
Juan membiarkan sang istri menangis. Menumpahkan segala gejolak yang melanda hatinya. Tetapi, pria ini tak mau pergi. Meskipun beberapa kali snag istri memintanya pergi. Ia tetap berniat untuk menemani sang istri melewati fase ini. Fase di mana Stella mau mengeluarkan apa yang ia rasakan. Ini adalah waktu langka. Biasanya, jika mengalami goncangan, Stella akan memilih diam. Melamun. Memendam sendiri masalahnya.
Namun, ketika bersama Juan, Stella dengan mudah mampu meluapkan segalanya. Entahlah, kenapa bisa begitu. Mungkin dia percaya, bahwa Juan bisa menenangkannya. Ia percaya kalau Juan tak akan membiarkannya bersedih. Apa lagi tenggelam dalam situasi seperti ini.
Seperti saat ini, Juan begitu sabar menghapus air matanya. Beberapa kali pria itu juga mencium pipinya.
"Kamu jahat, Juan!" ucap Stella.
"Maaf!" saut Juan kembali mengeratkan pelukannya.
"Aku membencimu!" Stella kembali mengeluarkan kekesalannya.
"Ya, aku tahu. Tapi aku mencintaimu istriku, sangat. Tolong ampuni aku. Maafkan aku, Sayang!" Juan kembali mencium pipi sang istri. Memperlakukan sang istri dengan sangat hati-hati.
Bukan hanya itu, pria tampan ini juga memeluk erat wanita yang sedang merajuk marah padanya. Berharap wanita ini lebih tenang.
"Aku kesulitan mengandung bayimu, dan kamu nggak datang-datang. Aku kerepotan menjaga kekasihmu ini, kamu juga nggak datang-datang! Kamu menjengkelkan Juan. Sebenarnya kamu ini kenapa? Kenapa nggak mencariku ha? Apakah aku tak berharga lagi bagimu?" tanya Stella kesal. Sedangkan Juan hanya bisa diam dan mendengarkan luapan emosi wanita cantik ini.
Kali ini, Juan malah tersenyum. Menurutnya Stella si wanita manja itu sudah kembali. Pertanda, hubungan mereka sudah bisa di perbaiki.
"Pokoknya mulai sekarang, Mami nggak akan kerepotan lagi. Papi nggak akan membiarkan Mami kerepotan lagi. Mami boleh minta tolong sama Papi. Apapun itu," ucap Juan menyakinkan.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Stella lugu.
"Heemm, tentu saja," jawab Juan.
Stella terdiam dari tangisan kekesalannya. Sikap dan kelembutan dang suami, nyatanya adalah obat penenang yang sangat mujarab. Padahal, jika boleh jujur, Stella masih ingin marah. Tetapi melihat wajah pria itu, rasanya tak bisa saja.
"Papi memang salah, Mam. Mami berhak marah. Mami berhak memaki. Tetapi Mami juga harus ingat, bahwa terkadang cobaan memang menghampiri hidup kita. Menghinggapi rumah tangga kita. Agar kita apa? Agar kita menjadi orang yang sabar. Jadi orang yang lebih baik. Mami ngerti kan maksud Papi?" tanya Juan sembari memainkan anak-anak rambut sang istri.
"Tapi Papi keterlaluan, Mami nggak bisa dibentak-bentak, Pi. Mami nggak mau diusir-usir." Stella melirik kesal ke arah sang suami.
"Iya, Papi menyadari itu. Papi menyadari bahwa Papi memang keterlaluan. Papi minta maaf ya, Mam. Mulai sekarang, Papi berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. Untuk kamu istriku, untuk anak-anak kita. Dan untuk cinta kita. Aku mencintaimu Stella, sangat. Jangan pergi lagi, aku mohon!" ucap Juan memohon.
Kali ini Juan tak mau main-main lagi. Baginya, apa yang ia rasakan, Stella harus tahu. Apa yang ia inginkan, Stella harus paham. Kali ini Juan benar-benar memaksa. Ia tak peduli. Yang ia inginkan hanyalah Stella dan hanya Stella.
Juan mengambil tangan Stella dan menepelkan telapak tangan itu tepat di dadanya bagian kiri. Lalu pria itu pun berkata, "Sejak aku mengikrarkan ijab qobul kita, saat itulah aku berjanji untuk menjadikanmu ratuku. Bidadari dunia akhiratku, Stella. Aku pernah terluka. Aku pernah kehilangan. Begitupun denganmu. Aku tahu aku tidak sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Aku janji," ucap Juan, terdengar lirih diakhir.
Namun, Stella bisa menangkap kesungguhan dari ucapan tersebut. Jujur Stella bangga, meskipun dirinya bukanlah cinta pertama dari seorang Juan Rhicard, tetapi menjadi cinta terakhirnya bukankah itu jauh lebih sempurna. Stella tersenyum malu. Sebab ini adalah impiannya. Bisa mendampingi pria tampan ini hingga maut memisahkan. Jika boleh sampai ke Jannah-Nya Allah.
"Apakah kamu ingin tahu sesuatu maminya anak-anakku?" tanya Juan lembut.
"Apa itu?" balas Stella.
__ADS_1
"Tentang, Impianku!" jawab Juan.
"Apa impianmu?" tanya Stella penasaran.
"Aku tidak ingin terlibat dengan banyak wanita. Tetapi aku ingin terlibat denganmu. Aku ingin terikat denganmu. Aku ingin berjalan beriringan denganmu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Hanya denganmu, Ste. Apakah boleh?" kali ini, Juan benar-benar serius. Ia tak ingin mundur lagi. Ia ingin mendengar langsung jawaban pertanyaan itu sekarang. Tidak besok, apa lagi nanti.
"Aku istrimu, Juan. Aku tak mungkin menolakmu," jawab Stella ringan.
"Bukan itu jawaban yang aku inginkan, Ste. Aku ingin kamu menjawabnya dengan hatimu. Dengan cintamu. Dengan kerelaan hati yang kamu miliki. Ikhlas!" jawab Jua dengan ekpresi mengemaskan. Tentu saja ekpresi itu sukses membuat Stella tertawa. Dan suasana romantis yang tercipta pun buyar dengan sendirinya.
"Aku serius, kenapa jadi tertawa?" tanya Juan aneh.
"Habis kamu lucu papinya Liana. Kita udah mau dua tahun lo berumah tangga, masak masih bahas beginian. Kan aneh kedengerannya," jawab Stella geli.
"Aneh ya? Di mana letak keanehannya?" Juan terlihat sedikit tersinggung.
Stella melirik suami sensitifnya ini.
"Bukan begitu maksudku, Juan. Bukankah cinta itu rasa. Aku yakin, tanpa kamu meminta. Tanpa kamu mengutarakan itu semua. Kamu pasti udah tahu jawaban dari hatiku, Juan. Aku memilihmu karena aku mencintaimu. Sungguh!" jawab Stella sembari menatap mata tampan itu.
Juan tersenyum, suasana romantis kembali terjalin. Kini, bukan hanya Juan yang tersenyum. Stella pun sama. Wanita cantik ini pun tersenyum dengan hati yang berbunga. Karena pada kenyataannya, masalah yang terjadi antara mereka hanyalah sebuah kesalahpahaman. Dan kini, semua sudah jelas, pada kenyataannya mereka saling mencintai dan saling membutuhkan.
__ADS_1
Bersambung....