PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
KEPEDULIAN SAHABAT


__ADS_3

Keesokan harinya...


Setelah merawat dan memandikan sang ibu, Vita pun berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Awalnya Sera melarang, tetapi dengan kerendahan hatinya Stella pun membantu Vita menjelaskan ini pada Sera, bahwa sang adik memiliki tanggung jawab yang belum usai. Ia masih harus menuntaskan pekerjaannya. Sampai kontrak itu habis. Atau paling tidak masalah yang dihadapi oleh bosnya sudah sampai di titik final.


"Biarkan dia pergi, Tan. Biarkan dia bertangung-jawab atas pekerjaannya. Masalah aku dan Zein itu lain, tanpa perceraian itu, rumah tangga ibu sama ayah juga nggak mungkin bertahan. Tante kan tahu bagaimana ayah," ucap Stella. Berusaha menjadi penengah antara Vita dan juga Sera.


"Baiklah, serah kalian aja," balas Sera kesal. Entahlah, sampai detik ini Sera masih sangat geram dengan Zein. Baginya Zein, Jovan dan juga Agus adalah pria-pria laknat yang harus ditenggelamkan di dasar laut.


Bagi Sera, mereka bertiga adalah pria-pria menjengkelkan. Yang tak pantas dikasihani. Apapun alasannya.


Akhirnya atas bantuan Stella, Vita pun berhasil mendapatkan izin dari Sera untuk berangkat ke Jakarta.


"Makasih ya Kak, udah bantu. Vita titip ibu dulu. Nanti kalau urusan Vita udah selesai, kita gantian ya jaga ibu!" pinta gadis cantik ini.


"Iya, kamu hati-hati ya. Jaga diri baik-baik. Ingat musuh Zein bukan orang sembarangan. Pasti mereka memiliki sindikat yang pastinya memiliki sikap arogan dan tega!" ucap Stella memperingatkan.


Vita gadis cerdas, ia pun mengiyakan apa yang kakaknya peringatkan.


Vita bersiap membawa kopernya ke mobil. Sedangkan Stella membantu membawakan tas tangan gadis itu. Mereka berjalan beringan sambil saling mengingatkan untuk saling menjaga kesehatan.


"Kakak jaga diri baik-baik ya!" pinta Vita.


"Iya kamu juga ya," balas Stella dengan senyum manisnya.


"Oiyaa mau titip salam nggak buat bang Zein!" canda Vita.


Stella mencebikkan bibirnya tanda kesal.


"Iye, astaga! Yang udah punya pengganti. Pangeran berkuda coklat," balas Vita, gadis ini pun terkekeh.


"Apaan sih?" jawab Stella tak suka. Terang saja tak suka, sebab Vita tak tahu bahwa seseorang yang ia kenalkan hari itu ternyata adalah bom dalam kehidupan Stella. Wanita ini diam-diam sedang menyiapkan mental untuk menghadapi bom tersebut.

__ADS_1


"Ya udah, Vita balik dulu ya Kak. Aku mencintaimu saudariku!" ucap Vita berpamitan, tak lupa ia juga memberikan kecupan hangat di pipi sang kakak.


Stella sendiripun juga membalas kecupan itu dengan pelukan penuh cinta miliknya.


****


Diam-diam, tanpa sepengetahuan Stella Juan dan Rehan juga telah menunggu Vita di Jakarta. Lebih tepatnya di apartemen milik Rehan. Mereka bertiga berniat membatu Zein, karena mereka merasa masalah yang dihadapi perusahaan Zein sangat janggal. Lagi pula ini bukan murni kesalahan Zein. Hanya saja pria itu terlalu percaya pada kedua orang tuanya.


Bukan hanya itu, kedatangan Juan ke tanah air juga membawa kabar baik untuk Zein. Agus telah tertangkap dan di tahan di Shanghai. Yang artinya, Zein tidak perlu susah-susah membayar sisa hutang yang ditinggalkan oleh Agus untuknya. Biarkan dia sendiri yang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Bertanggung jawab pada Negara, pada orang-orang yang dia tipu, terlebih kepada Zein. Sebab aset pribadi Zein, diam-diam juga telah ia gadaikan.


"Kapan gadis itu datang?" tanya Juan pada Rehan.


