
Hari yang dinanti Zi pun akhirnya tiba. Setelah semalam pengacaranya mengantarkan akte cerai, Zi pun memantapkan hatinya untuk pindah ke Lombok.
Kota di mana ia mendapatkan tugas barunya. Yang menyenangkan, di sana, Zi bukan lagi perawat biasa. Tetapi ia diangkat menjadi kepala perawat di sana dan Zi sangat bahagia dengan itu.
"Zi... ingat aku ya, jangan lupakan aku," ucap Nadia ketika mengantar sang sahabat ke Bandara.
"Iya, Nad. Aku nggak mungkin nglupain kamu. Oiya, Nad... aku salah nggak ya kalo nggak bilang sama mertua kalo aku dan anaknya udah bukan suami istri lagi?" tanya Zizi, sedikit takut.
"Harusnya kamu pamit, Zi. Itu lebih baik," jawab Nadia mengarahkan.
"Tapi mas mantan nggak ngajakin, Nad, aku takut dia punya pemikiran lain. Secara kan dia mau minta izin nikah sama pacarnya yang ini. Mungkin dia lagi memikirin cara buat ngasih tahu orang tuanya sekaligus minta izin kali Nad, begitu sih menurutku. Aku salah nggak ya, Nad?" tanya Zizi sembari menatap sang sahabat, berharap sahabatnya itu memberikan solusi untuk masalahnya ini.
"Aduh, aku jadi bingung jika begini ceritanya, Zi. Bisa jadi apa yang kamu ucapkan itu adalah benar. Mungkin dia memang sengaja nglepasin kamu, supaya mereka nggak nyegah dia. Kalau udah di lepas, mau nggak mau kan terima, iya kan?" jawab Nadia, ikut menerka-nerka.
"Ya itu dia, bukannya aku nggak sopan, Nad. Aku hanya takut kalo dinilai gagalin rencana dia. Akhirnya masalah lagi. Aku malas Nad, hidupku udah penuh masalah. Masak mau bikin masalah lagi sama dia," jawab Zi lagi.
Mereka berdua pun terdiam. Sebab mereka sendiri bingung, apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi pemikiran pria aneh itu.
"Ya udah, Zi. Yang penting kamu ama dia udah nggak ada masalah. Pokoknya kamu harus seneng Zi. Aku harap kamu bahagia, dan menemukan seseorang yang mau menerimamu apa adanya. Mencintaimu dengan sepenuh hati. Nggak plin plan kayak si babang," Jawa Nadia.
"Aamiin, Insya Allah, Nad. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Aku pun berharap, setelah ini akan ada pelangi di dalam hidupku. Aku belum berani berharap pelangi itu adalah seorang pangeran berkuda putih. Tetapi aku berharap pelangiku kali ini lebih menggemaskan dibanding itu," ucap Zi sembari membayangkan bayi mungil yang akan datang ke dalam kehidupannya.
"Aamiin, apapun itu, Zi. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu," balas Nadia.
Lalu, mereka berdua pun tersenyum.
__ADS_1
Zi menatap lepas ke jendela kaca itu. Memerhatikan sekeliling. Sebab beberapa jam lagi, ia akan meninggalkan kota ini. Kota yang memberinya banyak cerita, kota yang memberinya banyak luka. Namun, ia juga tidak menampik, kalau kota ini juga memberinya bahagia.
Sesekali Zi tersenyum kecut. Sebab pada akhirnya dia harus menerima kekalahannya dengan lapang dada. Menerima dengan tegar jalan hidup yang rumit ini.
Bagaimana tidak? Awalnya ia begitu diinginkan, namun tak lama ia dihempaskan.
Dinikahi, diiming-imingi kebahagiaan, tetapi nyatanya ia malah diceraikan dengan alasan yang sangat menyakitkan. Sang pria menginginkan kembali pada cinta lamanya. Bukan menetap dan tetap berada di pelabuhan hatinya.
Zi kalah... kalah memenangkan hati pria itu. Pria yang telah berhasil menanam benih di rahimnya
Namun, Zi bangga... ternyata masih kuat berada di titik ini. Di titik mencintai yang paling tinggi yaitu merelakan. Merelakan dia yang ia cintai. Merelakan pria itu bahagia dengan bersama pilihan hatinya.
Semalam, sebelum ia menutup kopernya. Zi sempat menulis di dalam buku diary nya... Di sana Zi menulis tentang perjalanan cinta yang banyak memberinya bahagia, namun juga segengam luka.
Dalam coretan isi hati itu, dia sama sekali tidak menyesal mengenal Zein. Dia sama sekali tidak menyesal jatuh cinta pada pria itu. Zi tidak menyesal pernah menjadi istri pria itu. Sebab ia sendiri juga tidak mampu mengatur apa yang diinginkan oleh hatinya. Nyatanya, hatinya mau Zein, hatinya menginginkan pria itu. Hatinya masih mencintai pria itu. Meskipun pria itu telah memberinya segenggam luka.
