
Sejak kedatangan Zein, Sera semakin bersemangat. Tentu saja untuk meremas pria itu. Menjatuhkannya hingga tak berbentuk. Sera ingin, pemuda ini bersujud di kakinya. Meminta ampun padanya, sama seperti kemarin. Namun, sebelum itu terjadi, tentu saja Sera ingin terbih dahulu melihat Zein menangis darah dan menyesali perbuatannya. Karena membuang berlian seperti putrinya.
***
Keresahan hati Sera berbanding terbalik dengan Stella. Wanita ayu ini sepertinya telah melupakan apa yang pernah ia lewati dan alami bersama Zein. Kini ia nyaman dengan suami barunya. Pria penyayang dengan segala sifat posesif peyayangnya. Sifat posesif yang selalu menginginkan kebaikannya.
Malam ini, Stella tak bisa tidur. Ia gelisah. Sebab Juan belum pulang. Biasanya jam segini, Juan sudah duduk di samping tempat ia berbaring. Mengusap pinggangnya yang sering terasa pegal atau mengusap perutnya dan berbicara dengan sang jabang bayi. Dengan bahasa manis dan doa-doa yang selalu Juan panjatkan sebelum mereka tidur.
Kamar Stella dan Zein memang di desain dua ranjang single. Satu ukurannya lebih lebar, karena Stella sering meminta Juan menemaninya sebelum ia terlelap. Mengajaknya ngobrol. Membicarakan ini itu. Bercanda gurau layaknya teman. Dan tak jarang mereka juga membicarakan masa kecil mereka.
Ya begitulah Juan dan Stella. Sudah seperti sepasang sahabat. Saling mendukung dan menyayangi satu sama lain. Namun, meskipun hubungan mereka sudah sedekat itu, Juan masih menjaga batasannya. Pria tampan ini belum berani mengutarakan perasaannya. Ia memilih menunggu. Menunggu sampai baby itu lahir. Menunggu sampai ia yakin bahwa hati Stella bukan untuk ayah kandung si baby lagi.
Tentu saja Juan tak ingin gegabah. Tak ingin memaksakan perasaannya pada sang istri. Meskipun ia tahu jika Stella adalah haknya. Namun, Stella adalah manusia, yang memiliki hati dan pilihan. Stella tetap berhak memilih siapapun yang ada di dalam hatinya dan Juan akan tetap menghargai itu, meskipun ia tahu, jika itu menyakitinya. Karena Juan paham arti mencintai sesungguhnya adalah pengorbanan.
Stella masih terjaga, beberapa kali ia menilik jam yang ada di nakas ranjangnya. Jarum jam sudah menunjukkan jam satu dini hari, namun Juan belum menunjukkan tanda-tanda kembali. Andai ia punya ponsel pasti ia akan segera menghubungi pria yang berhasil membuatnya gelisah ini.
__ADS_1
Mengenai ponsel, bukan Juan tak mau membelikannya, namun Stella selalu menolak dengan alasan ia tak ingin menambah hutangnya lagi pada Juan. Padahal berkali-kali Juan mengatakan bahwa ponsel ini gratis, tapi tetap saja ia tak ingin. Stella tak ingin selalu merepotkan Juan.
Stella kesal, ia pun menangis dalam diam. Benci karena Juan tak memberinya kabar. Geram karena ia ternyata merindukan elusan tangan pria baik hati itu. Stella tak tahu, mengapa ia seperti ini. Yang jelas ia menginginkan Juan ada di sampingnya ketika malam tiba.
Tak lama ia mendengar seru mobil, dan gelak tawa. Sepertinya Juan datang. Dia tertawa, dengan siapa? batin Stella.
Ingin Stella menyambut kedatangan sangat suami. Namun, rasa kesal yang ia rasakan melarangnya untuk melakukan itu.
Stella memilih diam, tetap berbaring dan menunggu Juan masuk ke kamar.
"Loh, kok belum bobo heeemmm?" tanya Juan sambil melepaskan jas dan juga melonggarkan dasinya. Kemudian ia pun langsung mengelus rambut sangat istri.
Stella masih diam, rasa kesal yang ia rasakan makin memuncak. Wanita cengeng ini akhirnya hanya menangis tanpa mampu mengucapkan apa yang ia rasakan.
"Loh kok malah nangis, kenapa? Ada apa?" tanya Juan heran. Dengan penuh kasih sayang pria ini pun ikut berbaring dan memeluk sangat istri. Mebawa kepala wanita manja ke dalam pelukannya serta mengelus pipinya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Jangan nangis, kenapa? Ada yang sakit?" tanya Juan. Sepertinya papi si baby tak peka jika sangat mami rindu dan menghawatirkannya.
"Udah cup, tidurlah. Papi akan jagain kalian!" ucap Juan.
Tanpa malu, Stella pun menyambut pelukan Juan. Membenamkan wajahnya di dada pria yang ia rindukan. Aroma parfum bercampur keringat milik Juan adalah aroma favorit wanita ini. Ia menangis karena merindukan aroma ini. Ia menangis karena merindukan usapan tangan kekar pria ini. Ia menangis karena Juan tak kunjung datang.
Stella menghapus air matanya kemudian tanpa bicara ia pun memejamkan matanya. Juan pun tak mau bertanya apa-apa. Sebab ia tahu, pasti Stella memikirkan sesuatu. Wanita ini tak mungkin menangis tanpa sebab. Namun, sebabnya apa Juan belum paham.
Hampir setengah jam Juan memeluk dan mengelus pinggang Stella. Juan pikir Stella sudah terlelap. Nyatanya, ketika ia hendak beranjak Stella malah membuka matanya dan memeluk Juan lebih erat.
Tak ada pilihan lain, Juan pun kembali ke posisi awal. Merebahkan tubuhnya di ranjang Stella dan kembali memeluk penuh kasih sayang sangat istri. Tanpa berpikir macam-macam, apa lagi berniat memanfaatkan keadaan. Tak ada sedikitpun pikiran seperti itu. Juan tulus menyayangi Stella dan akan tetap sabar menunggu sampai wanita itu berkata jujur akan apa yang ia rasakan.
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan share ya..
__ADS_1
Penasaran kan siapa teman Juan yang tertawa bersamanya tadi, tetap staytune ya gaes... komen n like kalian sangat berarti bagi kami. maaciw sudah mengikuti.