"Mungkin satu jam dari sekarang, dia udah terbang kok," jawab Rehan santai.


"Baiklah!" Juan kembali menatap ponselnya. Tak lama, tiba-tiba ada seorang wanita datang membawakan kopi dan juga cemilan untuk mereka.


Juan yang tidak tahu apa-apa hanya melongo bingung. Aneh saja.


"Napa melongo, lihat cewek cantik dikit aja udah gini ni orang. Aku kasih tahu bini lu, tau rasa kamu!" ancam Rehan dengan tawa renyahnya.


"Sini, Neng! Kenalin ini Aa' Juan, suami Stella yang baru!" ucap Rehan, tentu saja ucapannya tersebut hanya untuk bercanda.


"Asem!" umpat Juan kesal. Dipukulnya sang sahabat dengan bantal sofa yang ada di sampingnya.


"Aduh! Sakit Jun dih," Rehan kembali tersenyum. Sedangkan Renata masih anteng duduk di sampingnya dan menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda perkenalan dengan Juan.


"Dari tadi aku nggak lihat, kok tiba-tiba nongol! Aneh?" tanya Juan sembari celingukan mencari pintu dari mana wanita ini masuk.


"Dia tinggal di sebelah Jun, aku pinjam punya Zein. Kan belum halal ya, Beib. Jadi belum boleh seatap, ye kan?" Lagi-lagi Rehan mengeluarkan candaan konyolnya.


Sedangkan Juan melirik dengan senyuman sinis, siap menghajarnya.

__ADS_1


"Kayak aku nggak kenal kamu aja?" balas Juan kesal, tentu saja ia tak mau kalah dengan Rehan.


"Dih, enggak ya. Tobat aku!" Rehan terkekeh. Sedangkan Renata hanya tersenyum.


"Duh manisnya kalo senyum!" Rehan mencubit manja lengan gadis cantik yang duduk anteng di sampingnya.


"Dasar gila! Pria gila begini kamu mau, Mbak! Astaga! Kalo aku sih ogah!" ucap Juan, kali ini bapak satu anak ini benar-benar kesal pada Rehan yang konyol.


"Ya jelaslah kamu nggak mau sama aku, kan kita sama-sama cowok. Masak jeruk makan jeruk, ye kan, Beib?" balas Rehan, berusaha mencari pembelaan sang kekasih.


"Tahu ah gelap! Diem lo kampret! Canda terus. Mana bukti itu, cepat dah gatel ni pengen pulang juga aku!" pinta Juan tak sabar.


"Yaelah, baru juga lihat kemesraan segini doang udah nggak sanggup nahan kangen ama bini. Nggak kebayang aku gimana nasib Stella kalo di ranjang!" Candaan Rehan mulai tak terarah membuat Juan ingin sekali meremas mulut samg sahabat.


"Astaga, Re! Kamu ma bener-bener! Dasar mesum!" Juan tak tahan, akhirnya ia pun menarik tangan Rehan dan meminta pria itu bangun. Untuk mengambil laptop dan semua bukti yang ia punya tentang kejahatan Agus pada Zein.


Sepeninggal Rehan, Juan pun memberanikan diri mengobrol dengan Renata.


"Mbak udah lama kenal bajingan jelek itu?" tanya Juan.


"Mas Re maksudnya? Apa pak Zein?" tanya Renata.


"Kenal Zein juga?" Juan sepertinya lupa jika Renata adalah sahabat Stella.


"Kenal, tapi nggak akrab," jawab Renata jujur.


"Oh begitu. Kalo sama Ste, kenal lama?" Juan menilik ponselnya, barang kali ada pesan dari Vita.


"Lumayan, dulu saya kerja di perusahaan ayahnya Ste," jawab Renata lagi.


"Baiklah. Jadi kapan kalian menikah?" Kali ini Juan tak ingin terlalu dalam mengorek siapa sebenarnya Renata. hanya cukup tahu, bahwa Renata adalah sahabat sang istri sekaligus calon istri Rehan. Itu sudah cukup baginya.

__ADS_1


Tak lama kemudian. Mereka berdua di kejutkan dengan informasi dari Rehan yang mengatakan bahwa saat ini Zein masuk rumah sakit karena dikeroyok oleh beberapa preman yang tidak dikenal.


Bersambung...


__ADS_2