
Pada dasarnya Zein memang baik hati. Bahkan sangat baik. Baik terhadap siapapun. Namun, keburukannya adalah ia selalu menginginkan kesempurnaan. Padahal, kurang adalah sifat dari setiap insan. Zein menginginkan apa yang menjadi miliknya adalah sesuatu yang menurutnya sempurna. Namun, sifat itulah yang pada akhirnya membuatnya harus jatuh hingga tersungkur ke dalam lubang derita. Dia harus merelakan apa yang ia punya. Kehilangan segalanya. Kehilangan cinta, anak dan juga sangat istri. Dan itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Menjadi lebih baik. Itu adalah keinginannya untuk saat ini. Berusaha menerima apa yang sekarang ia jalani. Termasuk menerima keputusan sang mantan istri untuk menjauhkan dirinya dari putri memata wayang mereka.
Pria tampan ini melirik kesal pada sang gadis yang kini terlihat mulai tenang. Lalu ia pun bertanya, "Rumah kamu di mana?"
Tak menjawab, Lydia langsung memberikan ponsel yang telah ia setting menggunakan aplikasi penunjuk arah.
Zein pun sama, ia pun enggan berbicara. Ia hanya fokus pada ponsel gadis galak itu. Tapi lama kelamaan Zein jadi penasaran dengan kondisi terkini gadis yang menciptakan suasana rumit ini.
"Bagaimana kabar adikmu?" tanya Zein pada gadis judes itu.
"Siang tadi sudah mulai membaik. Hanya belum sadar." Lydia kembali membuang pandangannya ke luar jendela.
"Baguslah, semoga dia segera membaik dan semoga saja bisa memberikan keterangan tentang apa yang sebenarnya terjadi," jawab Zein penuh harap.
Lydia diam sesaat. Ia tak tahu harus menjawab apa perihal itu. Sebenarnya ia tak ingin meributkan masalah ini. Ia hanya ingin adiknya kembali pulih dan orang yang menabrak sang adik bertanggung jawab, itu saja. Masalah siapa pelakunya, sebenarnya hati nurani Lydia mengatakan bahwa adik ipar dari pria yang ada di sampingnya ini, dia juga kurang yakin. Itu sebabnya, Lydia memilih diam.
"Apakah kamu udah dapat kabar terbaru soal penyelidikan itu?" tanya Zein.
Lydia menggeleng.
"Penyidik sudah menemukan fakta bahwa yang menabrak adikmu bukanlah iparku. Iparku murni yang menolong adikmu. Penyidik tidak menemukan indikasi bekas tabrakan di mobil yang dikendarai iparku. Harap kamu bisa menerima itu," ucap Zein tegas.
Entah ia mendengar apa tidak, gadis ini tak menjawab sepatah katapun. Gadis ini tetap fokus pada apa yang ia perhatikan sekarang.
"Kenapa kamu diam? Apakah kamu sudah menduga ini?" tanya Zein penasaran.
"Entahlah! sepertinya aku hanya ingin berlari dari semua ini. Pergi dan lenyap saja. Aku lelah!" jawab Lydia dengan suara melemah. Tidak tinggi dan sebarbar seperti biasanya.
Zein mengerutkan kening heran. Jawaban yang Lydia berikan, seakan menunjukkan bahwa gadis yang ada di sampingnya ini sedang putus asa terhadap sesuatu.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa sih? Ngaco aja!" balas Zein kesal.
Lydia kembali diam.
Zein melirik sekilas padanya. Penasaran. Ingin sekali bertanya dan memperjelas arti ucapan gadis itu. Hanya saja, Zein tidak mau dinilai lancang.
Setelah satu jam berkendara, akhirnya mereka pun sampai di tempat di mana Lydia tinggal. Namun, ketika Zein menghentikan mobilnya, buru-buru Lydia meminta Zein menginjak pedal gasnya.
"Makasih banyak, makasih banyak, turunkan aku di perempatan depan saja, Pak!" ucap Lydia gugup. Terlihat khawatir. Membuat Zein ikut tegang.
"Nggak nggak, kamu ini kenapa sih?" tanya Zein heran.
"Itu tadi ada mobil pria gila yang mau menikah denganku. Malas saja menemuinya," jawab Lydia jujur.
Zein tersenyum, rupanya itu yang membuat Lydia begitu ketakutan.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Lydia dengan sorot mata penuh amarah.
Gadis ini memang diam. Tetapi tatapan tidak suka begitu jelas ia perlihatkan.
