"Siap, Ma. Lutfi cari tiket dulu!" jawab Lutfi dengan senyum bahagianya.


Tak lama berselang, mereka pun mengakhiri panggilan telepon tersebut.

__ADS_1


Mendengar sang suami hendak berangkat ke luar daerah, dengan cepat Safira pun melarang. Apa lagi saat ini, Lutfi dalam keadaan kurang sehat.


"Mas, badan kamu kan panas, mbok ya jangan berangkat!" ucap Safira mencoba mengingatkan. Atau lebih tepatnya, melarang.


"Nggak pa-pa. Santai aja," jawab Lutfi, terdengar agak dingin.


"Tapi kamu panas, Mas," ucap Safira lagi.


Lutfi malas menjawab. Ia pun memilih merapikan selimut dan bantal yang telah ia pakai semalam. Entah siapa yang memberikan kedua barang tersebut padanya. Yang jelas, barang tersebut telah menemani tidurnya semalam.


Ahhh, bodo amat, batin Lutfi. Yang penting baginya sekarang adalah bekerja. Menafkai anak dan istrinya selama mereka masih menjadi tanggung jawabnya. Selebihnya, Lutfi tak mau ambil pusing.


Selesai merapika dua barang tersebut, Lutfi langsung mencari ponselnya, bermaksud mencari tiket penerbangan seawal mungkin. Agar dia bisa segera meninggalkan tempat menyasakkan ini.


"Mas, kamu lagi sakit. Nggak sebaiknya besok aja perginya!" ucap Safira, bermaksud kembali melarang.


Lutfi tidak menjawab. Karena malas saja. Untuk apa melarang pergi, kalau pada kenyataannya dia tidak diinginkan di sini.


Pria ini masih terus menghubungi satu persatu agen penerbangan yang ia kenal dan akhirnya ia pun berhasil mendapatkan jadwal penerbangan pagi ini. Dengan cepat, Lutfi pun beranjak dari tempat duduknya, tentunya untuk bersiap-siap.


"Mas, aku nggak ngizinin kamu pergi!" ucap Safira sambil menghadang tepat di depan sang suami.


"Atas dasar apa kamu melarangku pergi?" tanya Lutfi, Lagi-lagi ketus. Tidak bersahabat sama sekali.


Safira meneguk kasar salivanya.


"Aku tanya, atas dasar apa kamu melarangku?" ulang Lutfi, masih dengan tatapan kemarahannya.


"Aku istrimu, Lutfi!" jawab Safira sedikit berteriak.


Lutfi tersenyum sinis. Lalu, ia pun berkata, "Oh, ya? Buktikan kalo gitu! Buktikan kalau kamu memang istriku!" tantang pria tampan ini.


Seketika, Safira diam, bergeming tanpa kata. Sebab ia tak bisa melawan tantangan itu. Sebab ia tak punya keberanian untuk membuktikan ucapannya adalah benar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2