
Safira dan Lutfi masih saling menatap. Membuat Laila yang saat ini berada di tengah-tengah mereka menjadi bingung.
Menurut Laila, kedua insan sungguh aneh. Kenapa tiba-tiba saja mereka saling diam dan saling menatap, seolah memberi kode tak jelas begitu.
"Hist, ada apa dengan kalian. Kenapa saling menatap begitu? Kalian musuhan?" tanya Laila, mencoba menebak isi pikiran kedua anak manusia aneh ini.
"Eh, nggak Ma. Kami baik-baik saja," jawab Safira. Terlihat rikuh dan salah tingkah.
"Oh, baiklah. Oiya, tadi kamu bilang ... pas mau dijahatin sama anak teman Mama itu, kamu ditolongin sama superhero. Superheronya siapa?" tanya Laila, karena dia sendiri juga tak menyangka bahwa yang menolong sang putri adalah pria yang saat ini sedang berdiri tegak di depan mereka.
"Apa sih, Ma? Mana ada Fira bilang ada superhero yang nolongin Fira. Mama salah denger kali!" sanggah Fira, malu. Spontan mata Safira langsung menatap ke arah Lutfi. Superhero yang sebenarnya sedang mereka bahas. Yang saat itu masih setia menunggu solusi tugas yang telah diberikan kepadanya.
"Ah, enggak ah. Tadi kamu bilang ada superhero yang nolongin kamu. Siapa ha? Siapa? Cewek apa cowok. Kalo cowok, kali aja bisa jadi mantu Mama," ucap Laila, sembari bercanda seperti biasa.
"Apaan sih, Ma? Nggak ada ah. Mama ngaco ah. Udah ah, Fira nggak jadi makan. Fira langsung berangkat ke butik aja. Mau nemenin Vita fitting baju. Bye!" jawab Safira seraya meraih kunci mobil dan tas tangannya.
__ADS_1
Laila hanya melongo heran dengan tingkah sang putri. Sedangkan Lutfi hanya diam, sesekali ia mencuri pandang ke arah wanita pemarah itu. Pun dengan Safira. Ketika mengambil barang-barangnya, ia juga masih menyempatkan diri mencuri pandang ke arah pria gagah itu.
"Eh, Fi. Menurutmu putriku aneh tak?" tanya Laila pada Lutfi. Karena di situ cuma ada Lutfi jadi dia pun bertanya pada pria tampan di depannya itu. Tak ada pilihan lain, hanya Lutfi lah yang saat ini tersedia, sebagai teman untuk berghibah ria.
"Maaf, Tan. Saya tidak tahu," jawab Lutfi singkat. Sebenarnya ia memang tak mau ikut campur urusan seseorang. Laki-laki sejati tidak ikut campur urusan yang bukan ramahnya. Mungkin itu yang saat ini ada di pikiran bapak satu anak ini.
"Oiya, kamu bener juga. Kamu kan nggak deket ama dia, mana mungkin kamu tahu tentang dia. Hah .... hari ini putriku memang aneh sekali. Tadi dia bilang mau ngadopsi bayi, terus cerita lagi, ada superhero yang nolongin dia. Tapi pas ada kamu, dia bilang nggak ada ngomong begitu. Anak itu maunya apa sih?" ucap Laila sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Lutfi masih diam. Masih bersikap sama. Tak mau ambil pusing dengan masalah yang sebenarnya melibatkan dirinya itu.
"Maaf, Tan. Bukan begitu. Saya kesini untuk mengambil obat milik om Laskar yang ketinggalan. Ini saya nungguin," jawab Lutfi, sesuai dengan perintah yang ia terima dari Laskar.
"Oh, kamu mau obat suamiku. Bilang kek dari tadi. Kan aku jadi nggak berprasangka buruk sama kamu. Aahhhh, kenapa hari anak-anakku bikin aku pusing. Safira aneh, Zein nggak telpon-telpon. Apa nggak kangen apa dia sama emaknya ini!" gerutu Laila sembari melangkah untuk mengambilkan obat yang dibutuhkan sang suami.
Lutfi sendiri hanya bisa mengelus dadanya. Aneh saja dengan perangai wanita paruh baya ini. Menggerutu tak jelas. Seakan semua orang bersalah padanya. Termasuk Lutfi yang tak tahu apa-apa ini.
__ADS_1
***
Di sisi lain, Safira merutuki dirinya sendiri. Mengecam kebodohannya karena begitu teledor, sampai ketahuan oleh seseorang yang diam-diam ia klaim sebagai superheronya.
Tentu saja, bermacam-macam ketakutan melanda. Ia takut jika Lutfi salah paham padanya. Menganggapnya suka padanya. Atau apalah, yang jelas saat ini Safira kurang nyaman dengan pria itu. Pria yang telah berani menyentuh hatinya.
"Bodoh! Kenapa mama nggak ngerem mulutnya. Bagaimana kalo Lutfi berpikir macam-macam tentangku. Matilah!" ucap Safira sambil terus berkonsentrasi pada jalanan yang ada di depannya.
"Ini semua gara-gara mama. Mama nggak bisa jaga rahasia sama sekali. Menyebalkan!" gerutu wanita cantik ini lagi.
Kali ini konsentrasi Safira pecah. Ia tidak menyadari jika ada mobil berkecepatan tinggi sedang sedang menyalip. Seketika Safira pun terkejut dan membanting stir ke kiri. Alhasil mobil Safira oleng dan memabrak pembatas jalan.
Kecelakaan tak terhindarkan. Bodi mobil bagian depan ringsek. Safira tak tahu lagi kejadian selanjutnya. Kepalanya serasa berat. Darah mengucur deras dari keningnya. Matanya nya berkunang-kunang. Lalu, gelap. Setelah itu Safira pingsan. Tak sadarkan diri.
Bersambung....
__ADS_1