Bagaimana bisa dia membenci pria itu, jika dialah orang yang banyak memberinya pengalaman hidup. Zein mengajarinya tentang cinta. Zein mengajarinya bagaimana mengikhlaskan dan Zein juga memberinya pengalaman, bahwa tidak semua yang ia inginkan harus ia dapatkan.
Bagaimana mungkin ia membenci pria itu? Jika pada kenyataannya dia lah pria yang memiliki peran utama di dalam kehidupan cintanya. Apapun yang dilakukan oleh pria itu, bagi Zi, Zein adalah pria yang baik. Zi tidak mau menghakimi Zein tentang perasaan yang kini sedang dirasakan oleh pria itu. Karena Zein sendirilah yang berhak menentukan pilihan.
Nadia memeluk Zizi sahabat karipnya dengan tangis dan tawa. Antara bahagia dan sedih. Bagaimana tidak? Sudah Lima tahun ini mereka berjuang bersama. Meniti karir bersama. Bahkan mereka sering telat makan bersama karena jadwal yang padat. Terkadang mereka juga suka begadang bersama demi menonton drakor kesukaan mereka.
Namun, keseruan itu harus berakhir ketika Zi pulang dari kampung dan membawa kabar bahwa dia telah menikah. Nadia yang paham akan Zi yang tidak mau terusik perihal masalah pribadi pun sampai sekarang tetap merahasiakan pernikahan itu. Bahkan soal perceraian itu. Hanya Nadia yang tahu.
Zi adalah orang yang paling anti bergosib. Entahlah... seperti itulah seorang Zi. Baik, tapi tidak mudah berteman. Tidak mudah percaya dengan orang atau lebih tepatnya dia minder. Minder karena pada kenyataannya ia tidak memiliki keluarga inti.
__ADS_1
Zi kembali meneteskan air mata ketika pesawat yang membawanya lepas landas. Pertanda ia harus melupakan segalanya tentang kota ini, tentang pemilik hatinya, tentang segala kenangan indah yang pernah Zi rajut bersama pria itu.
Zi melambaikan tangan dalam doa. Berharap setelah ini bahagia akan menjemputnya.
***
Di sisi lain, Zein menerima pesan dari orang tuanya agar membawa Zi pulang ke Batam. Sepertinya mereka kesal, karena rencana resepsi pernikahan yang Zein pernah utarakan tidak terealisasikan dengan baik.
Zein selalu beralasan bahwa dia sibuk. Zi pun belum punya waktu libur, membuat kedua orang tuanya yang ada di Batam geram.
Bukan hanya pesan, sang ayah langsung menghubunginya semalam. Benar-benar menekannya untuk pulang ke sana dan membawa Zi.
"Pokoknya papa nggak mau tahu, Papa mau kamu bawa istrimu pulang besok. Papa mau bicara sesuatu dengan kalian. Kalian ini, dari pertama menikah sampai sekarang kok nggak pernah main ke sini," ucap Laskar semalam.
Dan ucapan itu tentu saja sukses membuat Zein tidak bisa tidur. Zein merasa seperti seorang penipu. Menipu dirinya sendiri, menipu hatinya, menipu perasannya, menipu kedua orang tuanya.
Namun, Zein harus tetap bertanggung jawab tentang apa yang telah ia perbuat. Zein tahu, orang tuanya pasti akan marah besar padanya. Marah karena keputusan yang ia ambil mungkin akan sangat menyakiti mereka. Terlebih Zien tahu, bahwa Laskar sangat menyayangi Zi. Begitupun Laila. Wanita paruh baya itu juga sangat mencintai menantu baik hatinya ini.
Zein meraih ponselnya dan segera memesan tiket untuk berangkat ke Batam. Untuk menghadapi kedua orang tuanya.
Membayangkan arah Laskar, membuat Zein lupa cintanya pada Vita. Cinta yang awalnya menggebu kini hanya serasa butiran debu.
Entahlah, tiba-tiba saja, Zein tidak lagi bergairah dengan cinta yang ia gadang-gadang adalah cinta sejati itu. Cinta luar biasa dan penuh perjuangan.
Zein tidak lagi bersemangat meraih cinta itu. Ia malah merasa sangat menyesal telah kehilangan Zi. Kehilangan wanita yang begitu mengerti dirinya. Zein menyesal karena begitu bodoh memilih. Zein menyesal kenapa ia terburu-buru mengambil keputusan. Zein menyesal karena mengacuhkan wanita yang ternyata adalah wanita yang ia butuhkan.
__ADS_1
Zein terhanyut dalam penyesalan yang dalam.
End