"Sorry aku becanda," ucap Zein lembut.
"Tak apa! Kamu memang benar. Seharusnya tak ada seorang laki-laki pun mau mendekatiku. Bukan hanya karena aku galak atau tidak cantik, tapi aku juga mandul. Jadi kamu benar, sebaiknya jangan ada yang mendekatiku. Mereka yang berniat menikahiku pasti adalah pria bodoh yang tak tahu apa-apa," jawab Lydia sembari mengambil napas berat. Lalu mengembuskannya kasar.
Mendengar jawaban sang gadis, tentu saja rasa bersalah langsung hadir di diri Zein.
"Maafkan aku. Tadi niatku hanya bercanda. Maaf ya!" jawab Zein langsung ke mode formal.
"Sudah nggak apa-apa! Santai saja," jawab Lydia sembari bersiap-siap turun dari mobil Zein. "Turunkan aku di perempatan depan itu saja!" pinta Lydia. Sayangnya, Zein bukanlah pria yang setengah-setengah ketika menolong seseorang. Ia pun tetap melakukan kendaraannya.
"Aku mau turun di perempatan itu. Kenapa kamu lanjut saja?" ucap Lydia, kali ini sedikit ketus. Seperti kesal.
__ADS_1
"Aku udah terlanjur nolongin kamu. Kalo aku ninggalin kamu di perempatan itu, sama saja aku kasih kamu sama para pemabuk itu. Kamu mau diapa-apain sama mereka?" jawab Zein sembari menunjuk pada para pemuda yang lagi asik nongkrong sembari bermain gitar.
"Apakah mereka mabuk?" tanya Lydia lugu.
"Mungkin," jawab Zein singkat. Diliriknya gadis yang terlihat takut itu. Dalam hati Zein tertawa. Ternyata Lydia hanya galak diluar. Nyatanya ia begitu tenang ketika berada dalam situasi yang ia takuti. Tidak lebay seperti gadis-gadis yang Zein kenal. Sedangkan Lydia hanya diam dan memerhatikan para anak muda yang sedang asik dengan gitar mereka itu.
***
Di sisi lain, Vita yang saat ini sedang menemani Stella menyusui bayinya. Sedikit merasa sedih. Jujur ada ketakutan di dalam diri gadis ini.
"Kamu kenapa?" tanya Stella saat melihat wajah Vita berubah tegang.
"Haruskah aku menceritakan masalahku denganmu, Kak?" tanya Vita ragu.
Stella mengerutkan kening heran. Maniknya menatap teduh pada sang adik. Berharap gadis yang ada di hadapannya mau terbuka terhadap masalah yang kini membelenggunya.
"Jika kamu percaya pada Kakak, kenapa tidak? Katakanlah, apa yang membuatmu risau?" balas Stella.
Vita menundukkan wajahnya. Mencoba menguatkan hati yang saat ini sedang di serang dilema.
"Kakak tahu, Kan? Seminggu lagi aku dan Luis akan menikah." Vita mengangkat wajahnya dan menatap mata sang kakak.
"Ya, lalu? Apa masalahnya?" tanya Stella penasaran.
"Ternyata,oma Dena tidak menyetujui pernikahan kami, Kak." Vita kembali menatap mata Stella.
Tentu saja, apa yang diucapkan sang adik membuat Stella terkejut. "Kok bisa begitu? Bukankah beliau baik-baik saja ketika datang kepada kita?" Stella langsung menyamankan posisinya supaya lebih nyaman berbincang.
"Kakak benar, itu sebabnya kenapa Vita dilema. Bukankah pernikahan tanpa restu itu akan susah dijalani. Vita juga menyesal, kenapa tidak dari awal saja dia beliau menolak pernikahan ini. Kasihan Luis, Kak. Dia sudah terlanjur berharap pada pernikahan ini. Dia sudah terlanjur bahagia dengan pernikahan ini. Nyatanya, keluarganya malah memberikan syarat yang cukup berat bagi kami. Vita takut kak," ucap gadis berambut panjang ini. Untuk menyembunyikan rasa sedih yang ia rasakan, Vita hanya bisa menundukkan kepalanya. Fokus pada karpet yang menutupi lantai itu.
Sedangkan Stella sendiri masih menyusun kata untuk memperjelas apa yang sebenarnya terjadi. Agar dia sendiri nantinya tidak salah bicara. Seperti apa yang pernah ia lakukan ketika ia meminta Vita menjauhi Zein.
__ADS_1
Bersambung.....